
Hari itu adalah hari yang paling membanggakan bagiku. Aku terpilih menjadi moderator dalam acara Workshop and Public Speaking, dan itu adalah pertama kalinya aku memegang mikrofon serta berperan sebagai moderator. Aku sangat bahagia. Acara ini merupakan kegiatan dari Fakultas Pendidikan dan wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa semester empat.
Sebelum acara dimulai, aku memasuki ruang kelas yang memang disediakan khusus untuk panitia acara. Aku ingin menemui temanku, sahabatku sejak di bangku SMA. Namanya Layyina. Saat mataku menelusuri ruangan, ternyata ia sedang duduk di sebelah pintu dekat jendela, berbincang berdua dengan seorang laki-laki yang belum pernah aku kenal sebelumnya.
“Sini, Yuna. Aku lagi ngobrol sama partner-ku, bagian media,” ujar Layyina.
Aku langsung bergabung bersama mereka, mendengarkan percakapan mereka meskipun hanya sedikit yang kupahami. Aku sedang berusaha menenangkan diri untuk tampil menjadi moderator nanti. Rasanya campur aduk, takut gagal, tapi aku harus berani karena ini kesempatan pertamaku. Sesekali aku menimpali obrolan mereka agar suasana tidak terlalu kaku, sekaligus agar aku tampak lebih akrab dan menambah relasi. Aku juga sempat memperkenalkan diri. Untuk menghibur diri, aku berfoto mirror selfie dan mengunggahnya di story WhatsApp. Hehehe.
Tak lama kemudian, laki-laki itu keluar. Tinggallah aku dan Layyina.

“Siapa nama anak itu ya? Kok aku merasa asing,” tanyaku penasaran.
“Itu namanya Akmal. Dia anak media, dari Prodi Pendidikan Kimia,” jelas Layyina.
Oh, jadi namanya Akmal, batinku.
“Akmal ganteng ya? Gas, Yun,” celetuk Layyina sambil tersenyum jahil.
“Iya, ganteng juga dia. Tinggi lagi. Emang dia belum punya pacar? Mukanya playboy banget, hahaha,” ujarku sambil tertawa kecil, mencoba menghilangkan kegugupan sebelum tampil.
Padahal dalam hati aku sangat gugup. Sepuluh menit lagi aku harus naik ke panggung. Ditambah lagi, pulpennya hilang! Aku sibuk mencarinya ke sana kemari, hingga akhirnya keluar kelas. Ternyata, pulpenku dipakai oleh Akmal.
“Eh, ini pulpen kamu ya, Yuna? Aku tadi pinjam. Maaf ya,” katanya dengan suara tegas tapi terdengar lembut.
“Iya, makasih ya, Akmal,” jawabku sambil tersenyum kecil dan segera berlari menuju ruang auditorium.
Hufh, untung saja acaranya belum dimulai, batinku lega. Setelah memastikan semuanya siap, aku kembali ke ruang kelas dan menemui Layyina lagi, tentu saja bersama Akmal.
“Gimana ini? Aku deg-degan banget. Bisa nggak ya?” ujarku cemas.
“Bisa, bisa! Kamu kan udah terbiasa bersahabat sama mic, Yun,” ujar Layyina sambil tertawa.
“Iya, bisa kok. Bismillah. Semangat ya, Yuna,” Akmal pun ikut menyemangatiku.
Acara pun dimulai, dan alhamdulillah berjalan dengan lancar.
Di akhir acara, aku ingin sekali berfoto dengan pemateri. Saat itu aku melihat Akmal sedang memegang kamera.
“Akmal, tolong fotoin aku ya!” seruku dari kejauhan, karena suasana cukup padat oleh mahasiswa lain yang juga ingin berfoto bersama narasumber.
“Oke, Yuna,” jawab Akmal singkat.
Aku segera berpose. Setelah selesai, aku menghampiri Akmal untuk melihat hasil fotonya.
“Ihh, kok dikit banget ya fotoku,” gumamku pelan.
“Masih mending kamu ada fotonya, aku aja nggak sempat foto sama sekali,” ujar Akmal sambil tersenyum kecil.
Aku terdiam. Iya juga, pikirku. Memang benar ucapannya.
****
Beberapa bulan berlalu…
Di halaman kampus, Fatma, temanku, tiba-tiba menunjuk seseorang sambil berseru,
“Yuna, itu loh pacarnya Akmal!” katanya dengan nada heboh.
Aku menoleh. Terlihat Akmal berjalan berdampingan dengan seorang perempuan. Mereka tampak serasi. Sesaat, mata kami sempat beradu pandang selama beberapa detik, sebelum akhirnya berpaling.
Oh… ternyata benar sudah punya pacar, batinku. Ada sedikit rasa kecewa yang tumbuh tanpa izin.
“Masak sih itu pacarnya? Nggak percaya aku,” ujarku sambil terus memperhatikan mereka berjalan. Entah kenapa, aku belum puas dan sulit percaya kalau perempuan itu benar pacarnya Akmal. Tapi ya, it’s okay. Tidak semua orang menilai dari fisik, kan? Mungkin Akmal memilihnya karena kecerdasan emosionalnya baik, atau karena ia memang pintar.
“Yahhh, Yuna kecewa… cieee, ada yang cemburu nih,” goda Layyina sambil tertawa.
“Siapa juga yang cemburu? Ih, kayak nggak ada cowok lain aja,” jawabku pura-pura cuek. Padahal, jujur saja, aku masih sedikit memikirkannya dan belum bisa percaya bahwa perempuan itu benar pacarnya Akmal.
Sejak kejadian itu, aku sudah lama tidak melihat Akmal lagi.
Ketika memasuki semester lima, fakultas kami melaksanakan Program Kerja Lapangan (PKL). Seluruh prodi di bawah Fakultas Pendidikan dicampur menjadi beberapa kelompok untuk diterjunkan langsung ke lembaga sekolah.
Aku sudah lama berdoa agar mendapat kelompok terbaik, yang solid, kompak, dan penuh semangat.
Namun, saat pengumuman kelompok keluar, aku tak menemukan namaku di daftar mana pun. Seketika panik. Aku bolak-balik mengecek daftar nama yang ditempel di papan.
“Kok namaku nggak ada, ya?” ujarku panik.
“Kamu di kelompok 1, Yuna! Kamu beruntung banget, dosen pembimbing lapanganmu itu dosen kesayangan kelasku. Selamat ya, aku pengin banget sepertimu,” kata Zahra, teman satu organisasiku.
Aku menelusuri daftar nama anggota kelompok 1 itu satu per satu. Sampai akhirnya…
Akmal Ahmad Fauzan.
Mataku berhenti di nama itu. Ternyata aku sekelompok dengan Akmal.
“Gimana rasanya, Yun?” tanya Fatma saat tahu aku sekelompok dengan Akmal.
“Biasa aja,” jawabku ringan. Aku mencoba menenangkan diri. Aku tahu dan paham bahwa ia sudah memiliki pacar.
Satu bulan berlalu sejak PKL dimulai. Dalam waktu itu, aku semakin banyak mengenal Akmal. Cara berpikirnya, selera humornya, bahkan kisah cintanya, yang ternyata ada kaitannya dengan salah satu temanku.
Akhir-akhir ini aku dan Akmal memang cukup dekat. Tapi hanya sebatas teman.
Meskipun, jauh di dalam hati… ada sesuatu yang lebih dari sekadar teman. Namun, aku memilih untuk menyelaraskan logika dan perasaanku. Karena aku tahu, tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

