Garis Takdir yang Tak Direstui

Garis Takdir yang Tak Direstui


Ilustrasi relasi tak direstui (sumber: TirtoID)

Aku dan dia telah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu. Kami memiliki banyak kesamaan, dan aku merasa kami sangat cocok satu sama lain. Namun ada satu hal yang menjadi penghalang bagi kami untuk bersama, yaitu uang panai. Walau kami sudah berpacaran kurang lebih 10 tahun lamanya. Iya, 10 tahun. Aku tahu itu bukan waktu yang singkat. Bertahun-tahun aku mencoba meluluhkan hati orang tua Amanda, namun tak kunjung mendapatkan restu.

Keluarganya meminta uang panai yang sangat besar, dan aku tidak mampu membayarnya. Aku telah bekerja keras untuk menabung, tetapi jumlah yang kumiliki masih jauh dari yang diharapkan. Aku merasa sedih dan frustrasi karena cintaku terhalang oleh uang panai. Aku tidak ingin kehilangan dia, tetapi aku juga tidak ingin membebani keluarganya dengan biaya yang besar.

Dia juga merasa sedih dan tidak ingin kehilangan aku. Kami berdua telah mencoba mencari solusi, tetapi sepertinya tidak ada jalan keluar. Aku berharap cinta kami bisa mengatasi semua rintangan, termasuk uang panai. Aku ingin membuktikan bahwa cinta kami lebih kuat dari segalanya. Namun, apakah cinta kami cukup kuat untuk mengatasi semua rintangan? Hanya waktu yang akan menjawabnya.

***

Hari yang sangat aku nantikan pun tiba, ketika uang panai yang diminta keluarganya sudah mencukupi. Aku akhirnya datang ke rumahnya untuk menemui keluarganya sekali lagi. Dengan hati senang dan sedikit gugup, aku mulai membuka pembicaraan dengan keluarganya.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Ibu, Bapak, saya sudah mengumpulkan uang panai sesuai permintaan,” ungkapku tegas meski sedikit gugup.

“Heleh, kesenangan kau rupanya. Ini baru panai, belum mahar ya…” ucap ibunya Amanda dengan nada ketus sambil memalingkan wajah.

“Kami meminta mahar 200 juta rupiah. Besok juga harus ada uang itu di depan mata kami,” imbuh ibunya Amanda dengan nada yang sama ketus.

Hal itu membuatku sangat kaget, rasanya aku ingin pingsan. Kepalaku mulai pening dan nyut-nyutan. Bukan hanya aku, Amanda juga kaget.

“Ibu! Itu terlalu memberatkan Mas Candra. Mahar aku yang menentukan, bukan Ibu! Ibu keterlaluan banget sih sama Mas Candra!” suara Amanda bergema, seolah menahan tangisnya.

“Berani kamu menentang Ibumu!?” sahut ibu Amanda dengan nada tinggi.

“Ibu, Mas Candra datang jauh-jauh dengan niatan baik, tapi kenapa Ibu persulit dia seperti ini? Kami saling mencintai, Bu… tolong mengertilah,” ucap Amanda yang tak lagi bisa menahan air matanya.

“Ibu tidak mempersulit, dia saja yang tidak mampu mendapatkan kamu yang seorang dokter ini,” sahut ibu Amanda dengan nada menyindirku, yang membuat hatiku terluka.

***

Keadaan ini membuatku merasa bersalah, bersalah karena tidak bisa menepati janjiku kepada Amanda untuk meminangnya. Dengan nominal sebesar itu dan waktu yang sesingkat ini, rasanya itu hal yang mustahil bagiku. Apakah ini akhir dari kisah cintaku?

Aku akhirnya berpamitan untuk pulang. Dengan langkah sempoyongan dan tatapan linglung, aku memaksakan diri meninggalkan rumah Amanda. Perjalanan pulang terasa lebih jauh dari sebelumnya. Aku hanya ingin pulang dan memeluk ibuku, sekadar meminta maaf karena aku tidak akan bisa membawa Amanda sebagai menantunya.

Sesampainya di rumah, aku melihat ibu sedang duduk di sofa ruang tamu. Ia langsung menyambutku dengan bahagia, namun kebahagiaannya sirna ketika aku mulai meneteskan air mata di depannya.

Aku bersujud di kaki ibuku dengan kalimat maaf yang tak henti-hentinya kuucapkan.

“Bu… maaf aku gagal lagi kali ini, Bu…” ucapku dengan nada berat, air mataku mulai membasahi kaki ibuku.

“Sudahlah, Nak… Ibu tahu kamu sangat menyayanginya. Tapi percayalah, jika ini takdir yang terbaik untukmu yang dikasih Tuhan, kamu tak perlu khawatir, Nak. Pasti kamu akan mendapatkan yang lebih baik,” ucap Ibu dengan lembut sambil mengusap rambutku.

“Aku pengennya dia, Bu…” sahutku lirih.

“Kalau kamu masih ingin berusaha lagi, maka jangan menyerah. Ibu selalu mendukungmu. Tapi kalau ini sudah menyakitimu, Ibu mohon sudahi saja ya…” ucap Ibu menasihatiku.

Ibu langsung memelukku dengan erat. Pelukannya sangat menenangkan. Tanpa sadar, air mataku jatuh makin deras di pelukannya.

Ini sangat menyakitkan bagiku. Aku masih bersyukur di dunia ini aku masih memiliki seorang wanita yang kuat dan tangguh seperti Ibuku, yang selalu siap berdiri paling depan ketika aku sudah tidak sanggup dan kehilangan arah hidup.



Penulis: Ayu Amalia
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *