
Tebuireng.online— Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui badan otonomnya, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), menggelar kuliah umum dan musyawarah transformasi pesantren di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada Sabtu (12/7). Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda besar nasyrus sanad atau penyebaran sanad keilmuan, yang akan berlangsung selama dua pekan ke depan.
Sedikitnya 213 kiai pesantren dari berbagai daerah di Indonesia hadir dalam pembukaan kegiatan tersebut. Agenda pertama berupa kuliah umum bertema “Merawat Tradisi, Membangun Inovasi”, yang menghadirkan tiga narasumber utama: Prof. Masdar Hilmy, Ph.D., Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc., dan Dr. (H.C.) KH. Zulfa Mustofa.
Dalam pemaparannya, Prof. Masdar Hilmy yang juga Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, menekankan pentingnya membaca sejarah sebagai dasar membangun masa depan. Ia mengingatkan bahwa peradaban Islam yang pernah berjaya di Kordoba, Spanyol, runtuh karena kelengahan internal umat Islam sendiri.
“Dulu saat Islam berada di puncaknya di Kordoba, mungkin tak ada yang menyangka bahwa Islam akan hilang dari Eropa. Tapi sejarah mencatat bahwa kejayaan 600 tahun itu bisa lenyap karena kita tidak waspada,” ujar Prof. Masdar.
Ia juga mengulas peristiwa pada tahun 612 M, saat Romawi Timur dikalahkan Persia. Kaum musyrik Makkah saat itu bergembira karena menilai kemenangan Persia, sebagai bangsa penyembah banyak tuhan, adalah kemenangan atas monoteisme Romawi Timur yang lebih dekat dengan nilai-nilai Islam. Namun, beberapa tahun kemudian, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Ar-Rum ayat 1–5, Romawi berhasil membalikkan keadaan dan mengalahkan Persia.

“Al-Qur’an mencatat kejadian ini bukan hanya sebagai catatan masa lalu, tetapi juga sebagai pelajaran memandang masa depan. Sayangnya, saat ini kita baru pada tahap membaca sejarah, belum bisa menerka ke depan,” ujarnya.
Prof. Masdar juga menyoroti ketajaman visi Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam membaca arah zaman. Pendiri NU itu menurutnya telah melihat tanda-tanda keruntuhan Kekhalifahan Turki Utsmani dan munculnya era negara-bangsa (nation state), sehingga segera mengkonsolidasikan umat Islam Indonesia dalam kerangka nasionalisme religius.
“Inilah yang disebut nalar nubuwwah, kemampuan memproyeksi masa depan. Dan itu dilandasi prinsip al-muhafadzah ‘ala al-qadim as-salih wa al-akhdzu bi al-jadid al-aslah, menjaga tradisi yang baik dan mengambil pembaruan yang maslahat,” tegasnya.
Kegiatan nasyrus sanad dan musyawarah pesantren yang digelar RMI ini, menurut Prof. Masdar, menjadi bentuk nyata dari upaya menjaga tradisi keilmuan, sekaligus mendorong inovasi untuk menjawab tantangan zaman. Para kiai yang hadir diharapkan dapat mengembangkan nilai-nilai tersebut dalam mengelola pesantren di daerah masing-masing.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama dua minggu ke depan, dengan berbagai agenda strategis seputar penguatan sanad keilmuan, inovasi kurikulum pesantren, serta konsolidasi visi kebangsaan dan keislaman dalam bingkai Ahlussunnah wal Jamaah.
Pewarta: Yuniar Indra
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

