
Sejak ucapan Pak Lurah sore itu, pondok terasa lain. Angin malam masih sama, kopi sachet masih sama, tapi ada sesuatu yang berubah: botol-botol keruh itu sekarang jadi semacam lambang tak resmi. Mula-mula cuma beberapa kamar. Lama-lama hampir separuh pondok ikut menggantung botol. Bahkan ada yang iseng menaruh ikan cupang di dalamnya. “Biar hidup, biar ada gerakan,” kata si empunya.
Pengurus mulai resah. “Ini bisa bikin pondok disalahpahami,” kata Ustadz Zainal dalam rapat sore. Tapi anehnya, tak ada yang berani langsung melarang. Karena tiap kali diturunkan, esok pagi botol-botol itu sudah kembali tergantung, jumlahnya malah bertambah.
Baca Juga:
Kamar Nomor 13 Menolak Tunduk
Revolusi Kecil dari Kamar Nomor 13
Ngaji Ekologi di Kamar Nomor 13
Di warung depan, televisi tua itu makin keropos, tapi berita tetap lancar:

“DPR resmi mengesahkan kenaikan tunjangan dan fasilitas anggota dewan. Keputusan ini memicu gelombang demonstrasi di berbagai kota…”
Naim sambil ngunyah kerupuk nyeletuk.
“Pantesan rakyat demo tiap hari,” gumam Fathan.
Naim menghela napas. “Kalau gajinya dewan naik, gaji kita apa? Pahala?”
Syahdan menjawab santai, “Pahala pun kadang dipotong pajak karna ghibah.”
Tawa pecah, tapi lagi-lagi berhenti cepat.
Di wajah mereka ada cermin keresahan: masyarakat di luar sana demo, di pondok mereka cuma bisa main simbol.
***
Malam itu, kamar 13 gelisah.
“Gimana kalau kita berhenti aja?” tanya Fathan pelan.
“Berhenti itu gampang,” jawab Syahdan. “Tapi nanti setiap kali lihat air keruh, kita bakal merasa bersalah.”
Naim menimpali sambil memainkan botol kosong. “Atau kita bikin simbol baru. Botol itu kayaknya sudah terlalu jelas.”
“Simbol apa?” tanya Rijal, yang masih tenang meski sudah dipanggil.
Naim tersenyum nakal. “Bendera One Piece.”
Semua terdiam. Lalu pecah tawa.
“Gila kamu, Din. Baru-baru ini bendera One Piece aja dilarang. Dikira mau makar,” kata Syahdan.
Fathan menambahkan, “Padahal itu cuma gambar tengkorak pakai topi jerami. Kalau mau makar, masak pakai tengkorak ketawa?”
Rijal tersenyum. “Justru itu. Simbol-simbol sederhana kadang lebih bikin takut daripada pidato panjang. Karena simbol itu mudah ditiru.”
***
Keesokan harinya, kamar 13 benar-benar nekat. Mereka menggantung botol keruh seperti biasa. Tapi kali ini di atasnya ditempel kertas gambar: tengkorak dengan topi jerami. Santri-santri lain langsung heboh.
“Eh, itu bendera bajak laut kan?”
“Bukan. Itu logo persaudaraan keruh internasional.”
“Lho, internasional?”
“Iya, soalnya masalah keruh ini bukan cuma di sini. Dari desa sampai DPR, semua keruh.”
Sore itu, pengurus pondok makin gelisah. Botol-botol bergambar tengkorak dianggap melawan aturan. “Santri jangan ikut-ikutan demo. Jangan bawa-bawa simbol politik. Fokus saja ngaji!” tulisan Ustadz dengan di papan pengumuman.
Tapi malamnya, kamar 13 menulis di kertas besar lalu ditempel di depan pintu:
“Kami tidak demo. Kami hanya ingin wudhu dengan air jernih.”
Esok paginya, santri lain menambah tulisan kecil di bawahnya:
“Dan kami juga ingin DPR yang jernih.”
Botol-botol bergoyang ditiup angin. Simbol itu sudah menjelma bendera kecil—bukan lagi sekadar air keruh.
***
Hari Jumat berikutnya, meski sudah ada ancaman, kamar 13 tetap menggantung botol. Kali ini jumlahnya sepuluh. Airnya lebih keruh, dicampur tanah. Pengurus berjalan mondar-mandir. Santri-santri berbisik. Bahkan ayam-ayam pondok pun terasa lebih diam.
Tiba-tiba sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang. Dari dalam turun beberapa orang asing berbaju rapi. Tak pakai sorban, tak pakai sarung.
“Siapa mereka?” bisik Naim.
“Entah. Tapi lihat, yang menyambut langsung Pak Lurah,” jawab Rijal.
Mereka tidak mengajar, tidak ceramah. Hanya masuk ke ruang tamu pengurus. Lama. Lalu keluar lagi dengan wajah dingin.
Malam itu, kamar 13 tahu satu hal: simbol kecil bisa lebih menusuk daripada orasi keras. Botol keruh mereka sudah berubah jadi semacam “bendera One Piece” pondok—bendera yang tidak berkibar di tiang, tapi bergoyang pelan bersama air keruh.
Dan di luar pondok, demo masyarakat terus bergulir. Suara-suara marah di jalan raya, bercampur dengan doa lirih santri di serambi.
Dua dunia yang tampak jauh, tapi sejatinya satu: sama-sama mencari yang jernih di tengah keruh.
Bersambung…
Penulis: Sya’ban Fadol. H
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

