Krisis Literasi Indonesia: Ancaman Nyata bagi Generasi Muda?

Krisis Literasi Indonesia: Ancaman Nyata bagi Generasi Muda?


Seorang santri Pesantren Tebuireng membaca Majalah Tebuireng di Perpus Pesantren dan disampaingnya ada buku Belajar dari Realitas karya KH. Salahuddin Wahid pengasuh pesantren antrian buku untuk dibaca selanjutnya.

Coba kita bayangkan ada sebuah negara dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa, namun masih terjebak dengan krisisnya literasi. Yah, negara tersebut adalah Indonesia yang menemempati peringkat keempat penduduk terbanyak setelah Amerika Serikat. Negara Indonesia bukanlah negara yang kecil. Terbentang luas dengan bermacam-macam suku dan budaya yang khas. Maka dari itu akan semakin banyak pula tantangan dan rintangan yang akan dihadapi dalam membangun kualitas sumber daya manusia.

Literasi bukan hanya sekedar membaca buku saja, literasi mencakup sebagai alat berpikir kritis guna memahami informasi yang lebih aktual sehingga mampu menggunakan teknologi dengan bijak hingga bisa mengelola kehidupan finansial dan sosial. Pertanyaan pun muncul, bagaimana mungkin sebuah bangsa sebesar Indonesia bisa bermimpi menjadi ‘generasi emas’  jika akar literasinya semakin rapuh?

Data dari UNESCO tahun 2019 menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001. Hal ini menujukkan bahwa hanya satu dari seribu orang yang benar-benar gemar membaca. Angka ini sering sekali diperdebatkan, meskipun demikian namun faktanya berbagai survei nasional memperkuat analisa tentang lemahnya literasi di negara kita. Survei Indeks Literasi Digital Nasional 2022 yang dilakukan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika telah mencatat kenaikan indeks literasi digital pada tahun 2021 dari 3,49 menjadi 3,54 di tahun 2022 dengan angka agregat. Namun, aspek keamanan digital masih sangatlah rendah dengan skor perolehan hanya sekitar 3,12 ini menunjukkan kerentanan masyarakat terhadap hoaks dan penipuan online. Sejalan dengan laporan International seperti Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang memberikan penempatan kemampuan membaca siswa Indonesia di peringkat ke-62 dari 81 negara.

Hal ini seharusnya membutuhkan perhatian yang serius dari pemerintah untuk menindaklanjuti permasalahan literasi yang ada di Indonesia. Bukan hanya perpustakaannnya saja yang dibenahi tetapi juga minat baca masyarakat yang seharusnya diperbaiki. Makanya tidak heran jika masyarakat Indonesia sangat mudah memakan berita palsu karena masih sangat kesulitan dalam memahami bacaan secara mendalam dan juga rata-rata orang pasti hanya membaca judulnya saja tanpa memabaca isi dan penutup dari bacaan dan tanpa menelaah isi berita secara kritis.

Ada beberapa penyebab melemahnya literasi termasuk kualitas pendidikan yang belum merata. Banyak guru yang masih menekankan kepada muridnya untuk menghafalkan bukan memahami, mengevaluasi atau memprosduksi pengetahuan baru. Hal ini lah yang menyebabkan para murid menjadi bosan dalam belajar. Budaya membaca yang belum terbentuk juga menjadi penyebab lemahnya literasi karena masyarakat banyakk memilih hiburan instan seperti media sosial atau tontonan video singkat daripada membaca buku atau artikel. Memang hal seperti itu memudahkan akses informasi, tetapi juga dampaknya membuat perhatian masyarakat terpecah dan dangkal pengetahuan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Mudah terpengaruh hoaks dan ujaran kebencian juga menjadi dampak lemahnya literasi. Generasi muda menjadi kehilangan arah karena tanpa literasi yang baik, generasi muda akan sulit berpikir kritis sehingga kemampuan menganalisa sangat kurang.

Meski begitu, ada langkah yang dapat ditempuh untuk memperbaiki literasi. Dengan membangun budaya membaca sejak dini, hal ini menjadi peran khusus bagi orang tua untuk mendidik anak suka membaca pada usia dini. Selain itu juga meningkatkan kualitas perpustakan dengan koleksi yang menarik, menjaga ruang baca tetap aman dan nyaman sertakan juga literasi kreatif.

Penguatan peran guru juga bisa menjadi solusi dengan guru mengubah metode mengajar dari sekedar meghafal menjadi melatih analisis, berdiskusi dan menulis maka hal ini akan melatih murid bisa berpikir kritis. Pemanfaatan teknologi digital harus mengarah kepada literasi seperti e-book, jurnal atau membaca artikel ilmiah bukan hanya dijadikan hiburan semata. Sehingga teknologi digital bisa menjadi ruang belajar jika digunakan dengan bijak.

Melemahnya literasi di Indonesia menjadi alarm keras bagi kita semua karena bangsa yang tidak terbiasa membaca, menulis dan berpikir kritis akan sangat sulit menghadapi tantangan global. Bukan hanya soal buku, tetapi literasi adalah seni kehidupan untuk memahami dunia. Jika generasi muda di Indonesia tidak ingin menjadi generasi yang mudah terprovokasi maka budaya literasi harus ditanamkan sejak dini. Salam Literasi!

Baca Juga: Lemahnya Literasi Digital Menyumbang Keretakan Bersosial


Penulis: Nabila Rahayu

Editor: Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *