Langkah Menuju Baitullah | Tebuireng Online

Langkah Menuju Baitullah | Tebuireng Online


Ilustrasi orang-orang di Baitullah (sumber: genmuslim)

Sejak ayahnya meninggal dunia ketika ia duduk di kelas dua SMP, hidup Fajar berubah. Ia hanya tinggal bersama ibunya di rumah sederhana di ujung kampung. Ibunya, seorang penjual gorengan keliling, bangun setiap pukul tiga dini hari untuk memasak dan mempersiapkan jualannya, membungkusnya, lalu menjajakan dari rumah ke rumah. Sementara itu, Fajar belajar menerima kenyataan bahwa masa depannya kini bergantung pada dirinya sendiri.

Meski begitu, di balik mata ibunya yang mulai tampak keriput, Fajar selalu menemukan cahaya keteguhan. Ibunya tidak pernah mengeluh, walau penghasilan pas-pasan, meski tubuhnya letih setiap hari. Ia sering mendapati ibunya duduk di sepertiga malam, menengadahkan tangan, melantunkan doa dalam bisikan. Ada satu doa yang paling sering ia dengar:

“Ya Allah, jika Engkau izinkan, hamba ingin sekali menatap Ka’bah, bersujud di hadapan-Mu di tanah suci.”

Doa itu menancap di hati Fajar. Sejak saat itu, ia berjanji dalam diam, ia akan mengantarkan ibunya ke Baitullah.

***

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Saat masuk SMA, Fajar mulai mencari cara. Ia tahu ibunya tidak mungkin mampu menabung dari hasil menjual gorengan. Maka ia mencoba membantu apa saja. Seusai sekolah, ia bekerja sebagai pengangkut barang di pasar. Kadang, ia membantu warung makan mencuci piring. Upahnya tak seberapa, lima ribu, sepuluh ribu, kadang hanya sebungkus nasi. Tapi Fajar tidak pernah mengeluh.

Ia menyiapkan sebuah kaleng biskuit bekas, yang ia sembunyikan di bawah dipan kamarnya. Setiap koin, setiap lembar lusuh yang ia dapat, masuk ke sana. Malam hari, sebelum tidur, ia buka kembali kaleng itu, menghitungnya, lalu berdoa:

“Ya Allah, ini untuk doa Ibu. Jangan biarkan aku berhenti di tengah jalan.”

Teman-temannya sering mengejek, karena ia tak pernah ikut nongkrong di kafe atau membeli sepatu bagus. Seragam sekolahnya pun masih sama sejak kelas satu, penuh tambalan. Namun, Fajar tidak peduli. Baginya, setiap rupiah yang ditabung adalah satu langkah menuju Tanah Suci.

Setelah lulus SMA, Fajar tidak langsung kuliah. Ia tahu, jika memaksa, ibunya akan semakin terbebani. Maka ia memilih bekerja serabutan. Pagi menjadi buruh bangunan, sore mengantar pesanan ojek online dengan sepeda motor pinjaman temannya, malam mengisi tenaga di warung angkringan.

Tubuhnya sering kelelahan, tetapi setiap kali melihat ibunya tidur dengan wajah damai, ia merasa punya energi baru. Kadang ia mendapati ibunya batuk di malam hari, lalu diam-diam menangis. Saat itulah tekadnya semakin keras: ia ingin ibunya merasakan kebahagiaan sebelum ajal menjemput.

***

Tahun demi tahun berlalu. Tabungannya makin penuh. Kaleng biskuit sudah tak cukup, diganti dengan celengan besar dari tanah liat, lalu akhirnya rekening bank sederhana. Tujuh tahun lamanya ia menahan diri. Tidak pernah membeli ponsel baru, tidak pernah bergaya seperti anak muda seumurannya.

Suatu sore, ketika matahari hampir tenggelam, Fajar pulang dengan wajah penuh cahaya. Ia membawa selembar kertas dari biro perjalanan. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan kepada ibunya.

“Ibu… ini tiket umrah untuk kita berdua.”

Ibunya terdiam. Matanya berkaca-kaca, tangannya bergetar ketika menerima kertas itu.

“Fajar… dari mana uangnya, Nak? Ibu tidak punya apa-apa…”

Fajar tersenyum sambil menahan tangis. “Tujuh tahun, Bu. Sejak SMA, Fajar menabung. Semua untuk doa Ibu yang setiap malam Fajar dengar. Kini saatnya Allah kabulkan.”

Air mata ibunya tumpah. Ia memeluk anak semata wayangnya itu erat-erat, seolah tak ingin melepas. Suara tangis keduanya bercampur dengan adzan maghrib yang berkumandang dari masjid kampung.

***

Beberapa bulan kemudian, mereka akhirnya menapakkan kaki di Bandara Jeddah. Saat melihat Ka’bah untuk pertama kalinya, ibu Fajar terisak hebat. Tubuhnya gemetar, tangannya bergetar menutup wajah.

“Allahu Akbar… Ya Allah, akhirnya Engkau izinkan hamba-Mu yang hina ini…”

Fajar menahan tangis. Ia genggam tangan ibunya, membimbing langkahnya dalam thawaf. Setiap putaran, ia merasakan doa ibunya menembus langit. Ia tahu, perjuangan bertahun-tahun tidak sia-sia.

Di depan Multazam, ibunya bersujud lama. Air matanya membasahi lantai Masjidil Haram. Fajar ikut bersujud, sambil berbisik dalam hati:

“Ya Allah, inilah doa yang selama ini Ibu panjatkan. Izinkan aku membalas setitik saja kasih sayangnya. Jangan Engkau cabut kebahagiaan ini dari hatinya.”

Ketika mereka kembali ke tanah air, kampung menyambut dengan hangat. Tetangga takjub mendengar kisah Fajar. Banyak yang berdecak kagum, karena di usia muda ia mampu mengumrohkan ibunya dengan jerih payah sendiri.

Namun, Fajar hanya tersenyum. Ia tidak merasa istimewa. Baginya, ini hanyalah bentuk bakti seorang anak kepada ibunya.

Suatu malam, selepas shalat Isya, ibunya berkata lirih:

“Fajar… terima kasih, Nak. Ibu tak pernah membayangkan bisa melihat Ka’bah dengan mata sendiri. Semoga Allah balas semua lelahmu.”

Fajar memegang tangan ibunya, tangan yang kasar karena puluhan tahun bekerja. “Jangan berterima kasih, Bu. Semua ini karena doa Ibu. Kalau tidak ada doa itu, Fajar tidak akan sekuat ini.”

Keduanya kembali berpelukan. Hening malam menyelimuti rumah sederhana mereka, tapi hati mereka penuh cahaya.

Fajar sadar, perjuangan belum selesai. Hidup masih panjang, tanggung jawab masih banyak. Tapi satu hal pasti: ia telah menunaikan janji yang ia simpan sejak remaja.

Ia berhasil membuktikan, meski seorang anak hanya hidup bersama ibu, meski ekonomi pas-pasan, dengan keteguhan, doa, dan cinta, segala yang mustahil bisa menjadi mungkin.

Melihat ibunya tersenyum di hadapan Ka’bah adalah kebahagiaan yang tak ternilai bagi Fajar. Itu bukan sekadar perjalanan umrah, tetapi perjalanan hati, dari seorang anak yang ingin membalas cinta seorang ibu, walau hanya setetes dibanding lautan kasih yang ia terima sejak lahir.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *