Framing Negatif vs Realita Kehidupan Pesantren

Framing Negatif vs Realita Kehidupan Pesantren


Ilustrasi aktivitas santri di pesantren (gambar: ai/ra)

Dalam beberapa waktu terakhir, pemberitaan tentang pesantren kerap didominasi oleh isu-isu bernada miring. Framing negatif bermunculan diberbagai platfrom media digital bahkan sampai stasiun TV nasional. Fenomena pelecehan seksual, radikalisme, feodalisme,  runtuhnya salah satu gedung pesantren di Jawa Timur karena dianggap tidak memenuhi standar bangunan serta melibatkan para santri dalam pembangunan, semakin memperburuk citra pesantren di mata publik. Yang paling terbaru, salah satu stasiun televisi nasional menyiarkan berita dengan judul “Kiai yang Kaya Raya tapi Umat yang Ngasih Amplop”  kembali menambah daftar panjang framing negatif terhadap pesantren.

Menurut Eriyanto dalam bukunya, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, ia mengatakan bahwa framing adalah cara suatu informasi disajikan untuk menciptakan persepsi tertentu, sehingga memengaruhi cara pembaca memahami sebuah peristiwa. Terdapat dua esensi utama dalam framing. Pertama, bagaimana peristiwa dimaknai  berkaitan dengan bagian mana yang diliput dan mana yang diabaikan. Kedua, bagaimana fakta tersebut ditulis melalui pemilihan kata, kalimat, dan gambar yang digunakan untuk mendukung gagasan tertentu.

Baca Juga: Menyikapi Isu Seputar Insiden Pesantren dengan Nalar dan Nurani

Tulisan ini lahir dari kegelisahan penulis terhadap berbagai isu yang akhir-akhir ini mencuat tentang pesantren. Sebagai seseorang yang telah bertahun-tahun hidup dan belajar di lingkungan pesantren, penulis merasa memiliki kedekatan batin dengan dunia tersebut. Pahit manis yang penulis alami tentang pesantren, menimbulkan kesan bahwa tulisan ini bukan sebatas teori, tetapi juga pengalaman nyata.

Kehidupan pesantren sejatinya sangat kompleks. Santri menjalani rutinitas harian yang padat selama dua puluh empat jam. Mulai dari shalat berjamaah, mengaji, murāja‘ah, dan kegiatan variatif lainnya. Semua aktivitas itu tidak berdiri sendiri, melainkan saling terhubung dan menjadi bagian dari sistem pendidikan khas pesantren. Pesantren berdiri di atas lima elemen utama: kiai, santri, masjid, asrama, dan kitab kuning. Di antara elemen-elemen tersebut, kiai menempati posisi yang sangat penting. Ia bukan hanya pendiri dan pengasuh pesantren, tetapi juga menjadi panutan moral dan spiritual bagi para santri. Hubungan antara kiai dan santri dibangun atas dasar penghormatan, ketulusan, dan keilmuan  bukan atas dasar kekuasaan atau kepentingan materi.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Namun, dalam beberapa waktu terakhir, muncul pandangan yang keliru bahwa pesantren merupakan tempat yang mengekang kebebasan santri atau menanamkan nilai-nilai feodalisme. Sebagai seseorang yang tumbuh di lingkungan pesantren, penulis merasa perih melihat anggapan semacam itu. Penghormatan santri kepada kiai bukanlah bentuk perbudakan, melainkan wujud adab dan cinta yang terwujud dalam tindakan nyata, seperti membantu kiai dalam kegiatan sehari-hari, membersihkan lingkungan, atau memberikan tenaga untuk kepentingan pesantren.

Semua itu dilakukan bukan karena paksaan, melainkan sebagai bentuk rasa hormat dan bakti kepada guru yang telah menuntun  dalam ilmu dan akhlak. Bagi penulis, pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga rumah pembentukan jiwa. Di sanalah nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan kebersamaan diajarkan bukan lewat teori, melainkan lewat teladan dan pengalaman hidup. Itulah wajah sejati pesantren yang sering luput dari sorotan publik  wajah yang penuh makna, ketulusan, dan cinta kepada ilmu.

Baca Juga: Pesantren dan Perwujudan Modernisasi

Dalam arus kehidupan modern yang semakin individualistik, mungkin penghormatan semacam itu dianggap kuno, bahkan salah dimaknai sebagai bentuk kepatuhan buta. Namun, bagi santri, mencintai guru berarti menghormati, melayani, dan berbakti dengan tulus karena dari tangan guru, ilmu mengalir, dan dari doa guru, keberkahan hidup tumbuh.

Dalam kitab faidul Qodir, Rasullah memerintahkan untuk merendahkan hati  kepada orang alim, dalam ini, konteks Yai dianggap seseorang yang cocok disebut sebagai orang yang alim

Contents

 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَعَلَّمُوْنَ مِنْهُ [1]

 

‘Rasulullah SAW bersabda, ‘Rendah hatilah kepada orang yang mengajarkan kalian’.”

Al-Munawi menambahkan penjelasan hadits di atas, “Sungguh ilmu tidak didapatkan kecuali dengan rendah hati dan mendengarkan, sedangkan kerendahhatian seorang murid kepada gurunya adalah sebuah adab pekerti yang tinggi, sikap rendah hati terhadap guru adalah sebuah kemuliaan, dan ketundukan kepadanya merupakan sebuah kebanggaan.[2]

Maqolah familiar juga disampaikan oleh Sayyid Ahmad bin Al-Maliki, beliau mengatakan;

ثبات العلم بالمذاكرة وبركته بالخدمة ونفعه برضا الشيخ

“Tetapnya ilmu dengan mengulang-ulang, barokahnya ilmu dengan berkhidmah,dan manfaatnya ilmu dengan ridho guru.”

Dari kutipan di atas dapat diambil pemahaman bahwa di dalam pesantren, santri tidak hanya mencari ilmu, tetapi juga harus berkhidmah kepada seorang guru. Ilmu dan khidmah merupakan dua hal yang tidak boleh dipisahkan. Keduanya memiliki hubungan sangat erat dan harus ada dalam diri kita sebagai santri.

Dalam kitab adabul alim wa mutaalim, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari mengatakan:

قال ابن عباس: درجات العلماء فوق المؤمنين بسبعمائة درجات ما بين  درجتين خمسمائة عام

“Derajat ahli ilmu adalah 700 kali di atas derajat orang-orang yang beriman Dan jarak antara satu derajat dengan derajat lainnya adalah setara dengan  perjalanan selama 500 tahun.”

من عظم العالم فكأنما يعظم الله تعالى، ومن تهاون به فإنما ذالك استخفاف  بالله ورسوله

“Barangsiapa yang mengagungkan ulama, maka seolah-olah dia mengagungkan Allah Ta’ala. Dan barangsiapa yang meremehkannya, maka sesungguhnya yang demikian itu adalah bentuk penghinaan kepada Allah dan RasulNya.”

Baca Juga: Transformasi di Balik Tembok Pesantren

Hal ini menunjukkan tentang keagungan Kyai dalam kontkes sebagai orang yang alim serta larangan untuk mencacinya. Selain itu, jauh sebelum kemerdekaan, pesantren telah menjadi pusat pendidikan dan perjuangan umat. Sejak masa Walisongo  seperti Sunan Ampel yang mendirikan padepokan di daerah Ampel, Surabaya  pesantren berperan dalam menyebarkan Islam, membangun moral masyarakat, dan menanamkan nilai-nilai kebangsaan.Dari pesantren, lahir banyak tokoh penting yang berkiprah di berbagai bidang dari ulama, politisi, akademisi, hingga tokoh sosial.

Namun, sayangnya, media jarang mengangkat realita positif pesantren masa kini. Framing negatif terhadap pesantren sering kali menutup mata publik terhadap realita positif dan kontribusi nyatanya bagi bangsa. Padahal, pesantren adalah lembaga yang terus tumbuh, belajar, dan berbenah. Ia melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berjiwa sosial tinggi.

Dengan demikian, penting bagi media dan masyarakat untuk menempatkan pesantren secara proporsional. mengkritisi bila salah, tapi juga mengapresiasi ketika benar. Hanya dengan cara itu, wajah pesantren dapat dipahami secara utuh, bukan sekadar bingkai sempit pemberitaan, melainkan cermin kearifan dan kekuatan moral bangsa. Mungkin hanya sedikit yang penulis kutip tentang realita kehidupan di pesantren, selebihnya, masih banyak lagi realita yang belum penulis jelaskan.



Penulis: Muhammad Fatkhun Ni’am
Editor: Rara Zarary


1] Jalaluddin as suyuthi, faidul qodir, Daruttuqu an-najah hal 624

[2] Imam Al-Haris Al-Muhasibi, Risâlatul Mustarsyidin, [Darus Salam], halaman 141



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *