
Merdeka yang Masih Dicicil
Mereka bilang kita merdeka
Sejak bendera itu berkibar di langit merona
Tapi di pasar, suara pedagang dicekik pajak
Di ladang, petani menanam utang sebelum menanam padi
Di sekolah, anak-anak menghafal pahlawan
Tanpa pernah belajar bagaimana menjadi pahlawan
Merdeka itu masih dicicil
Dengan keringat yang tak pernah lunas
Dengan janji yang diucap di panggung
Tapi tak pernah turun ke tanah tempat kita berdiri
Lagu di Balik Jeruji
Kami menyanyi lagu kebangsaan
Dengan nada yang sama, tapi perut yang berbeda
Sementara mulut ini tak bisa berteriak
Karena kata-kata sudah disulap jadi peluru
Menembus dada yang mencoba jujur
Mereka bilang, suara rakyat adalah suara Tuhan
Tapi kami tahu, suara rakyat sudah disewa
Dipotong, dipelintir, dijual kembali
Dan kami—tetap di sini
Menghafal kebebasan, tapi tak pernah memilikinya
Di Bawah Bendera yang Robek
Bendera itu berkibar
Tapi di ujungnya ada robekan
Bekas tarikan orang lapar yang mencoba menggenggam harapan
Di bawahnya, kami berdiri
Menatap warna merah yang tak selalu berarti berani
Dan putih yang tak lagi suci
Kami masih bertanya
Untuk siapa kemerdekaan ini diarak?
Jika di jalan, kaki-kaki telanjang
Masih menginjak aspal panas yang dibayar dengan air mata
Dan setiap doa kemerdekaan
Selalu berakhir dengan tanda tanya
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary

Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

