
Ketika santri lain sibuk mengemas buku, ijazah, dan rencana masa depan yang mengkilap, Rijal hanya membawa kitab kuning usang, sarung batik, dan secuil tekad untuk pulang. Ia bukan tipe yang bermimpi jadi orang kota. Ia percaya: kaki yang pulang ke tanah kelahiran akan menemukan jalannya sendiri.
Jalan desa menyambutnya dengan debu dan genangan. Sawah terbentang, sebagian sudah digadai ke tengkulak, sebagian lagi menunggu digarap. Rumahnya sederhana: papan kayu, dinding anyaman bambu, dengan pekarangan yang ditumbuhi pohon kelapa.
Langgar kecil di samping rumah, peninggalan almarhum kakeknya, jadi ruang pertama yang ia isi. Atapnya bocor, lantainya miring, tapi setiap sore anak-anak datang dengan iqra’ lusuh. Mereka duduk bersila, sebagian sambil menguap, sebagian masih kotor kakinya habis main di sungai. Rijal mengajar dengan sabar. Kadang ia menyelipkan cerita tentang Nabi-Nabi, kadang ia bercanda soal ayam yang selalu ikut nimbrung mengaji.
Pelan-pelan, warga mulai merasakan kehadirannya. Ia bukan sekadar guru ngaji, tapi juga teman ngobrol. Pagi harinya, Rijal ikut turun ke sawah. Tangannya kotor lumpur, punggungnya basah keringat, tapi wajahnya tenang.
“Ngaji jangan cuma di langgar,” katanya pada seorang bapak tua, “ngaji juga di sawah. Tanah ini merupakan anugrah dari Allah yang terhampar. Kalau dijaga, kita dapat berkah. Kalau dirusak, kita yang rugi.”

Perkataannya sederhana, tapi membekas. Orang kampung yang biasanya pasrah mulai bertanya: bagaimana kalau perusahaan tambang benar-benar masuk? Bagaimana kalau tanah harus dilepas? Mereka tidak datang ke kantor desa, tapi ke rumah Rijal.
***
Suatu sore, beberapa orang berkumpul di serambi rumahnya. Ada Pak Surya, petani yang sudah tergoda menjual tanah karena utang. Ada Bu Marni, janda yang lahannya jadi satu-satunya sumber nafkah. Dan ada juga pemuda desa yang baru pulang dari merantau, membawa kabar bahwa perusahaan tambang sudah siap memulai proyek, hanya menunggu warga tanda tangan.
“Kiai,” kata Pak Surya, meski Rijal selalu menolak dipanggil begitu, “tanah saya sempit. Utang menumpuk. Kalau saya jual, anak-anak bisa sekolah. Apa salahnya?”
Rijal diam lama. Angin sore membawa bau lumpur dari sawah. “Saya tidak berhak melarang, Pak. Tapi coba pikir: tanah itu bisa ditanami setiap musim, memberi makan anak-anakmu sampai cucu nanti. Kalau dijual, sekali habis, habis selamanya. Sekolah anak-anak memang penting. Tapi makan mereka juga penting. Dan tanah adalah jaminan mereka bisa makan.”
Bu Marni menunduk, matanya berkaca-kaca. “Tapi perusahaan menjanjikan rumah permanen. Kami ini capek, Kiai. Hidup selalu pas-pasan.”
Rijal menatapnya lembut. “Rumah permanen tak ada artinya kalau air sungai jadi kering. Apa kita rela tukar tembok dengan air mata anak cucu kita nanti?”
Suasana hening. Semua termenung.
Dari hari ke hari, semakin banyak warga datang. Mereka tidak selalu minta fatwa hukum, tapi lebih pada mencari ketenangan. Rijal tidak pernah mengklaim dirinya punya semua jawaban. Ia hanya mengulang: tanah dan air adalah titipan. Kalau hilang, bukan hanya harta yang musnah, tapi juga masa depan
***
Suatu malam, perwakilan perusahaan benar-benar datang ke desa. Mereka membawa mobil hitam, jas rapi, kata-kata manis. Kepala desa menyambut, mencoba meyakinkan warga bahwa tambang akan membawa kesejahteraan. Rijal ikut duduk di pertemuan, tidak bersorban, hanya berpeci dan sarung biasa.
Seorang dari perusahaan berkata, “Kami akan bangun jalan baru, sekolah baru, dan lapangan pekerjaan. Desa ini akan maju. Apa yang kalian takutkan?”
Rijal tersenyum tipis. “Kalau boleh saya bertanya, Pak. Jalan baru itu untuk siapa? Sekolah baru itu anak siapa yang akan belajar? Dan lapangan pekerjaan itu, siapa yang jamin anak-anak kami diterima? Bukankah yang sering terjadi, warga hanya jadi penonton, sementara keuntungan mengalir perusahaan Anda?”
Ruangan sunyi. Orang-orang desa saling pandang. Kepala desa terbatuk, berusaha mengalihkan pembicaraan. Tapi warga sudah mendengar. Kata-kata Rijal menancap lebih dalam daripada brosur dan janji-janji.
Malam itu, keputusan tidak diambil. Perusahaan pulang dengan wajah masam. Esok harinya, kabar menyebar: proyek ditunda karena “situasi desa belum kondusif.”
Rijal tidak merasa menang. Baginya, ini hanya jeda. “Mereka bisa kembali kapan saja,” katanya pada petani di saung pinggir sawah, “dan saat itu kita harus lebih siap.”
Ia terus menanam padi. Ia terus mengajar ngaji. Kadang ia dipanggil warga ke sawah untuk memimpin doa setalah masa panen. Kadang ia diminta memberi nasihat di pernikahan. Tapi lebih dari itu, ia jadi suara hati desa: jernih, sederhana, dan tak bisa dibeli.
Bagi warga, Rijal bukan sekadar guru atau petani. Ia adalah kiai kampung. Kiai yang tidak punya menara yeng menjulang tinggi, tapi punya pondasi yang kokoh di tanah sendiri.
Di hatinya, ia tahu perjuangan belum selesai. Kamar nomor tiga belas mungkin sudah lama ia tinggalkan, tapi api yang dulu mereka nyalakan di pondok, kini ia jaga di desa. Api kecil yang suatu hari mungkin akan bersua lagi dengan api lain lewat sahabat-sahabat lamanya, di medan yang lebih luas.
Penulis: Sya’ban Fadol. H
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

