Orang Dalam | Tebuireng Online

Orang Dalam | Tebuireng Online


Ilustrasi sebuah usaha (sumber: iStock)

“Maaf anda tidak diterima di perusahaan kami.”

Sudah setidaknya sepuluh kali aku membaca kalimat itu. Lamaran kerjaku ditolak lagi. Padahal kupikir kali ini aku akan diterima. Mengingat latar pendidikanku sangat cocok.  Aku juga sudah mempunyai pengalaman sesuai dengan kriteria pekerja yang mereka cari. Namun, aku memang belum beruntung.

“Setelah ini aku harus melamar ke mana lagi?” batinku.

Aku sudah menganggur sekitar tiga tahun sejak lulus kuliah. Sudah ratusan lamaran kusebar dan hanya beberapa kali saja aku mendapatkan balasan. Entah sampai kapan aku harus menunggu. Aku tidak ingin terus menjadi beban ibu. Seharusnya, sebagai anak laki-laki pertama aku harusnya bisa membanggakan beliau serta menjamin kesejahteraan adik-adikku.

“Habis lamaran kerja juga?”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Eh… Iya.”

“Saya juga sama. Baru saja selesai melamar kerja dekat sini.”

“Diterima?”

Lawan bicaraku itu menjawab sambil menggelengkan kepalanya. Aku lantas mengajaknya duduk di sebelahku. Senang rasanya punya teman senasib. Sebagai sesama pencari kerja yang belum mendapat kerja kami bisa saling memahami satu sama lain.

“Oh iya kenalkan, aku Andre.”

“Saya Irwan.”

“Mau langsung pulang?”

“Sepertinya iya. Bang Irwan mau ke Stasiun Tanah Abang juga?

“Iya. Ngomong-ngomong anda usianya berapa?”

“Saya 24 tahun.”

“Wah sama saya juga. Kalau begitu kita bicaranya santai saja.”

“Baik. Irwan sudah lama menganggur.”

“Sekitar tiga tahun. Saya bingung harus melakukan apa lagi.”

“Hm… Saya sampai sekarang juga masih menganggur. Entah sampai kapan saya bisa mendapatkan pekerjaan.”

“Tetapi kali ini saya betul-betul kesal.”

“Kenapa?”

“Mereka sengaja memilih keponakan bos padahal dari segi kemampuan dan sikap dia sangat tidak layak dan tidak sopan.”

****

Aku pun bercerita tentang hal yang kualami hari itu. Dari sekian banyak tempat kerja, kali ini dengan mata dan telingaku sendiri sadar bahwa sistem perekrutan kali ini sungguh tak adil. Kami para pelamar kerja yang lain sudah berusaha semaksimal mungkin. Menjawab dengan baik, sopan serta berpenampilan rapi. Namun kalau memang akhirnya yang dipilih adalah orang yang memiliki hubungan dekat dengan bos, buat apa mereka membuka lamaran kerja di sosial media.

“Aku rasa aku akan selalu kalah dengan orang dalam.”

“Jangan berpikir begitu Irwan. Dulu aku juga pernah mengalami hal yang sama kok.”

“Benarkah?”

“Iya. Aku baru tahu kalau karyawan baru tempat dulu aku pernah melamar kerja ternyata sepupu dari salah satu karyawan di sana. Walau aku akui dia cukup terampil, tetap saja hatiku kadang tidak terima.”

“Kenapa orang dalam selalu seenaknya? Mereka yang memiliki jaringan orang  berkuasa bisa mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sementara kita? Tidak!”

“Orang kaya semakin kaya sementara orang miskin semakin miskin, begitukah maksudmu?”

“Iya, benar Andre.”

“Aku juga tahu kadang ini tidak adil. Tetapi coba kau pikir lagi. Kalau kau menjadi bos perusahaan, siapa yang kira-kira yang akan kamu terima?”

“Tentu saja orang yang kompeten!” jawabku mantap.

“Meskipun itu artinya kau akan dibenci keluarga besarmu?”

“Hah?”

“Kalau kita punya kekuatan, kita pasti akan menyelamatkan orang berharga dan berarti untuk kita dulu bukan? Terutama keluarga kita. Lagipula kalau kamu tidak menerima keluargamu bekerja di perusahaanmu, kau siap untuk dikucilkan dan tidak dianggap bagian dari keluargamu lagi?”

Aku mulai berpikir. Benar juga. Kalau aku jadi seorang bos mungkin saja aku akan melakukan hal yang sama.

“Hah… Harus kuakui kau benar Andre. Kurasa pikiranku terlalu sempit.”

“Orang dalam memang mempermudah kita dalam beberapa hal. Misalnya kita bisa mendapatkan diskon dari penjual di pasar yang sudah lama kita kenal. Atau bisa minta nebeng ke teman yang searah dengan rumah kita, mendapatkan informasi berguna lebih awal, juga…”

“Bisa lebih cepat mendapat pekerjaan?”  

“Benar. Harus diakui. Adil atau tidak adil orang dalam itu terkadang penting. Apalagi di negeri ini.”

“Lantas apa yang harus dilakukan orang kecil seperti kita?”

Irwan lantas menepuk pundakku. Menatap jalanan sambil menarik napas dan membuangnya perlahan.

“Kau percaya neraka dan surga itu ada?”

“Tentu saja”

“Kenapa?”

“Karena dunia ini tidak adil.”

“Betul. Karena terkadang keadilan tidak ditegakkan, makanya Tuhan sengaja  menciptakan neraka dan surga. Supaya kelak manusia mendapatkan keadilan seadil-adilnya. Tetapi kau tahu, aku percaya orang dalam itu bukan segalanya.”

“Kau percaya kalau suatu saat kita akan mendapatkan pekerjaan?”

“Orang dalam akan kalah oleh kehendak Tuhan. Jika Tuhan sudah berkehendak bahwa sesuatu itu milik kita, maka itu akan tetap menjadi milik kita.”

Aku lantas tersenyum sambil menepuk bahu Andre. “Terima kasih bung. Nasihatmu sangat bagus. Aku jadi bersemangat lagi.”

“Sama-sama. Eh lihat bus kita sudah sampai. Ayo kita naik.”

Kami berdua pun naik bus meninggalkan halte yang penuh pembicaraan menakjubkan itu. Aku tahu kami sama-sama tidak punya orang dalam untuk mempermudah urusan kami. Namun kami selalu punya Tuhan, kemampuan dan usaha tanpa henti untuk meraih mimpi kami.



Penulis: Inong Islamiyati.
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *