Tas Impian Naina | Tebuireng Online

Tas Impian Naina | Tebuireng Online


Santri yang begitu rajin dan sederhana bersama tas ransel kesayangannya (ilustrasi: ai/albi)

Suasana pondok pagi itu terasa begitu tenang. Udara masih sejuk, embun menempel di dedaunan yang berjajar rapi di halaman. Dari masjid, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar merdu, dibaca oleh para santri yang sedang muroja’ah selepas Subuh. Suara mereka bersahutan, membentuk harmoni yang menenangkan hati. Di langit timur, matahari mulai menampakkan sinarnya perlahan, seakan menyapa setiap sudut pondok yang mulai ramai oleh aktivitas pagi.

Hai namaku Naina, aku baru saja merapikan mukena dan lipatan sajadah. Seperti biasa, setelah shalat Subuh berjamaah, kami diberi waktu untuk wirid, tilawah, atau menghafal pelajaran. Beberapa teman memilih membaca Al-Qur’an di teras asrama, ada juga yang duduk melingkar mengulang hafalan bersama ustadzah. Aku sendiri lebih suka duduk di dekat jendela kamar, membiarkan udara pagi masuk sambil menenangkan pikiran sebelum memulai hari.

Setelah pengumuman dari pengurus pondok terdengar melalui pengeras suara, semua santri mulai bergerak ke arah kamar masing-masing. Waktunya persiapan berangkat sekolah. Suasana asrama langsung berubah riuh. Suara lemari dibuka, krincing gantungan kunci, hingga teriakan kecil teman-teman yang saling meminjam ikat rambut atau jarum jilbab.

“Nai, kamu udah mandi belum?” suara Salsa, teman sekamarku, memecah konsentrasiku yang sedang menata buku pelajaran.

“Udah dong, habis Subuh tadi. Kamu belum ya?” jawabku sambil tersenyum.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Belum, tadi bantuin temen nyuci piring jatah piket dapur. Aduh dingin banget airnya,” keluhnya sambil mengusap lengan.

Aku terkekeh kecil. “Makanya, kalau bangun Subuh jangan kelamaan meringkuk.”

Beberapa saat kemudian, kami sudah berganti seragam sekolah rapi. Di lorong asrama, antrean panjang mulai terbentuk di depan dapur pondok. Semua menunggu jatah sarapan sederhana sebelum berangkat sekolah.

“Eh, hari ini sarapannya apa ya?” tanyaku pada Salsa saat kami ikut antre.

“Katanya bubur kacang ijo sama roti tawar,” jawabnya antusias.

Dari belakang antrean, terdengar suara teman lain, Aulia, menyahut, “Asal jangan buburnya encer kayak kemarin, ya. Rasanya kayak air gula aja.”

Kami semua tertawa kecil. Canda ringan seperti ini selalu jadi bumbu penyemangat di pagi hari. Setelah dapat jatah sarapan, kami duduk di bangku kayu panjang yang berjajar di samping dapur, menikmati bubur hangat sambil mengobrol santai tentang pelajaran hari ini.

Waktu menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat. Semua santri bergegas menuju gerbang, membawa tas masing-masing. Aku menggantungkan tas kain biru lusuh di bahuku. Meski sudah mulai pudar warnanya dan tali kanannya sering nyangkut, tas itu tetap kugunakan setiap hari.

“Nai, kapan sih kamu ganti tas? Itu kayaknya udah nemenin kamu sejak kelas satu ya?” celetuk Salsa sambil memperhatikan tasku.

Aku tersenyum tipis. “Iya, masih kuat kok. Lagian belum punya uang buat beli yang baru.”

Salsa mengangguk maklum. Kami pun berjalan berdampingan menuju kelas, diiringi kicau burung dan suara langkah puluhan santri yang penuh semangat menuntut ilmu.

Perjalanan menuju sekolah tidak terlalu jauh, hanya perlu melewati jalan setapak yang dipenuhi pepohonan rindang di kanan-kiri. Biasanya aku dan Salsa berjalan sambil bercanda atau mengulang hafalan, tapi pagi itu pikiranku terus melayang ke ucapan Salsa tadi.

“Nai, kapan sih kamu ganti tas? Itu kayaknya udah nemenin kamu sejak kelas satu ya?”

Kalimat itu terus terngiang di kepala. Aku tahu Salsa tidak bermaksud menyinggung, tapi entah mengapa dadaku terasa sesak. Mataku menatap tas lusuh di bahu kanan. Warnanya sudah benar-benar pudar, bagian ujungnya mulai terkelupas, dan tali kanannya sudah dijahit tiga kali.

“Apakah… aku salah kalau belum ganti tas?” gumamku dalam hati.

“Kenapa rasanya seperti aku berbeda dari yang lain?”

“Apa mereka juga berpikir aku aneh karena masih pakai tas ini?”

Aku melamun terlalu dalam hingga tak sadar ada batu kecil di jalan. Langkahku hampir tersandung. Untung Salsa sigap menyenggol lenganku.

“Nai! Eh, hati-hati dong!” serunya dengan nada kaget bercampur geli.

Aku terlonjak kecil. “Hah eh… iya, maaf. Tadi nggak lihat.”

“Ngapain sih melamun pagi-pagi gini? Mukamu kayak orang habis ujian gagal,” goda Salsa sambil tertawa.

Aku ikut tertawa kaku, berusaha menutupi pikiran yang barusan memenuhi kepala. “Nggak kok, Cuma… kepikiran aja.”

“Kepikiran apa? Jangan bilang soal pelajaran Matematika,” katanya sambil mengangkat alis.

Aku menggeleng pelan. “Bukan. Tadi waktu kamu ngomong soal tasku… aku jadi kepikiran. Emang kelihatan… aneh ya?” tanyaku hati-hati.

Salsa langsung berhenti berjalan dan menatapku. “Loh, Nai… aku nggak maksud ngatain, lho. Aku Cuma kaget aja tas itu masih awet banget. Kamu tuh termasuk hemat banget, tau?”

Aku tersenyum tipis, merasa sedikit lega. “Iya, aku tahu. Cuma kadang… aku mikir, semua orang udah ganti tas baru, aku doang yang masih pakai ini. Rasanya kayak… ketinggalan.”

Salsa menepuk pundakku pelan. “Hei, yang penting kamu masih bisa belajar, tas itu kuat, dan punya sejarah panjang, kan? Lagian tas bagus bukan jaminan nilai bagus juga,” katanya sambil terkekeh.

Aku pun ikut tertawa, meski dalam hati masih ada sedikit rasa tidak percaya diri. Tapi setidaknya, ucapan Salsa barusan menenangkan pikiranku sejenak. Kami kembali melangkah menuju sekolah, melewati gerbang pondok yang mulai dipenuhi barisan santri.

Setibanya di sekolah, semua santri langsung menuju kelas masing-masing. Suasana kelas pagi itu cukup ramai; suara gesekan kursi, buku yang dibuka, dan celotehan ringan terdengar di segala penjuru. Aku duduk di bangku paling depan, seperti biasa. Biasanya posisi itu membuatku fokus, tapi hari ini… entah kenapa pikiranku sulit sekali diajak bekerja sama.

Pelajaran dimulai. Suara ustadzah menjelaskan materi Matematika terdengar jelas, tapi semua kata-katanya seperti menguap begitu saja sebelum sempat tertangkap oleh otakku. Pandanganku kosong, menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat. Ucapan Salsa tadi pagi terus berputar di benakku, seperti lagu yang tak berhenti diputar ulang.

Kapan sih kamu ganti tas?

Aku memegang tali tas biru yang tergantung di samping kursi, mengusap bagian yang mulai berbulu karena sering tergores. Rasanya aneh… aku jadi terlalu memikirkan sesuatu yang sebelumnya tak pernah jadi beban.

“Kenapa aku jadi segini overthinkingnya…” gumamku pelan, nyaris tak terdengar.

Dari bangku tengah, Salsa beberapa kali melirik ke arahku. Mungkin dia menyadari perubahan ekspresiku yang biasanya ceria, kini terlihat murung dan jauh. Sesekali dia mengangkat alis seolah bertanya “kenapa?”, tapi aku hanya tersenyum tipis lalu kembali menunduk.

Pelajaran terus berlangsung, namun aku tetap melamun. Beberapa kali ustadzah memanggil nama teman-teman untuk menjawab soal, dan aku hanya bisa berharap namaku tidak disebut. Untungnya, sampai lonceng berbunyi tanda istirahat pertama, aku “selamat”.

Bersambung…



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *