Perempuan yang Menyimpan Luka | Tebuireng Online

Perempuan yang Menyimpan Luka | Tebuireng Online


Ilustrasi perempuan saat sendirian (sumber: ist)

Luka yang Menyamar Senyum
Di wajahku
tersulam senyum yang tak lahir dari hati
hanya topeng tipis menutupi
retakan yang kian membelah

Aku belajar pada sunyi
bahwa kebohongan menusuk
lebih dalam dari sebilah pedang
dan kepercayaan yang hancur
tak dapat disatukan tanpa retak

Namun aku berdiri
tak runtuh oleh badai
sebab sepasang mata mungil menatapku
meminta hangat, meminta teduh

Dan aku
meski berdarah dalam jiwa
akan terus berjalan
menjadi cahaya bagi yang haus ilmu
meski diriku sendiri terjerat gelap


Perempuan yang Menyimpan Duka
Aku perempuan yang menyimpan duka
dalam genggaman doa
yang menahan air mata
di hadapan anak-anak bangsa

Setiap tatapan polos mereka
adalah alasan untuk tetap ada
meski hati telah koyak
oleh dusta yang berulang

Kekecewaan membakar
ketidakpercayaan mengikat
namun ada panggilan jiwa
yang tak boleh padam

aku guru
dan tugasku menyalakan lentera

Biarlah senyumku palsu
asal mereka percaya
bahwa bahagia masih ada
di dunia yang kerap berkhianat


Tegar di Tengah Retak
Ada luka yang tak terlihat
ada tangis yang tak terdengar
hanya aku dan malam
yang tahu betapa letih jiwa ini

Namun esok pagi
aku kembali berbalut tegar
mengenakan senyum semu
sebagai perisai dari runtuhku

Sebab seorang anak
menggenggam tanganku erat
mengingatkan bahwa aku masih ibu
yang harus berdiri di sisinya

Dan puluhan wajah di kelas
menyebutku guru
menaruh harap pada tutur dan tulisanku

Maka meski retak
aku harus tetap menjadi pilar
meski runtuh dalam hati
aku tetap berdiri di mata mereka


Pura-pura Bahagia
Aku menari di atas luka
dengan irama yang asing
seakan bahagia adalah milikku
padahal hanya bayang semu

Kecewa menyalakan bara
tak percaya menjadi jurang
Namun aku tak boleh jatuh
tak boleh binasa

Sebab seorang anak
menunggu hangat pelukku
dan dunia menanti
ajaran dari lidahku

Maka biarlah
aku menjahit air mata menjadi senyum
meski palsu
meski getir, tetap akan aku kenakan

sebagai pakaian hariku, hingga luka ini
tak lagi berdarah



Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *