Fenomena Poppy Tall Syndrome di Tengah Masyarakat

Fenomena Poppy Tall Syndrome di Tengah Masyarakat


Ilustrasi poppy tall syndrome (sumber: narasitv)

Di tengah arus budaya populer yang begitu cepat mengagungkan prestasi, kepopuleran, dan pengakuan publik, muncul fenomena yang dikenal dengan istilah Poppy Tall Syndrome. Istilah ini berasal dari peribahasa di Australia dan Selandia Baru yang menggambarkan kecenderungan sosial untuk merendahkan atau menjatuhkan seseorang yang dianggap menonjol, berbeda, atau lebih unggul dari lingkungannya. Di Indonesia, gejala serupa dapat terlihat dari munculnya komentar-komentar sinis terhadap individu yang berhasil, berkembang, atau tampil menonjol di tengah masyarakat.

Disisi lain, fenomena Poppy Tall Syndrom juga mengacu pada kebiasaan sebagai masyarakat untuk “memangkas” orang-orang yang dianggap terlalu menonjol. Dalam konteks sosial, istilah ini bisa dipahami sebagai sikap tidak suka melihat orang lain terlalu tinggi, sukses, atau mendapat sorotan lebih dibanding kebanyakan. Akibatnya, muncul komentar sinis, hujatan, bahkan upaya menjatuhkan reputasi orang tersebut. Dalam Islam, tindakan ini sangat dekat dengan sifat hasad (iri dengki).

Rasulullah SAW bersabda: “Waspadalah kalian terhadap hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud)

Baca Juga: Fenomena Hustle Culture dalam Timbangan Islam

Orang yang gemar menjatuhkan, menjelekkan, atau mencemooh keberhasilan orang lain adalah cerminan dari kegagalan memelihara hati dari penyakit hasad. Islam justru mendorong umatnya untuk saling mendoakan, saling mendukung dan bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT kepada orang lain.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Fenomena Poppy Tall tak hanya soal orang yang merasa “terlalu tinggi” di masyarakat. Tetapi juga ketika publik menjatuhkan atau memojokkan tokoh yang dianggap menonjol, baik melalui komentar, spekulasi, ataupun tuduhan yang kadang tanpa bukti kuat. Di era digital seperti saat ini, media sosial memegang peran besar seperti munculnya kabar viral, opini publik, dan asumsi lain yang dapat cepat menyebar. Terutama jika melibatkan tokoh publik.

Dalam sejarah Islam, kita melihat bahwa para nabi dan orang-orang saleh seringkali menonjol di tengah masyarakat karena akhlak dan perjuangan mereka. Namun, mereka tetap rendah hati. Nabi Muhammad adalah sosok paling agung dalam sejarah, tetapi beliau dikenal sangat tawadhu atau rendah hati. Beliau tidak pernah menempatkan diri di atas umatnya, ketika beliau adalah pemimpin negara dan seorang rasul.

“Aku hanya seorang hamba, maka aku makan sebagaimana hamba makan, dan aku duduk sebagaimana hamba duduk.” (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Hibban)

Baca Juga: Mengenal Fenomena Fomo pada Generasi Saat ini 

Namun di sisi lain, ada pula bentuk pembalikan dari sindrom ini, yaitu individu yang menonjol justru terjebak dalam kesombongan karena merasa lebih tinggi, lebih pintar, atau lebih suci dibanding orang lain. Keduanya (merendahkan yang menonjol dan menonjol yang menyombongkan diri) memiliki implikasi serius dalam perspektif keislaman.

Islam memandang kesombongan atau kibr, sebagai penyakit hati yang berbahaya. Dijelaskan dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Kesombongan dalam konteks ini tidak terbatas pada sikap menghina orang lain, tetapi juga pada perasaan merasa diri paling unggul atau paling benar. Dalam konteks Poppy Tall, ketika seseorang merasa lebih dari yang lain dan memandang rendah sesamanya, ia telah melangkah ke wilayah yang sangat dilarang oleh agama.

Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong. Sesungguhnya kamu tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan sampai setinggi gunung.” (QS. Al Isra’:37)

Ayat ini secara jelas mengecam perilaku arogan. Dalam dunia modern, kesombongan bisa hadir dalam bentuk pamer pencapaian di media sosial, merendahkan mereka yang tidak selevel, atau merasa paling benar karena pengikut atau status sosial.

Menjadi seorang yang dikenal, viral atau menonjol bukanlah hal yang dilarang dalam Islam. Namun yang diuji adalah bagaimana seseorang menyikapi posisi tersebut, apakah ia tetap rendah hati atau justru terjerumus dalam kesombongan.

Baca Juga: Menyoal Fenomena ‘Influencer’ & Flexing di Medsos

Dalam dunia yang cepat menghakimi, Islam hadir sebagai jalan tengah. Islam tidak mengharamkan ketenaran atau prestasi. Namun, ketenaran harus disertai akhlak yang mulia. Kita boleh menjadi pohon poppy yang tinggi, namun jangan sampai akar kita tidak menancap di bumi. Karena tinggi yang sebenarnya adalah ketika seseorang tetap tunduk di hadapan Allah dan tidak merasa lebih baik dari makhluk lainnya.

Fenomena Poppy Tall mengingatkan kita bahwa masyarakat Islam harus mampu menjaga keseimbangan. Jangan menjatuhkan mereka yang sukses, tapi juga jangan membiarkan kesuksesan menjadikan seseorang lupa diri. Puncak spiritualitas bukan pada pengakuan manusia, tetapi pada seberapa dalam kita menyadari kebesaran Allah dan kerendahan diri kita di hadapan-Nya.

Dalam Islam, setiap keunggulan adalah amanah, bukan alat untuk meninggikan diri. Menghormati yang menonjol, dan bagi yang menonjol untuk tetap merendah. Itulah kunci kehidupan sosial yang diajarkan Islam, Semoga kita semua menjadi pohon poppy yang tinggi karena ilmu dan amal. Namun tetap berakar pada tanah kerendahan hati. Keberhasilan orang lain juga seharusnya menjadi motivasi untuk ikut berusaha dan berdoa. Bukan malah mendorong kita untuk membenci dan merendahkan.



Penulis: Anik Wulansari, M.Med.Kom.
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *