
Sudut Ruangan
Hanyut dalam sunyi
Memandangi daun daun yang berdzikir
Cahaya bulan yang menambah aksen sendu
Bintang malam ini malu untuk hadir
Rintik gerimis masih meninggalkan genangan
Foto yang berada di sudut ruangan
Hanya meninggalkan lara
Terungkap dalam pilu asmara
Butuh Sandaran
Detik pun terasa berhenti
Detak jantung tak beraturan
Kau bersanding denganku
Bersama merajut mimpi
Tautan cerita yang selalu kudengarkan darimu
Menjadi racikan rindu
Mata itu selalu kutatap
Sendu dan redup
Mengisyaratkan bahwa kau butuh sandaran
Merdu Rintik Gerimis
Di balik jendela kayu
Kau mengelus rambut kilauku
‘nak, kala dewasa nanti moga kau selalu dikuatkan dan dimudahkan’
Katamu, yang saat ini tertulis abadi dalam ingatan
Ternyata banyak kenyatan pahit yang kutelan, bu
Rintik gerimis dulu resmi bersaksi
Bahwa kini dewasa setidakmenyenangkan itu
Bu, aku harap engaku terus merapal doa-doa indah itu
Untukku.
Racikan Embun
Kadang ingin sekali mengucapkan sayang
Tapi gengsi yang menyelimuti
Kadang ingin sekali mengucapkan cinta
Namun lidah kelu dan kaku teracuni oleh malu dan gengsi
Aku memilih racikan embun
Yang setiap tetesnya menyejukkan udara
Aku memilih puisi
Yang setiap baitnya tersirat akan makna
Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

