
Anak-anak berlari kecil menuju kelas dari halaman Madrasah Al-Hikmah, sementara beberapa orang tua berdiri di pinggir halaman, sesekali menyapa guru yang lewat. Di antara mereka ada Pak Habib, seorang pedagang sayur di pasar yang setiap pagi mengantar anaknya, Nadia, ke sekolah.
Pak Habib tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi. Sekolahnya hanya sampai kelas tiga SD karena saat itu ia harus membantu orang tuanya di sawah. Namun, sejak kecil ia selalu menyimpan satu mimpi, anak-anaknya harus sekolah setinggi mungkin.
“Kalau dulu saya tidak bisa lanjut sekolah, jangan sampai anak saya merasakan hal yang sama,” ucapnya suatu pagi pada Bu Rina, wali kelas Nadia.
Madrasah Al-Hikmah sebenarnya sekolah sederhana di pinggir desa. Bangunannya tidak terlalu besar, kursinya banyak yang sudah tua, dan perpustakaannya hanya berisi buku-buku lama. Namun ada semangat besar di baliknya, semangat para guru yang dengan ikhlas mengajar, juga dorongan sebagian orang tua murid yang peduli.
Salah satunya adalah Ibu Sari, seorang alumni. Ia pernah menimba ilmu di sekolah itu belasan tahun lalu. Kini, ia sudah menjadi pegawai di kantor kecamatan. Meski kesibukan menumpuk, hatinya selalu kembali ke madrasah tempat ia dulu belajar membaca, menulis, bahkan belajar doa-doa pertama.

“Saya bisa sampai di titik ini karena madrasah itu. Saya ingin anak-anak sekarang punya kesempatan lebih baik,” kata Ibu Sari saat rapat wali murid.
Namun, tidak semua orang tua berpikir demikian. Ada sebagian yang beranggapan pendidikan cukup diserahkan sepenuhnya kepada guru. “Kita sudah bayar SPP, jadi tugas guru lah mendidik anak kita,” begitu ucapan yang sering terdengar.
Kata-kata itu membuat Pak Ahmad, kepala sekolah, hanya bisa menarik napas panjang. Ia tahu, membangun sekolah bukan hanya urusan guru atau kepala sekolah, tapi juga orang tua, alumni, bahkan masyarakat sekitar.
“Sekolah ini ibarat rumah. Kalau hanya guru yang menata, rumah itu akan rapuh. Tapi kalau kita bersama-sama, maka ia akan kokoh,” kata Pak Ahmad suatu kali di forum diskusi.
***
Pernah suatu hari, sekolah itu menghadapi persoalan besar. Atap ruang kelas lima bocor parah ketika hujan deras. Anak-anak terpaksa belajar sambil memindahkan meja agar tidak terkena tetesan air. Dana dari pemerintah belum turun, sementara belajar harus tetap berjalan.
Pak Ahmad kemudian mengundang para wali murid untuk bermusyawarah. Sebagian terdiam, sebagian lain mengeluh karena merasa sudah banyak pengeluaran. Namun, di tengah kebekuan itu, Pak Habib angkat bicara.
“Bapak-Ibu, kalau kita menunggu dana resmi, mungkin anak-anak keburu basah kuyup setiap hujan. Saya bukan orang kaya, tapi kalau untuk gotong royong, insyaAllah saya bisa menyumbang tenaga. Saya bisa ikut memperbaiki, memasang genteng, asal ada bahan.”
Ucapan sederhana itu justru menggugah banyak orang. Ibu Sari pun ikut menimpali, “Kalau begitu, biar saya yang mengurus bahan-bahannya. Kita bisa patungan atau cari sponsor. Saya yakin kalau kita mau, pasti bisa.”
Dari situ, suasana rapat berubah. Satu per satu orang tua mulai menawarkan bantuan, ada yang menyumbang semen, ada yang memberi uang, ada pula yang siap membantu kerja bakti.
Beberapa minggu kemudian, ruang kelas lima berubah. Atapnya baru, dindingnya dicat ulang, bahkan lantainya diperbaiki. Anak-anak masuk dengan wajah berbinar, sementara para guru merasa seperti mendapat hadiah besar.
“Semua ini berkat wali murid,” ujar Pak Ahmad dengan mata berkaca-kaca. “Ternyata benar, pendidikan bukan hanya milik sekolah, tapi milik kita semua.”
Cerita itu menjadi titik balik bagi Madrasah Al-Hikmah. Para wali murid mulai sadar bahwa keterlibatan mereka sangat menentukan. Ada yang kemudian mengadakan program literasi dengan menyumbang buku bacaan anak. Ada pula alumni yang mengadakan pelatihan komputer sederhana untuk guru.
Bahkan, Pak Habib yang sehari-hari hanya berdagang sayur, mulai berinisiatif membuat program tabungan pendidikan. Ia mengajak teman-teman pedagang lain di pasar untuk menyisihkan sedikit keuntungan setiap hari, lalu hasilnya disalurkan sebagai beasiswa bagi anak-anak yatim di madrasah itu.
“Ilmu itu bukan hanya untuk anak saya, tapi untuk semua anak. Kalau mereka pintar, desa kita juga ikut maju,” kata Pak Habib ketika diwawancara oleh salah satu media lokal yang meliput kisah itu.
Nadia, anak Pak Habib, sering mendengar cerita ayahnya. Ia jadi semakin semangat belajar. “Aku ingin jadi guru, Yah. Biar bisa mengajar di madrasah kita,” ujarnya polos.
Pak Habib tersenyum sambil menatap mata putrinya. “Nak, sekolah ini sudah memberi banyak pada kita. Kalau kelak kamu bisa kembali sebagai guru, itu hadiah paling indah.”
***
Hari demi hari, wajah Madrasah Al-Hikmah semakin berubah. Perpustakaannya kini punya koleksi baru, ruang kelas lebih nyaman, dan yang terpenting, hubungan antara sekolah, wali murid, alumni, dan masyarakat semakin erat.
Di sebuah acara peringatan ulang tahun sekolah, Pak Ahmad berdiri di podium. Dengan suara bergetar ia berkata, “Kemajuan lembaga pendidikan tidak lahir dari satu pihak saja. Ada guru yang mengajar dengan ikhlas, ada orang tua yang mendukung, ada alumni yang peduli, dan ada masyarakat yang ikut menjaga. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama.”
Kata-kata itu disambut tepuk tangan panjang. Di antara kerumunan, Pak Habib menatap ke panggung dengan mata berkaca-kaca. Ia merasa, meski hanya seorang pedagang sayur, ia telah ikut menorehkan jejak bagi masa depan banyak anak.
Malam itu, ketika semua acara selesai, Pak Habib berjalan pulang bersama Nadia. Di jalan yang remang, ia bergumam dalam hati.
“Ternyata, membangun sekolah bukan sekadar tentang bangunan atau fasilitas. Tapi tentang hati yang saling percaya, tangan yang mau bergandengan, dan mimpi yang dibagi bersama. Jika semua bersatu, pendidikan akan selalu menemukan jalannya.”
Nadia yang menggandeng tangannya berkata lirih, “Yah, madrasah kita sekarang lebih indah ya?”
Pak Habib tersenyum. “Bukan hanya indah, Nak. Madrasah kita sudah jadi rumah bagi harapan.”
Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

