Ladang Pahala Bulan Maulid | Tebuireng Online

Ladang Pahala Bulan Maulid | Tebuireng Online


Salah satu tradisi masyarakat desa dalam merayakan maulid Nabi Muhammad di sebuah mushala (foto: albii)

Malam ini, 5 September 2025, musholla desaku penuh dengan jamaah yang datang sejak selepas shalat Maghrib. Setelah salam terakhir, jamaah tetap duduk rapi mendengarkan tausiyah singkat dari pemuka agama desa. Suaranya tenang, menuturkan kembali kisah kelahiran Nabi Muhammad, tentang cahaya yang membawa rahmat bagi seluruh alam.

Usai tausiyah, suasana musholla semakin hening. Lalu terdengar suara lantang seorang remaja laki-laki desa yang memimpin pembacaan diba. Irama syairnya segera diikuti seluruh jamaah, melantun bersama-sama dengan khidmat.

Aku duduk di samping ibuku, berbaur di barisan perempuan yang tertib di sisi kanan musholla. Di seberang tirai pembatas, bapak dan para lelaki desa duduk berjajar, sebagian sudah bersiap dengan tradisi yang paling dinanti anak-anak. Dan benar saja, saat mahalul qiyam tiba, seluruh jamaah berdiri, melantunkan sholawat dengan penuh khidmat. Pada saat itulah bapak-bapak mulai melemparkan uang koin, disambut sorak sorai anak-anak yang berebut dengan wajah penuh semangat.

Aku hanya bisa melihat dari kejauhan, sambil sedikit bersandar pada pilar musholla. Puluhan anak kecil berdesakan, tawa mereka pecah setiap kali koin berjatuhan ke lantai. Pemandangan itu membuat hatiku hangat sekaligus getir, seolah membuka kembali pintu kenangan yang lama tersimpan.

Aku masih ingat jelas, dulu saat usiaku masih TK. Dengan tubuh kecil dan pipi tembam, aku datang ke acara maulid hanya mengenakan baju tidur babydol kuning bergambar beruang tanpa kerudung, tapi semangatku tak tertandingi. Malam maulid adalah saat yang selalu kutunggu, saat aku merasa darahku berdesir lebih cepat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Ini adalah kesempatan ku untuk mencari penghasilan buat jajan besok,” batinku penuh tekad. “Aku harus bisa ngalahin para cowok-cowok.”

Dan memang begitu adanya, aku satu-satunya anak perempuan di antara gerombolan anak laki-laki yang berebut koin. Tubuhku mungil, tapi aku tidak pernah gentar. Aku terhimpit di tengah kerumunan, dadaku sesak, lututku sering terbentur, bahkan kadang aku jatuh tersungkur di lantai semen musholla yang dingin. Tapi aku selalu bangkit lagi, karena di kepalaku hanya ada satu bayangan: besok aku bisa membeli jajanan favoritku dengan uang hasil perjuangan malam ini.

Malam itu, untuk pertama kalinya aku berhasil menjadi pemenang. Begitu bapak-bapak mulai melemparkan segenggam koin, tanganku yang kecil bergerak lebih cepat dari yang lain. Aku menunduk, meraih, meraup, bahkan menghalau tangan-tangan besar yang mencoba merebut. Satu per satu koin mengisi telapak tanganku hingga penuh, sampai akhirnya aku sembunyikan di balik baju tidurku. Anak-anak laki-laki yang lain menatapku dengan wajah kaget sekaligus kesal bagaimana mungkin seorang anak perempuan berhasil mengalahkan mereka?

Aku masih ingat rasa bangga yang membuncah, saat menggenggam koin-koin itu begitu erat seolah takut hilang. Mataku berbinar, pipiku memerah, dan dalam hati aku berteriak riang, “Aku bisa! Aku berhasil!” Bahkan sampai sekarang, di usiaku yang sudah 22 tahun, aku masih merasa kemenangan kecil itu begitu berharga. Dengan uang itu, aku bisa membawa bekal rasa percaya diri ke sekolah. Aku jajan lebih banyak dari biasanya, membeli permen, es lilin, hingga gorengan tanpa rasa khawatir kehabisan uang. Sepulang sekolah pun, sakuku masih menyisakan koin cukup untuk kembali membeli jajanan di warung dekat rumah.

Dan malam ini, di usiaku yang sudah jauh lebih dewasa, aku kembali berdiri di musholla yang sama, bersandar pada pilar, menyaksikan anak-anak kecil berebut koin seperti dulu aku melakukannya. Bedanya, kali ini aku tidak sendiri. Di sampingku ada seorang teman yang datang jauh-jauh dari ujung pulau untuk menghadiri maulid bersama. Aku tersenyum kecil sambil menceritakan pengalaman masa kecilku kepadanya tentang bagaimana aku pernah menjadi satu-satunya anak perempuan yang berhasil mengalahkan kerumunan anak laki-laki, demi segenggam koin yang dulu terasa seperti harta karun.

Widuri : “Mbak tau nggak, aku dulu kek mereka lo… habis mahalul qiyam tuh pada nanya ke semua orang, ‘dapet berapa, dapet berapa?’”

Wara : “Dapet berapa emang kamu dulu?”

Widuri : “Berapa ya… dulu lima ribuan gitu udah banyak banget lo mbak.”

Wara : “Iya sih…”

Kami tertawa kecil, sementara di depan kami anak-anak itu masih berebut dengan penuh semangat, sama persis seperti dulu aku melakukannya. Setelah mahalul qiyam selesai, semua warna duduk kembali dan melanjutkan do’a, dan setiap selesai acara maulid di desa ku pasti ada tradisi makan-makan, ambeng dari warga, jajan dari warga, minum dari warga semuanya dijadikan 1 dan dimakan bersama…moment ini hanya terjadi 1 kali dalam setahun, dan selama bertahun-tahun aku tidak akan pernah bisa melupakan kejadian saat aku TK, mungkin aku akan menceritakan dan mengumumkan kepada teman-teman ku yang ikut saat acara maulid di desaku….



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *