
Kasur Bukan Tempat Pulang
Di kasur ini, kasur pondok yang tipis
aku terbaring lemah, menahan nyeri yang sunyi
tak ada tangan ibu yang memberi olesan minyak kayu putih
tak ada suara bapak yang menghibur meski gurauan kecil
di sini, semua akan jalani sendiri
air hangat kucari, obat pun ku minum sendiri
lalu keningku kuusap pelan
seolah tangan ini bisa menggantikan doa yang sedang di rumah
malam semakin menjadi
dan aku mengerti
sakit di rumah ke dua ini bukan sekedar tubuh yang lemah
tapi hati yang kian rindu hangatnya rumah
Aku Tak Mengapa Meski Sendiri
Kala itu aku pernah mengira mandiri itu akan selalu kuat
nyatanya, saat sakit itu datang menyapa
mandiri adalah pilihan paling sepi
tak ada yang mengupaskan bergurau dengan ku
tak ada yang memaksa makan meski tak selera
semua ku jalani sendiri, seorang diri
di antara tembok pondok yang dingin
selalu ada santri yang tetap belajar mengaji
menemani ku di kala sepi.
aku belajar sembuh dengan doa
belajar kuat dengan tetesan air mata
belajar ikhlas
bahwa rumah tak selalu ada
tapi doa ayah dan ibu selalu sampai
meski jarak memisahkan kita
Rindu yang Demam
Tubuhku panas, tapi rinduku lebih tinggi suhunya
aku ingin pulang
meski sekedar mencium bantal yang wanginya tak seberapa
atau mencicipi sayur kunci khas buatan ibu tercinta
namun, pondok memberikan ku pelajaran
bahwa sakit pun adalah bagian dari sebuah perjuangan
bahwa keringat yang jatuh di sela sakit
akan menjadi saksi di hadapan sang illahi
aku pun menangis, menahan rindu yang berkepanjangan
rindu rumah dengan segala kebahagiaan
aku menutup mata
menggenggam doa sambil menahan sesak
“ya allah, jaga orang tuaku di rumah
biar aku di sini kuat menahan rindu yang tak terarah.”
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

