Doa yang Tumbuh di Bulan September

Doa yang Tumbuh di Bulan September


Desain September )ilustrasi: okezonenews)

Selamat datang kepada yang akan bermula
September, jalan pulang harapan.
September datang tanpa janji,
Tapi selalu membawa rasa baru dalam hati.

Aku menatap langit begitu teduh,
Seakan mengajariku bahwa setiap awal,
Pasti aka nada ujung yang menunggu.

Aku menaruh harap pada setiap detiknya,
Pada sang hujan yang jatuh tiap harinya

Pada angina yang berderu pelan tiap detiknya.
Semoga langkah-langkahku kali ini,

Tidak lagi tersesat di jalan yang sunyi,
Tapi menemukan pulang,

Sebuah pulang pada doa, pulang pada kasih,
Pulang pada takdir yang di ridhoi illahi

September,
Jadilah bulan pengingat,
Bahwa perjalanan hidup bukan tentang siapa yang cepat,
Melainkan siapa yang kuat menjaga sabar,
Siapa yang sanggup bertahan untuk percaya.

Dan aku ingin segera pulang,
Pada keyakinan bahwa segala doa,
Tak akan pernah sia-sia.


Doa yang Tumbuh di September
Aku menyimpan luka yang lama,
Seperti tanah yang retak menunggu datangnya hujan.
Lalu September tiba,
Membawa kesejukan yang kurindukan.

Disetiap helai waktu yang jatuh,
Aku belajar menanam doa:
Doa agar hatiku tetap sabar,
Doa agar kakiku tetap kuat melangkah,
Doa agar hidupku tak lagi kosong.

September,
Aku ingin doa-doa itu tumbuh menjadi bunga.
Bunga yang tidak hanya indah dipandang,
Tapi juga tumbuh menenangkan dan menguatkan.

Jika musim lain memberi lelah,
Biarlah bulan ini memberi jeda.
Aku ingin bernafas lebih tenang,
Berjalan lebih yakin,

Dan percaya,
Bahwa harapan tidak pernah mati
Selama aku masih percaya padamu.


Setangkai Cahaya di September
Ada yang berbeda pada September kali ini,
Udara lebih lembut,
Hujan lebih ramah,
Dan langit pun sama seperti lebih dekat dengan hati.

Aku berjalan di antara keraguan,
Tapi setiap langkah terasa dijaga.
Mungkin inilah cara semesta mangajak berbicara,
Bahwa meski banyaknya luka,
Tetap ada aserercah cahaya yang menunggu di ujung jalannya.

September,
Aku ingin kau menjadi saksi,
Bahwa aku pernah mengalami patah,
Tapi tidak berhenti sama sekali.
Aku pernah kalah,
Tapi aku masih percaya.

Dan jika nnati cahaya itu datang,
Biarlah aku meraihnya dengan hati yang paling lapang.
Karena aku tahu,
Engkau selalu menitipkan kebahagiaan

Pada waktu yang tepat,
Meski aku menunggu,
Meski harus bertahan,
Dan meski harus jatuh berkali-kali.

Aku hanya ingin percaya,
Setangkai cahaya itu benar-benar akan hadir,
Menyembuhkan, serta meneguhkan,
Dan mengajarkanku
Bahwa setiap yang berusaha tidak akan pernah menerima
Hasil yang sia-sia.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *