
Semakin ke sini, film Indonesia mulai berani mengangkat kisah rumah tangga yang rapuh karena perselingkuhan. Tema ini bukan sesuatu yang baru, tetapi belakangan semakin marak dan justru laku keras di pasaran. Ada Ipar Adalah Maut yang mengisahkan pengkhianatan seorang suami dengan adik iparnya. Ada pula La Tahzan: Cinta, Dosa, Luka yang menampilkan kisah majikan, suami, dan pengasuh rumah tangga dengan bumbu mistis.
Terbaru, ada Norma: Antara Mertua dan Menantu, film yang lahir dari kisah viral tentang seorang menantu yang dikhianati oleh ibu mertuanya sendiri. Dari deretan judul itu terlihat jelas bahwa selera pasar Indonesia sedang condong ke drama rumah tangga yang sarat pengkhianatan. Pertanyaannya, apakah film seperti ini memberi manfaat bagi penonton, atau justru menyisakan kekhawatiran bagi generasi mendatang?
Manfaat pertama yang bisa kita lihat adalah bahwa film-film semacam ini menghadirkan cermin sosial. Perselingkuhan bukanlah fenomena fiksi, melainkan kenyataan yang memang ada di masyarakat. Tidak jarang kita membaca berita tentang suami berselingkuh dengan adik ipar, atau pengasuh yang merebut suami majikan, bahkan kisah yang lebih ekstrem seperti hubungan terlarang mertua dengan menantu.
Baca Juga: Memetik Pesan dalam Film Ipar adalah Maut
Film hanya memindahkan cerita itu ke layar lebar, membuatnya lebih nyata dan lebih dekat dengan emosi penonton. Dengan menonton, kita seolah diberi kesempatan untuk memahami betapa rapuhnya institusi rumah tangga jika tidak dijaga. Penonton bisa melihat bagaimana luka yang ditinggalkan tidak hanya dirasakan pasangan, tetapi juga anak-anak yang tumbuh dalam kehancuran.

Manfaat kedua adalah tumbuhnya empati. Karakter-karakter korban dalam film seperti Alina di La Tahzan atau Norma di film Norma memberi wajah nyata pada rasa sakit akibat dikhianati orang terdekat. Dari situ penonton belajar bahwa perselingkuhan tidak pernah sederhana. Ia bukan hanya soal cinta yang bergeser, tetapi soal kehancuran martabat, hilangnya kepercayaan, dan trauma jangka panjang. Menonton kisah seperti itu dapat menumbuhkan kesadaran moral, bahwa bermain-main dengan kesetiaan akan membawa akibat buruk yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan pribadi.
Namun di sisi lain, ada risiko yang tidak bisa diabaikan. Tidak semua penonton akan menangkap pesan moral dengan sama baiknya. Sebagian, terutama generasi muda yang masih mencari identitas, bisa saja terjebak pada romantisasi hubungan terlarang. Jika film terlalu banyak menampilkan sisi “seru” atau “drama” dari perselingkuhan, sementara akibat buruknya hanya muncul sekilas, maka bisa muncul kecenderungan untuk menganggap perselingkuhan sebagai sesuatu yang wajar. Inilah titik rawan yang menimbulkan kekhawatiran, sebab film adalah medium yang kuat mempengaruhi imajinasi.
Kenapa kemudian film dengan tema semacam ini begitu laku? Jawabannya sederhana karena cerita itu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Semua orang tahu apa itu keluarga, semua orang mengerti rasa cemburu, rasa sakit, dan amarah akibat pengkhianatan. Tidak seperti film bergenre fantasi atau fiksi ilmiah yang menuntut imajinasi tinggi, drama perselingkuhan mudah dipahami dan segera menancap di emosi. Penonton merasa terhubung karena bisa berkata, “Saya pernah lihat kasus ini,” atau bahkan, “Saya sendiri pernah mengalaminya.” Relasi emosional inilah yang membuat tiket terjual banyak.
Baca Juga: Memetik Pesan dalam Film Ipar adalah Maut
Selain itu, faktor sensasi juga tidak bisa dikesampingkan. Kisah perselingkuhan menyajikan roller coaster emosi: dari adegan manis, beralih ke adegan pengkhianatan, lalu ledakan amarah, hingga tangisan penuh luka. Bagi penonton, ini menghadirkan pengalaman menonton yang intens. Tidak heran jika film seperti *Ipar Adalah Maut* bisa menembus jutaan penonton hanya dalam hitungan minggu. Ditambah lagi, kisah yang diangkat sering berasal dari fenomena viral di media sosial, yang otomatis sudah memiliki basis audiens sebelum filmnya rilis. Kasus Norma, misalnya, sudah lebih dulu ramai di pemberitaan dan media daring, sehingga filmnya tinggal melanjutkan arus perhatian itu.
Namun keberhasilan komersial tidak selalu berbanding lurus dengan penerimaan yang hangat. Film Norma: Antara Mertua dan Menantu misalnya, meski diangkat dari kisah nyata yang sempat heboh, ternyata tidak sesukses yang diperkirakan. Tayang saat Lebaran, film ini justru tertinggal dari genre horor dan komedi yang lebih ringan. Bisa jadi, penonton tidak siap disuguhi cerita penuh luka dan pengkhianatan di saat mereka ingin merayakan hari raya bersama keluarga besar. Ini menunjukkan bahwa ada batasan pada selera penonton: meski drama rumah tangga laku, ada konteks tertentu yang membuatnya sulit diterima.
Kekhawatiran lain muncul pada sisi pendidikan moral. Film-film dengan tema perselingkuhan harus dikelola dengan hati-hati agar tidak jatuh pada normalisasi. Peran pembuat film di sini besar sekali. Mereka tidak boleh sekadar menjual sensasi, tetapi juga harus memastikan bahwa pesan yang sampai ke penonton jelas: perselingkuhan menghancurkan. Beberapa produser mencoba mengantisipasi ini dengan memberi rating usia, atau menekankan pesan moral di akhir cerita. Tetapi tentu, tanggung jawab tidak bisa diletakkan pada film saja. Keluarga, guru, dan media juga perlu mendampingi. Setelah menonton, orang tua bisa mengajak anak berdialog: “Lihat, ini akibatnya kalau main api.” Dengan begitu, film yang awalnya tampak berbahaya bisa berubah menjadi bahan edukasi.
Kita juga perlu mengakui bahwa film bukan sekadar alat hiburan, tetapi juga medium refleksi budaya. Fenomena larisnya film perselingkuhan menunjukkan ada kegelisahan sosial yang sedang mengemuka. Banyak orang merasa realitas rumah tangga semakin rapuh, nilai kesetiaan tergerus, dan media sosial membuat kasus pengkhianatan lebih mudah terekspos. Film hadir untuk merekam itu semua, sekaligus menawarkan katarsis: penonton menangis bersama korban, marah kepada pelaku, dan merasa lega karena kisah itu berakhir di layar, bukan di rumahnya sendiri.
Baca Juga: Belajar Lewat Film Jumbo, Ada Pesan untuk Orang Tua
Lalu, apakah film seperti ini bermanfaat atau berbahaya? Jawabannya bisa dua-duanya. Ia bermanfaat jika ditonton dengan kesadaran bahwa ini adalah peringatan, bukan inspirasi. Ia berbahaya jika ditelan mentah-mentah, terutama oleh generasi muda yang rentan melihat sisi “indah” dari hubungan terlarang. Inilah yang membuat film seperti La Tahzan, Ipar Adalah Maut, atau Norma, menjadi pisau bermata dua. Satu sisi membuka mata, sisi lain bisa menggores jika tidak digunakan dengan hati-hati.
Tanggung jawab terbesar ada pada dua pihak: pembuat film dan penonton. Pembuat film harus jujur, tidak hanya menampilkan sensasi, tetapi juga konsekuensi yang nyata dan menyakitkan. Penonton harus dewasa, tidak hanya menikmati drama, tetapi juga mengambil pelajaran. Jika dua hal itu bisa bertemu, maka film drama perselingkuhan tidak lagi sekadar jualan air mata, melainkan menjadi sarana pembelajaran sosial. Sebab bagaimanapun, rumah tangga adalah ruang paling sakral dalam hidup, dan film bisa mengingatkan kita betapa rapuh sekaligus berharganya ruang itu.
Penulis: Albii
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

