Kiai Abdul Aziz Sukarto Pimpin Ngaji Shahih Bukhari Bersama Pengurus RMI PBNU di Tebuireng

Kiai Abdul Aziz Sukarto Pimpin Ngaji Shahih Bukhari Bersama Pengurus RMI PBNU di Tebuireng


Kiai Abdul Aziz Sukarto Faqih saat membacakan kitab Shahih Bukhari di masjid Pesantren Tebuireng bersama pengurus RMI PBNU dan parai kiai (foto: irsyad)

Tebuireng.online– Pondok Pesantren Tebuireng kembali menjadi pusat kegiatan keilmuan nasional. Pada Sabtu (12/7/2025), kegiatan bertajuk Nasyrus Sanad dan Musyawarah Transformasi Pesantren digelar oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU). Salah satu acara utama dalam kegiatan tersebut adalah Ngaji Kitab Shahih Bukhari yang dipimpin langsung oleh KH. Abdul Aziz Sukarto Faqih.

Ngaji Shahih Bukhari dilaksanakan di Masjid Pondok Pesantren Tebuireng dengan metode Sorogan, yakni metode tradisional yang mengutamakan pembacaan langsung oleh santri kepada guru. KH. Abdul Aziz membuka pengajian dengan pembacaan maqra’ pertama secara bandongan, kemudian dilanjutkan oleh para peserta secara sorogan.

Baca Juga: Kiai Zulfa Mustofa Tekankan Pentingnya Menjaga Tradisi Sanad Keilmuan dalam Dunia Pesantren

Sebelum memulai pengajian, KH. Abdul Aziz menyampaikan kisah sanad keilmuannya. Ia menuturkan bahwa dirinya memperoleh sanad kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim saat nyantri di Tebuireng dari KH. Syansuri Badawi, salah satu murid Hadratussyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Pesantren Tebuireng.

“Sanad tersebut saya dapatkan langsung dari KH. Syansuri Badawi yang kala itu menjabat sebagai Wakil Pengasuh Tebuireng pada masa kepemimpinan KH. Yusuf Hasyim,” ujar Kiai Abdul Aziz.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Kiai Syansuri Badawi dikenal sebagai salah satu santri pilihan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari yang meneruskan estafet keilmuan pesantren Tebuireng, khususnya dalam pengajian kitab-kitab induk seperti Shahih al-Bukhari karya Imam al-Bukhari (194–256 H) dan Shahih Muslim karya Imam Muslim (204–261 H).

Baca Juga: 

Dalam pengajiannya, KH. Abdul Aziz menekankan pentingnya metode sorogan dalam memperdalam ilmu keislaman. “Santri itu lebih cepat paham ketika membaca daripada hanya mendengar, karena langsung mempraktikkan ilmu nahwu, shorof, dan shiyagul kalam. Jika ingin mencetak qari’ atau ustadz yang kuat, maka bentuklah sistem ngaji dengan metode sorogan,” tuturnya.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam menguatkan kembali sanad keilmuan dan tradisi pengajaran pesantren, serta mempererat jaringan pesantren di bawah naungan RMI PBNU.



Pewarta: Fatih Maulana



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *