Surga Wisata yang Wajib Dikenal sebagai Negara 100% Muslim

Surga Wisata yang Wajib Dikenal sebagai Negara 100% Muslim


Ilustrasi Maldives yang berada di negara kepulauan di Samudera Hindia (sumber: timenews)

Nama Maldives atau Maladewa mungkin lebih akrab terdengar sebagai destinasi bulan madu idaman atau surga wisata kelas dunia. Pantai pasir putih, air laut jernih kebiruan dan resort terapung menjadi gambaran umum yang melekat di benak masyarakat global ketika menyebut negara ini. Namun, dibalik keindahan lanskap alamnya, Maldives menyimpan fakta penting yang seringkali terlupakan. Maldives adalah salah satu dari sedikit negara di dunia yang 100% penduduknya beragama Islam. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Islam bukan hanya agama mayoritas, tapi juga menjadi dasar hukum dan konstitusi negara. Sebagai Muslim, kita patut mengenal lebih dalam tentang negara kecil yang membuktikan bahwa Islam dan modernitas dapat berjalan berdampingan, bahkan di tengah industri pariwisata global yang liberal.

Maldives sendiri berada di negara kepulauan yang terletak di Samudera Hindia, sebelah barat daya Sri Lanka dan India. Terdiri dari lebih dari 1.200 pulau karang yang tersebar di 26 atol (pulau karang berbentuk lingkaran, biasanya di tengahnya terdapat danau atau laguna), Maldives memiliki populasi sekitar 500.000 jiwa. Sebelum Islam datang, masyarakat sana menganut berbagai kepercayaan, termasuk Buddha. Namun, Islam datang dan diterima secara damai pada 1153 M, dipelopori oleh seorang ulama asal Maroko, Abu al-Barakat al-Barbari, yang berhasil mengislamkan raja dan bangsawan setempat. Sejak saat itu, Islam menjadi identitas negara ini. Bahkan, hingga hari ini, konstitusi Maldives hanya mengakui warga negara Muslim, dan kepala negara wajib beragama Islam serta menjalankan ajaran Islam secara terang. Dalam Pasal 9 dari Konstitusi Maldives menyatakan bahwa, “Seorang non-Muslim tidak dapat menjadi warga negara Maladewa.”

Baca Juga: Perjalanan Wisata Rohani: Merenungkan dan Menikmati Kebesaran Ciptaan Allah 

Ini bukan dalam rangka diskriminasi, melainkan bentuk komitmen negara untuk menjaga identitas keislaman di tengah gempuran globalisasi dan pariwisata dunia. Selain itu, hukum-hukum nasional banyak mengadopsi prinsip-prinsip syariah, terutama dalam hukum keluarga, pernikahan, warisan, dan moralitas publik. Alkohol dan daging babi, misalnya, dilarang keras di wilayah penduduk lokal, meskipun di beberapa resort wisata ada pengecualian terbatas demi kebutuhan industri wisatawan asing– suatu kompromi yang masih menjadi perdebatan. Wanita Maldives umumnya memakai hijab, meskipun tidak ada kewajiban hukum formal. Namun nilai-nilai kesopanan, kehormatan keluarga, dan menjaga aurat tetap dipegang teguh dalam budaya masyarakatnya.

Maldives memiliki sistem pendidikan yang memasukkan pelajaran agama Islam sebagai mata pelajaran inti. Anak-anak diajarkan membaca al Quran, fiqih dasar, akidah, dan sejarah Nabi sejak usia dini. Pemerintah juga mendukung pengiriman mahasiswa ke negara-negara Islam seperti Mesir, Arab Saudi, Pakistan dan bahkan Indonesia untuk memperdalam ilmu keislaman. Selain sekolah umum, terdapat madrasah dan pusat kajian Islam di berbagai pulau, yang menjadi tempat mengaji dan belajar agama anak-anak dan remaja. Bahkan, Maldives memiliki Kementerian Urusan Islam (Ministry Islamic Affairs) yang mengatur seluruh urusan keagamaan nasional, termasuk pengawasan khutbah Jumat, Fatwah dan penyaluran zakat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Meskipun memiliki budaya unik sebagai negara kepulauan, masyarakat Maldives berhasil menggabungkan nilai-nilai lokal dengan ajaran Islam secara harmonis. Tradisi Maulid Nabi, peringatan Tahun Baru Islam dan Pengajian rutin menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Salah satu tradisi menarik adalah “Ramadhan di Maldives”. Seluruh negeri seakan berhenti sejenak untuk menyambut bulan suci. Waktu kerja disesuaikan, aktivitas sosial dan ibadah meningkat, dan masjid–masjid dipenuhi oleh jamaah shalat Tarawih. Di beberapa daerah, anak-anak juga diajak berpartisipasi dalam lomba hafalan dan kegiatan sosial berbasis Islam.

Sektor pariwisata menjadi sumber ekonomi utama Maldives. Sekitar 28% dari PDB (Produk Domestik Bruto) negara ini berasal dari industri wisata, dan lebih dari 70% ekspor jasa mereka berasal dari sektor ini. Dengan begitu banyak wisatawan asing dari berbagai latar belakang budaya dan agama, yang kemudian menjadi tantangan besar dalam menjadi identitas Islam di Maldives.  Beberapa resort menyediakan alkohol dan pakaian terbuka, namun terbatas hanya untuk wisatawan asing di pulau-pulau privat. Penduduk lokal tidak terlibat langsung dalam konsumsi atau pelanggaran hukum Islam. Bahkan, ada regulasi ketat bahwa pelabuhan, bandara dan pemukiman warga harus steril dari pelanggaran syariah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir Maldives mulai mengembangkann wisata halal dan islami.

Beberapa resort kini menyediakan layanan bebas alkohol, kolam renang privat, makanan halal, serta jadwal sholat dan mushola yang tersedia bagi wisatawan Muslim. Ini merupakan upaya menyeimbangkan antara ekonomi dan akidah. Meskipun kecil, Maldives adalah anggota aktif Organisasi Kerja  Sama Islam (OKI). Dalam berbagai forum internasional, Maldives menyuarakan dukungan terhadap isu Palestina, penindasan Muslim di India dan konflik etnis Rohingya. Mereka juga mendukung kerja sama pendidikan dan keagamaan antara negara Muslim. Yang menarik, dalam beberapa dekade terakhir Maldives sering dijadikan lokasi konferensi Islam berskala internasional, terutama yang berkaitan dengan Islam dan lingkungan hidup, mengingat negara ini sangat rentang terhadap perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut.

Baca Juga: Membaca Masa Depan Wisata Halal di Indonesia

Dari Maldives kita bisa belajar bahwa Islam bukan hambatan kemajuan,modernitas atau keterbukaan terhadap dunia. Justru nilai-nilai Islam dapat menjadi fondasi kuat dalam membentuk masyarakat yang sehat, disiplin dan bermoral, meskipun harus berinteraksi dengan dunia luar yang sangat liberal. Di tengah tantangan globalisasi dan pariwisata, Maldives tetap menjaga identitas keislamannya, tanpa merasa harus menanggalkan prinsip agama demi ekonomi. mereka membuktikan bahwa Islam hadir dengan wajah ramah, bersahabat dan adaptif tanpa kehilangan akarnya.

Maldives bukan sekedar destinasi wisata eksotis. Di balik keindahan pantainya, negeri kecil ini adalah simbol kekuatan Islam yang lembut dan tangguh. Ia memberi pelajaran penting bahwa negara Muslim bisa eksis, modern, terbuka dan tetap setia dengan nilai-nilai al Qur’an dan Sunnah. Sudah saatnya kita memandang  Maldives bukan hanya dari sisi wisatanya, tetapi dari nilai keislaman yang dijaga secara konstitusional dan kultural. Untuk generasi muda Muslim Indonesia, mengenal Maldives berarti belajar tentang Islam yang membumi, menyatu dengan alam dan tetap berdiri tegar di tengah tantangan global.



Penulis: Anik Wulansari, M.Med.Kom



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *