
Konon sebelum dilahirkan umat manusia sudah ditanyai apakah mau dilahirkan atau tidak? Namun tidak jarang yang terlahir dan tumbuh dewasa pun dalam fase hidupnya pernah punya pikiran untuk mengakhiri hidup. Tuntutan dan ekspektasi sosial selalu terasa menyakitkan, apalagi kalau kamu adalah pribadi yang berbeda dari manusia kebanyakan.
Ini adalah kisah Ale, seorang karyawan kantoran di tengah kota yang telah membulatkan tekadnya untuk bunuh diri lantaran meresa telah dikhiati hidup. Pagi itu ia sudah siap untuk bunuh diri seusai merayakan ulang tahunnya yang ke-37 tahun dengan rasa kesepian di kamar apartemennya. Namun, saat ia menunggu waktu yang telah dia tentukan untuk menenggak sebotol obat yang akan dia tenggak sekaligus, tiba-tiba ia merasa lapar. Seporsi mie ayam yang biasa ia santap sebagai sarapan sebelum berangkat kantor terbayang dalam benaknya. Bahkan, saat ingin mati pun ia ingin mati dengan rasa kenyang oleh mie ayam terenak yang pernah dia makan.
Demi makan mie ayam itu, ia mengulur waktu dan memutuskan untuk menghampiri penjual mie ayam langganannya. Tak disangka penjual mie ayam itu tidak berjualan dan gerobaknya masih ditutup terpal. Ia sempat merasa putus asa, sebelum akhirnya secercah harapan datang saat orang asing datang membawa gerobak penjual mie ayam langganannya pergi.
Dari orang asing itu juga Ale bisa tahu alamat penjual mi ayam yang paling dia suka. Ia pergi ke rumah penjual mi ayam itu, setidaknya ia bisa minta dibuatkan mi ayam di rumahnya. Tapi, kemudian Ale tahu bahwa tukang mie ayam langganannya telah meninggal dunia. Padahal dia sudah sangat berharap, pilihan mendatangi rumah penjual mie ayam itu akan membuat harapan terakhirnya sebelum mati terpenuhi. Sayangnya, bagi Ale, tanpaknya tuhan sedang ingin bercanda dengannya. Ale yang hari itu ingin bunuh diri tiba-tiba harus turut membantu proses pemakaman penjual mie ayam langganannya.
Sejak hari itu, dunianya tak lagi sama karena seporsi mie ayam sebelum bunuh diri. Peristiwa tak terduga terus terjadi sepulang dari rumah penjual mie ayam. Mendadak dia harus dijebloskan ke dalam penjara hanya karena ingin membeli rokok. Dari situlah sudut pandangnya mengenai hidup mulai berubah. Dalam prosesnya dia harus dipukul berulang kali oleh seorang bandar narkoba bernama Murad. Tak berhenti di situ, setelah keluar penjara Ale kemudian menjadi orang yang istimewa bagi Murad. Dia selalu diajak ke mana pun Murad pergi, entah menagih utang hingga ke kelab malam yang juga tempat bagi pekerja tunasusila. Tempat di mana orang-orang yang tak dia duga bisa memanusiakan dirinya.

Tanpa disangka, saat dia mencari udara segar keluar dari ingar bingar kelab, dia bertemu dengan Ipul yang merupakan OB di kantor tempatnya bekerja. Mengetahui Ale datang bersama Murad, Ipul yang panik membawa Ale pergi dari kelab dan membawanya pulang. Dari Ipul pulalah Ale tahu bahwa ada banyak orang di kantor tempatnya bekerja sedang mencari dirinya.
Ini tidak hanya tentang seporsi mie ayam, namun juga hal-hal yang kerab kali terlewatkan oleh mata dan hati meski itu teramat dekat. Seperti kata petikan dalam buku ini, “terkadang kamu justru bisa menemukan harta karun di tampat yang tidak pernah kamu sangka-sangka sebelumnya.” Realitas dalam hidup memang penuh sekali dengan kejutan. Seperti halnya perjalanan Ale selama tiga minggu yang tanpa sengaja keluar dari rutinitasnya menjadi pegawai kantoran biasa, menuntunnya menjadi pribadi yang berbeda.
Buku ini adalah buku yang hangat bagi mereka yang kesepian dan merasa tidak lagi punya harapan dalam hidup. Ceritanya bergulir begitu lembut namun sedikit mencubit jiwa yang sedang berada di fase cukup carut marut. Ada banyak sekali paragraf yang menjabarkan soal filosofi hidup dan penggalan kalimat yang akan berguna sebagai pengingat diri. Meski di bagian sebelum akhir cerita, dialog yang disajikan terasa sedikit menggurui.
Kita terlalu sering menyalahkan hidup atas apa yang tidak berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan. Nyatanya untuk menyadari bahwa kehidupan tak selalu buruk adalah dengan mengubah sudut pandang kita dalam menilai apa yang terjadi dalam hidup.
Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis: Brian Khrisna
Penerbit: Grasindo
Tahun terbit: 2025
Jumlah halaman: 216
Peresensi: Karra Abhel
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

