
Terdapat sebuah kutipan yang sangat indah dalam buku Bilik-Bilik Pesantren, yang ditulis oleh Nurcholis Madjid, yang berbunyi;
“Seandaianya negeri kita ini tidak mengalami penjajahan, mungkin pertumbuhan sistem pendidikannya akan mengikuti jalur-jalur yang ditempuh oleh pesantren-pesantren itu. Sehingga perguruan-perguruan tinggi yang ada sekarang ini tidak akan berupa UI, ITB, IPB, UGM, UNAIR, atau pun yang lain, tetapi mungkin namanya “universitas” Tremas, Krapyak, Tebuireng, Bangkalan, Lasem, dan seterusnya. Kemungkinan ini bisa kita tarik setelah melihat dan membandingkan secara kasar dengan pertembuhan sistem pendidikan di negeri-negeri Barat sendiri, dimana hampir semua universitas terkenal cikal-bakalnya adalah perguruan -perguruan yang semula berorientasi keagamaan.” (hal.3-4)
Baca Juga: Menyikapi Isu Seputar Insiden Pesantren dengan Nalar dan Nurani
Ketika kita membicarakan pesantren, secara tidak langsung kita juga membicarakan sejarah Bangsa Indonesia yang sangat panjang. Hal tersebut beralaskan pesantren yang ada di Indonesia, telah lahir jauh sebelum Indonesia merdeka. Hal ini tidak bisa luput atau bahkan dilupakan begitu saja, karena di saat Bangsa Indonesia mengalami penjajahan yang berkepanjangan dan berakhir segala akses dibatasi, salah satunya akses pendidika, pesantren justru hadir dengan tanpa bantuan pemerintah atau negara memberikan akses gratis pendidikan kepada masyarakat secara luas.
Tak berhenti pada aspek pendidikan saja, pesantren juga turut aktif dalam perjalanan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, dan turut mengusir para penjajah. Mereka para warga pesantren rela bertumpah darah demi memperjuangkan kesatuan republik Indonesia, yang mana mereka tidak sama sekali dibayar oleh negara.

Namun sekali lagi, santri, kiai dan pesantren nyatanya tidak perlu panggung pengakuan. Mereka hanya melakukan salah satu panggilan syariah untuk cinta dan membela tanah air. Hingga untuk urusan panggung, kalangan pesantren menyerahkannya kepada mekanisme sejarah bangsa dalam memperlakukan para pendahulunya.
Mengapa Pesantren Masih Eksis?
Rasanya tidak pas, takala membicarakan pesantren hanya melihat sejarah panjangnya saja, sejarah masa lalunya. Tetapi takala mengdiskusikan pesantren, kita juga harus berbicara mengenai bagaimana sebuah Lembaga Pendidikan islam yang ratusan tahun berdiri masih eksis dan masih diminati oleh banyak kalangan? Sehingga dari sinilah muncul pertayaan, yang mendasar. Apa yang daya tarik pesantren di tengah arus moderisasi ini? Apa yang mereka tawarkan pada masyrakat baru ini? Dan apakah masih dapat bersaing kurikulum dan Pendidikan pesantren dengan Pendidikan di luar sana?
Baca Juga: Transformasi di Balik Tembok Pesantren
Guna menjawab pertayan-pertayaan di atas, masyarakat pesantren yang terdiri oleh santri dan kyai, senantiasa menggunakan sebuah qoidah fiqh yang sangat mendasar yakni “Al-muhafadzah ‘alal qadimish shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah.” Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Ungkapan ini sangat mudah ditemui di banyak pesantren di Indonesia, yang mana untuk tetap menjaga eksitensi mereka, para masyarakat pesantren sejatinya tidak pernah anti terhadap pembaharuan selagi itu baik. Karena pada hakikatnya, pesantren harus bisa menyimbangi segala perubahan sosial zaman, takala masih ingin bertahan.
Nurcholis Madjid, menungkapkan bahwa moderitas, memang diperkenankan masuk ke dalam pesantren guna menjawab segala tuntunan zaman ke zaman. Tetapi ada yang perlu diketahui bahwa sebetulnya nilai-nilai modern itu sifatnya adalah universal, berbeda dengan nilai-nilai barat yang local atau regional saja. Maka dari itu, yang menjadi arus bawah dari peradaban modern adalah sesuatu yang bersifat universal, yaitu ilmu pengetahuan dan teknologi. (hal.95)
Hari ini, hampir ditemui di banyak pesantren yang mana mereka telah memasukan kurikulum Pendidikan yang bersifat umum, tidak hanya terpaku pada Pendidikan agama saja. Hal ini juga diperkuat dengan adanya beberapa pesantren yang justru menggunakan kurikulum dari Kementrian Pendidika, yang mana skala porsi muatannya sama dengan kurikulum Pendidikan di sekolah umum. Penggunaan kurikulum yang terafliansi dengan kementrian, mengisyratkan bahwa pesantren tidak pernah menutup diri untuk melakukan pembaharuan.
Judul: Bilik-bilik Pesantren – Sebuah Potret Perjalanan
Penulis: Nurcholis Madjid
Penerbit: Dian Rakyat
ISBN: 979-523-994-5
Peresensi: Dimas Setyawan Saputro
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

