Menjadi Ibu yang Siap Tirakat

Menjadi Ibu yang Siap Tirakat


Ilustrasi kedua orangtua yang terus bertirakat untuk hidup ana-anaknya (ilustrasi: raa)

Menjadi orangtua, sudah sepatutnya siap lahir batin berjuang, baik untuk hidupnya juga masa depan anak-anaknya. Begitu pun menjadi seorang ibu, bukan hanya tentang hamil, melahirkan dan menyusui. Tapi juga tentang menyiapkan generasi yang akan menegakkan kebenaran dimasa depan. Dalam rahim seorang ibu, allah akan menciptakan dan menitipkan sebuah kehiudpan baru, dan dalam doa seorang ibu, allah akan menetapkan masa depan tersebut.

Maka sebab itulah, seorang muslimah yang akan menjadi seorang ibu yang akan melewati fase hamil, melahirkan harus benar benar mempersiapkan diri untuk membentuk anak yang cerdas dan berkelas, bukan hanya cerdas akalnya, tapi juga cerdas imannya. Dan cara tersebut mamang memiliki banyak bentuk, salah satunya adalah tirakat. Tirakat adalah jalan pengorbanan, kesabaran dan kedekatang dengan sang maha pencipta.

Baca Juga: Warisan Perilaku Orang Tua Membentuk Masa Depan Anak

Tirakat bukan sekedar menahan lapar dan begadang dalam doa. Tapi tirakat adalah tentang bagaimana seorang ibu memperjuangkan batin yang lembut demi kedamaian dan kesuksesan seorang anak. Dengan menahan diri dari keluhan, dari makanan yang kurang halal, dari amarah yang meninggi dan dari keinginan dunia yang berlebihan serta terus menjaga hati agar tetap bersih, karena dengan hati yang bersih, akan lahir generasi yang bercahaya.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dari hadis tersebut telah di sampaikan bahwa pondasi kecerdasan sejati anak dimulai dari orangtuanya terutama dan paling utama adalah ibu. Fitrayh anak adalah suci, bersih, dan siap menyerap nilai-nilai kehidupan yang didapatkan. Maka ibu yang siap tirakat akan menjaga dirinya agar sang anak terus tumbuh dalam lingkungan hati yang tenang dan doa yang tulus mendamaikan.

Dalam Al-Qur’an, Allah menggambarkan doa seorang hamba saleh: “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)

Baca Juga: Anak Bukan Proyek Orang Tua

Doa ini bukan hanya sekedar harapan belaka, tapi sebuah permohonan penuh kesadaran bahwa kecerdasan sejati seorang anak bukan hanya dari kemampuan berfikir saja, tapi dari keshalehan imannya. Seorang anka yang shaleh dan shalehah akan diberi oleh allah cahaya akal, kebijaksanaan dan hati yang peka terhadap kebenaran dan kebaikan.

Dan ibu yang siap tirakat akan memahami bahwa kecerdasan anak tidak hanya di bangun dari susu terbaik atau sekolah ternama, tapi dari ibadah dan keikhlasan. Dan rela bangun di sepertiga malam, menengadahkan tangan dalam sujud yang berkepanjangan, memohon dengan setulus hati agar anaknya menjadi seorang hamba yang berilmu dan beradab. Karena ia tahu, setiap tetesan air mata dalam doa adalah bagian dari ilmu yang kelak akan mengalir rapi dalam diri anaknya sampai kapanpun.

Dan tirakat seorang ibu juga berarti menjaga makanan yang masuk ke dalam tubuhnya dan anaknya. Ia akan sangat berhati-hati agar hanya rezeki yang halal yang akan mengalir dalam darah sang anak. Sebab Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah itu baik, dan tidak menerima kecuali yang baik.”
(HR. Muslim)

Dari rezeki yang halal itulah akan tumbuh kecerdasan akan yang bersih. Dari suapan penuh doa akan lahir hati yang lembut dan akal yang jernih. Karena setiap yang kita berikan kepada anak bukan hanya makanan untuk tubuhnya, melainkan juga asupan bagi ruh dan jiwanya.

Baca Juga: Perjalanan Kerelaan Orang Tua Memondokkan Anak

Ibu yang selalu tirakat juga harus bisa menjaga lisannya. Ia tahu bahwa kata-kata adalah sebagian dari doa. Maka ia tak akan membentak, tapi menasehati dengan lembut seperti yang sudah diajarkan dalam alqur’an. Ia tak akan mengeluh tentang anaknya, tapi selalu menyebut namanya dalam doa yang penuh dengan cinta. Ia tak membandingkan, tapi terus memohon agar anaknya tumbuh sesuai dengan rencana allah, bukan dengan keinginan dunia yang fana.

Menjadi ibu yang siap tirakat adalah menjadi ibu yang akan selalu sadar bahwa setiap kesulitan pasti memiliki jalan penuh keberkahan. Ia akan menahan lelahnya bukan karena ingin dipuji, tapi karena ia yakin bahwa allah akan melihat setiap tetes keringatnya. Ia menundukan kepala dalam sabar yang panjang, karena ia tahu dari rahimnya akan lahir penerus kebaikan dimasa depan.

Maka dari itu para muslimah, jika engkau ingin anakmu cerdas, sucikanlah dirimu terlebih dahulu. Cerdaskan jiwamu dengan iman, lembutkan hatimu dengan doa, dan kuatkan dirimu dengan sabar. Sebab anak tidak hanya meniru perilaku ibunya, ia mewarisi getar doa dan kesungguhan tirakatnya.

Baca Juga: Sebuah Refleksi, Pentingkah Kerja Sama Wali Santri dengan Pembina?

Ketahuilah, setiap air mata yang jatuh dalam sujudmu akan menjadi cahaya dalam langkah anakmu. Dan setiap malam yang kau isi dengan doa akan menjadi penerang jalan kehidupannya.

Maka bersiaplah, wahai ibu. Tirakatmu bukan beban, tapi jalan menuju surga.
Karena sesungguhnya, di balik ibu yang bersujud dalam sepi, Allah sedang menulis kisah lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, dan bercahaya.



 



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *