Yang Kupelihara Bukan Cinta | Tebuireng Online

Yang Kupelihara Bukan Cinta | Tebuireng Online


Ilustrasi perempuan dan lamunannya (ilustrasi: ai/ra)

Pertama kali aku bertemu dengan Wahyu, angin di puncak gunung itu terasa lebih lembut dari biasanya. Entah mengapa, setiap kali dia bicara, suaranya terdengar tenang, sederhana, tapi hangat. Aku masih ingat, dia cuma bilang,

“Pelan-pelan aja, Mbak. Hati-hati, biar nggak jatuh lagi.”

Sesederhana itu.

Dan entah bagaimana, dari kalimat singkat itu, aku, iya, aku mulai jatuh suka.

Padahal waktu itu, Hamim adalah laki-laki yang selalu siap membantu aku, yang sigap meminjamkan jaketnya, yang rela turun lebih dulu buat nyariin air, yang sigap menyiapkan makanan, dan membuatkan es buah tanpa buah naga dan melon karena aku nggak suka. Dia juga dengan baik hati membawakan semua barang-barangku pas turun dari pendakian.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hamim itu act of service, tipe laki-laki yang membuatmu merasa aman tanpa banyak bicara. Tapi entah mengapa, dan anehnya, bukan Hamim yang membuat jantungku bergetar hebat. Aku justru tersesat dalam tatapan Wahyu yang datar, yang jarang bicara, yang bahkan tak pernah benar-benar menatapku lama.

Sejak hari itu, lima bulan sudah berlalu. Lima bulan menunggu hal yang bahkan tak pernah dijanjikan dan tak akan pernah terucapkan. Lima bulan juga menulis tentang dia, dalam cerpen, dalam puisi, bahkan dalam doa yang kutulis dan kurangkai tiap malamnya. Semua hanya tentang dia. Tentang Wahyu semata. Tentang rasa yang belum terbalaskan hingga saat ini.

Kadang aku tertawa sendiri membaca ulang setiap tulisanku.

“Teruntuk Wahyu, yang mungkin tak akan pernah membaca.”

Lucu, ya? Aku sudah menulis puluhan kata hanya untuk seseorang yang bahkan tak tahu kalau dirinya jadi alasan aku menulis dan menggalau tiap harinya.

Aku pernah memberanikan diri untuk selalu memberi love pada setiap postingan dan story Instagram-nya, juga mencoba membuka pembicaraan dengan topik seadanya. Kala itu, aku bahkan mengirimkan cerpen ke grup Manusia Taat Beribadah, berharap dia membaca. Tapi ia hanya memberikan emoji api tanpa berkomentar apa pun.

Sementara Hamim bilang, “Bagus banget, kalimatnya ngena pol. Kayak seakan-akan itu kamu banget, tahu.”

Dan aku hanya bisa membalas, “Terima kasih, Mas Hamim.”

Padahal hatiku ingin teriak sekencang-kencangnya,

“Bukan kamu, Mas Hamimmmm! Tapi Mas Wahyu. Mas Wahyu yang aku mau!”

****

Waktu berjalan pelan tapi begitu menusuk sangat tajam. Setiap kali ada notifikasi story Instagram miliknya, aku berhenti sebentar, sekadar memastikan bahwa nama itu masih sama seperti biasanya: Armada Wahyu Zaffatra.

Aku tak tahu sejak kapan menunggu menjadi kebiasaan yang sangat kunikmati. Menunggu dia membaca, menunggu dia tersadar, menunggu dia peduli dan menoleh ke arahku.

Sampai akhirnya aku sadar:

Yang kupelihara bukanlah cinta, tapi sebuah luka yang selalu kubungkus dengan alibi bernama harapan akan datang.Malam itu aku duduk di depan layar, mengetik satu pesan panjang.
Tentang perasaan, tentang gunung, tentang semua hal yang kutahan lima bulan ini. Tapi sebelum menekan “kirim”, aku terhenti. Apa gunanya?

Dia kan tidak pernah benar-benar melihat.

Bahkan mungkin, aku hanya figuran sesaat dalam cerita hidupnya, sementara dia pemeran utama dalam setiap tulisanku.

Aku menutup laptop, membuka jendela kamar, membiarkan angin masuk. Hujan turun perlahan, seperti tahu aku sedang mencoba mengikhlaskan.

“Ya Allah,” bisikku pelan,

“Kalau memang bukan dia yang ditakdirkan, jangan biarkan aku sejauh ini menyimpan rasa itu hingga berkesan memaksamu, Ya Allah.”

Dan aku pun teringat kalimat dari satu teman perempuanku tentang Wahyu:
“Wahyu tuh emang gitu orangnya. Dia selalu berbuat baik sama siapa pun. Ya, istilahnya, dia akan mentreat siapa pun itu, meskipun kalian baru kenal. Jadi jangan gampang baper deh sama Wahyu, soalnya kayaknya Wahyu ya nggak ngerasa kalau dia baperin kamu.”

Aku menangis begitu lama malam itu. Bukan karena kehilangan seseorang, tapi karena akhirnya aku sadar, aku sudah terlalu lama memaksa diriku menunggu seseorang yang bahkan tak pernah menoleh ke arahku.

Keesokan harinya, aku hapus semua tulisan tentang Wahyu. Aku berniat untuk tidak lagi mengingat atau membahasnya. Satu-satunya puisi yang kubuat dengan sepenuh hati pun hilang di folderku. Jujur, bukan karena aku benci, tapi karena aku ingin benar-benar berhenti.

Aku pergi bukan karena sudah tidak cinta, tapi karena aku ingin mencintai diriku sendiri lebih dulu. Aku ingin kembali menulis, bukan untuk menarik perhatiannya, tapi untuk menyembuhkan hati yang terluka oleh harapan dan ekspektasi diri sendiri.

Di akhir catatan harianku malam itu, aku menulis:

“Aku sudah cukup mencintai dalam diam. Sekarang biarkan aku pergi, sebelum diam ini membunuh dan membawaku lebih jauh pada ketidakpastian yang pahit.”

Dan di antara suara hujan yang terus mengguyur bumi, aku tersenyum kecil. Pahit memang kisah cinta ini, tapi aku tidak bisa memaksa lagi. Sebab cinta sejati adalah cinta yang tidak harus memiliki. Kadang ia hanya perlu dikenang, sebagai bukti bahwa aku pernah jatuh sebegitu dalam tanpa pernah benar-benar digenggam.

Dan aku pun sadar, bahwa tidak denganmu juga, tidak apa-apa. Setidaknya aku sudah membicarakan semuanya pada Sang Maha Pemberi Rasa.

Semoga kau selalu kuat dan sehat dalam pekerjaan, karier, dan segala hal yang sedang kamu usahakan itu. Bersama atau tidak, doaku akan selalu menyertaimu di mana pun kamu berpijak.

Selamat berkelana. Semoga semesta selalu memberi bahagia padamu, padamu yang ternyata entah milik siapa nantinya.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *