Hubungan Antara Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Tan Malaka

Hubungan Antara Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan Tan Malaka


KH. Hasyim Asy’ari dan Tan Malaka

Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai tokoh nasional, Rais Akbar Jam’iyyah Nahdhatul Ulama, dan Penggerak Revolusi Jihad. Adapun Tan Malaka dikenal sebagai Bapak Republik yang memimpin pergerakan bawah tanah dalam mewujudkan berdirinya Republik Indonesia melalui sumbangsih pemikirannya yang progresif. Namun apa jadinya jika kedua tokoh nasional ini memiliki hubungan yang cukup erat dalam menyatukan visi misinya. Mengingat Bung Tan sendiri sejatinya tidak sepenuhnya berhaluan kiri, hal ini sebagaimana yang ia tuturkan sendiri pada risalah “Islam dalam Tinjauan Madilog”. Maka dalam hal ini, kami mengupas sedikit harmonisasi kedua tokoh tersebut yang saling berkesinambungan baik itu terjadi sebelum Indonesia merdeka, maupun pasca Indonesia merdeka.

Relasi kedua tokoh pergerakan ini dimulai pada tahun 1921 sebelum Bung Tan pada tahun 1922 melakukan rihlah ke Belanda – Moskow. Bersama dengan kawan sejawat pemikir kirinya yang bernama Semaoen, mereka berdua sowan ke Tebuireng guna meminta nasehat dan masukan kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tentang perjuangannya melawan penjajah serta meminta pendapat kepada beliau tentang relasi sosialisme dengan Islam (Aguk Irawan, 2014: 312–317).

Kedua tamu ini dibuat tercengang dengan jawaban Hadratussyaikh bahwa sosialisme adalah perwujudan dari iman. Nampaknya kedua tokoh ini sependapat dengan beliau, karena kawan pemikir kiri lainnya yang bernama Haji Misbach dan Natar Zainuddin juga menyatakan bahwa sosialisme itu sejalan dengan semangat Rahmatan Lil ‘Alamin.[1] Dalam pertemuan ini, Bung Tan juga mengungkapkan kepada Kiai Hasyim bahwa ia ingin menyebarkan pemikiran Sosialis – Islamnya mengenai kewajiban membayar zakat, melindungi buruh, dan para fakir miskin pada Koran Pemandangan Islam.

Hubungan Tan Malaka dengan Tebuireng tidak hanya sampai di sini saja, pada masa pergerakan di tahun 1945. Bung Tan juga pernah bertamu ke kediaman KH. Wahid Hasyim (tokoh nasional muda yang masih merupakan putra Hadratussyaikh dan anggota dari panitia 9) di Jl. Diponegoro, Jakarta. Gus Dur menuliskan pertemuan ayahnya dengan Bapak Republik tersebut dalam esainya yang berjudul “Membaca Sejarah Lama”. Dalam esai tersebut Gus Dur yang kala itu masih berumur 5 tahun mengisahkan bahwa ia sering membukakan pintu seorang tamu yang bernama Ilyas Husein serta menanyakan keberadaan ayah Gus Dur di kediaman. “Lelaki berbaju biru dengan kulit hitam yang datang setelah maghrib itu, kemudian dirangkul oleh ayah penulis dan mereka berciuman sangat hangat, seperti laiknya dua orang saudara yang sudah lama tidak bertemu”, tulis Gus Dur. Di kemudian hari Gus Dur menyadari jika Pak Husain tersebut adalah Tan Malaka dengan nama samarannya berdasarkan informasi yang ia peroleh dari ibunya, Nyai Sholichah Bisri sebelum wafat.

Salah satu sejarawan ternama dari Sulawesi yang bernama Gurutta Ahmad Baso juga mengungkapkan hubungan Bung Tan ini dengan Kiai Wahid dalam unggahan facebook–nya tertanggal 18/01/2016. Dalam unggahan tersebut Ahmad Baso memaparkan jika antara Tan Malaka dan Kiai Wahid Hasyim terjalin sebuah keakraban pada sebuah organisasi GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia), di mana organisasi tersebut dirintis oleh Tan Malaka (Harry Poeze, Jilid II: 2008, 145 -146).

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Selain itu, Harry Poeze yang merupakan pengamat perjalan hidup Tan Malaka menuliskan bahwa pasca pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, Bung Tan yang kala itu posisinya berada di Yogyakarta bertandang sowan kembali kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dengan beberapa orang kepercayaannya.

“Pada 12 atau 13 November Tan Malaka meninggalkan Yogya bersama orang–orang kepercayaannya, Chaerudin Djalil dan Umar Sugondo dengan mobil kabriolet putih Plymouth DeSoto. Petang hari sekitar pukul delapan berhenti di sebuah hotel di Mojokerto. Chaerudin mengatur pertemuan dengan tokoh tua Kyai Hasyim Asy’ari yang berusia 75 tahun, seorang pendiri dan ketua Nahdlatul Ulama yang tradisional dan sangat berwibawa di pesantrennya di Tebuireng. Hasyim Asy’ari juga ayah Wahid Hasyim yang di jaman pendudukan dan Republik merupakan wakil terkemuka Islam. Ia seorang menteri dalam cabinet pertama dan anggota Badan Pekerja. Tan Malaka dan Umar Sugondo yang barangkali juga ikut, karena ia lama tinggal di Tanah Suci dan menunaikan ibadah haji, tidak sekedar melakukan kunjungan kehormatan belaka. Mereka bermusyawarah dari pukul Sembilan petang sampai salat subuh”, tulis Poeze.[2]

Sederet data tadi sudah membuktikan bahwa Bapak Republik kita meskipun berhaluan kiri, tapi ia tidak sepenuhnya berpaham atheis (anti Tuhan). Bahkan selepas keluar dari penjara Madiun, dikabarkan oleh Koran Kawan Rakyat yang terbit pada pertengahan Oktober 1948. Bahwa Tan Malaka bepenampilan layaknya seorang Kiai dengan menggunakan sarung dan peci hitam. Pun ketika ia bergeriliya menjelang kewafatannya di tahun 1949.[3] Dituliskan oleh Poeze jika Bung Tan mulai gemar mengoleksi jimat para kiai.[4] Waba’du, demikian sepenggal kisah perjumpaan dua tokoh ini yang meskipun mereka memiliki ideology yang berseberangan, namun tidak menyurutkan semangat dalam menegakkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wallahu A’lam.

Baca Juga: Pertanyaan Presiden Soekarno Dijawab Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari


[1] Badruddin, “Kisah Tan Malaka Dari Balik Penjara dan Pengasingan : Menelusuri Biografi dan Jejak Sang Revolusioner Sejati”, (Yogyakarta : Penerbit Araska, 2020), 89.

[2] Harry A. Poeze, “Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, Jilid 1: Agustus 1945 – Maret 1946”, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2008), 159.

[3] Harry A. Poeze, Jilid 4: 2008, 41.

[4] Harry A. Poeze, Jilid 3: 2008, 145.


Penulis: Akmal Khafifudin 

Editor: Muh. Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *