
Aku mengawali perjalanan ini dengan mengunjungi tempat belajar di masa lalu. Setiap aku melihat tempat yang pernah disinggahi selalu terbayang tawa canda. Mengayuh sepeda dengan bel nyaring, belajar, tertawa, menangis semua dilalui bersama kalian. Meskipun tidak berlangsung lama, kita akhirnya berpisah demi melanjutkan cita-cita. Banyak dari kalian yang melanjutkan ke luar negeri, sedangkan aku masih tetap disini hanya bergeser kota. Tapi aku bangga, dengan kalian dan dengan diri sendiri.
Setelah itu aku bersimpuh di maqbaroh, berziarah mendoakan para kyai sekaligus menyadarkan diri bahwa kematian itu adalah janji yang tak pernah ingkar. Tenang. Sepi sunyi. Sempat meneteskan air mata, berharap semoga aku bisa meneruskan dan melanjutkan perjalananini dengan restu dan doa dari para kyai.
Masih di perjalanan awal aku memutuskan untuk ikut berlibur bersama rekan kerja di kantor literasi. Selain berkuliah, aku juga meng-upgrade diri dengan berkarya. Meski karyaku pernah ditolak, tapi aku tetap berusaha untuk bergabung bersama mereka. Mereka dengan senang hati mau menerimaku. Di kantor literasi, aku telah menemukan banyak sekali ilmu. Bertukar pikiran itu adalah hal yang lumrah bagi kami. Dari mereka aku bisa belajar makna bertanggung jawab, disiplin dan rasa kekeluargaan.
Aku melanjutkan kisah dengan sibuk berkuliah. Seru. Dunia perkuliahan ternyata tidak semenakutkan itu. Meski memang ada perdebatan dalam berdiskusi, tapi itu adalah sebuah pembelajaran. Evaluasi kelas yang biasa dilakukan menjadikan kami lebih solid dan bisa memahami kesibukkan satu sama lain. Jujur, kalian adalah jawaban dari doa-doaku sebelum aku kuliah, karena aku mengira bahwa dunia perkuliahan itu sangat menakutkan mungkin dari segi pergaulan, gaya hidup atau yang lainnya. Tapi, dengan aku sekarang yang telah menjadi bagian dari kalian, aku lebih merasa hidup dan dihargai.
Di sepertiga dan seperempat perjalanan aku pulang. Menikmati perjalanan pulang dengan bahagia karena ada keluargayang telah menunggu kepulanganku. Meski dengan jarak tempuh 1.419,4 km tapi aku merasakan jarak itu sangat dekat sekali. Definisi keluarga adalah jauh dimata namun dekat di hati. Di rumah, keluarga menyambut kedatangaknu dengan riang gembira dan haru karena setahun sudah aku tidak pernah pulang, liburan semester pun aku sibuk berkelana di tanah rantau.

Aku dan keluarga tidak berlibur, hanya memilih untuk dirumah saja. Family time begitu istilahnya. Aku sempat memasak makanan, membantu ibudi dapur, bertukar cerita. Kadang ibu tertawa mendengar ceritaku. Tapi tak jarang juga ibu marah karena aku salah cara memasak. Sedangkan bapak mengasuh adik bungsu. Adikku ada 2. Perempuan semua. Kami bertiga sering disebut srikandi. Adikku yang kedua juga sering membersamai didapur. Di grup whatsapp, keluarga kami dinamai keluarga cemara. Kadang kompak, kadak kocak, kadang juga suka marah meledak-ledak.
Ketika aku mau balik ke tanah rantau, ada satu lagi yang belum aku temui selain keluarga di rumah dan keluarga besar. Dia, seorang laki-laki yang pernah mengajarkan bahwa mencintai itu tidak hanya menggunakan perasaan tapi juga harus menggunakan logika, memberikan pemahaman bahwa cinta tidak harus saling saling memiliki. Lama aku telah mengenalnya, tepat 6 tahun yang lalu. Bermula dengan benci lalu tumbuh sayang dihati. Entah sampai kapan aku berhenti untuk menemuinya.
Aku memilih untuk bertemu dengannya setelah sebelumnya ada permasalahan. Kami berdua mengobrol ringan, membahas realitas permasalahan, membahas tentang pendidikan dan karir masing-masing, aku yang lebih banyak bercerita dan dia menjadi pendengar. Dia adalah laki-laki yang pintar, bahkan sangat pintar. Tanpa alasan aku memilihnya. Bukan karena tampannya, kepintarannya atau karena sikapnya. Tanpa itupun aku tetap ingin bersamanya, meski aku hanya menjadi pilihan utamanya diantara pilihan-pilihan lainnya. aku selalu melibatkan jalur langit, agar aku bukan hanya dijadikan pilihannya tetapi juga dijadikannya tujuan.
Aku kembali di tanah rantau. Merajut asa, merapihkan semua wishlist yang berlum terlaksana. Dan tentunya aku sudah menjadi yang berbeda. Aku dipilih menjadi pengurus. Kenyataan pahit yang harus aku terima. Ketidaksukaan itu selalu berdampingan denganku. Dan aku mulai untuk memilih berdamai. Aku berdiri dengan kakiku sendiri, menggapai apa yang sudah aku tulisa di buku harian aku. Termasuk salah satunya aku ingin menjadi mc di acara wisuda kampus. namun ternyata, aku hanya bisa menjadi mc yudisium, karena kata dosen yang akan mnejadi mc wisuda itu akan diambil alih oleh dosen. Sengat menutup kesempoatan untuk aku tampil menjadi mc lagi.
Di setengah perjalanan ini, aku sangat bersyukur karena masih bisa merasakan kehangatan kasih sayang dan kebersamaan serta kekeluargaan dari teman-teman, guru dan semua yang teelah berperan dalam setengah perjalanan ini. Semoga kalian dan aku mampu mengukir kebaikan untuk rangkuman 365 hari nanti.
Penulis: Nabila Rahayu
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

