Cahaya di Tengah Dunia | Tebuireng Online

Cahaya di Tengah Dunia | Tebuireng Online


Ilustrasi kesederhanaan santri (sumber: lirboyonet)

Di sebuah pondok kecil di pinggiran kota, hiduplah seorang santri bernama Hilman. Dari luar, ia tampak seperti santri kebanyakan: bersarung, berpeci hitam, dan selalu membawa kitab lusuh di tangannya. Namun di balik kesederhanaan itu, hatinya sering gelisah, terutama ketika berbicara tentang dunia.

Layaknya manusia biasa, Hilman memiliki kelebihan dan kekurangan. Kekurangannya adalah ia mudah sekali terpesona oleh gemerlap kehidupan di luar pondok. Saat teman-temannya tekun menghafal Alfiyah atau mendalami Fathul Qorib, pikirannya justru melayang ke hal-hal lain: motor dengan modifikasi keren, sepatu baru, baju bermerek, bahkan sarung yang motifnya senada dengan pecinya.

“Kalau aku kaya nanti, pasti hidupku enak banget. Mau apa aja bisa kebeli tanpa mikir harga,” gumamnya suatu malam di teras masjid yang sepi.

Lama-kelamaan, kebiasaan itu membuat Hilman kehilangan semangat belajar dan beribadah. Ngaji di mushala sering terlambat, salat jamaah sering masbuk, dan hafalannya pun mulai berantakan. Hingga suatu hari, sebuah peristiwa mengguncang hatinya.

Ayahnya datang menjenguk. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat karena lelah bekerja. Tangannya yang kapalan menunjukkan betapa keras perjuangannya mencari nafkah. Sambil tersenyum, ia menyerahkan amplop berisi uang bulanan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

“Maaf ya, Lee… cuma segini. Ayah kerja tambahan biar bisa nyukupi biaya mondokmu.”

Hati Hilman tercekat. Selama ini ia sibuk memikirkan dunia yang mewah, sementara ayahnya berjuang tanpa kenal lelah demi dirinya. Air matanya hampir jatuh, tapi ia tahan sekuat mungkin.

Malam itu, saat pengajian kitab bersama Kiai Zubair, Hilman merasa kosong. Ayat dan syarah yang dibacakan seolah lewat begitu saja tanpa makna. Tiba-tiba Kiai menutup kitabnya, menatap para santri dengan mata teduh namun penuh wibawa.

“Anak-anakku,” ucapnya lembut, “hati-hati dengan cinta dunia. Hubbud dunya ra’su kulli khathi’ah — cinta dunia adalah pangkal segala kesalahan. Jika hatimu terikat pada dunia, maka akhiratmu akan menjauh darimu.”

Suasana hening. Semua santri terdiam. Hilman menunduk semakin dalam.

Kiai melanjutkan, “Dunia ini hanyalah panggung sementara. Apa yang kamu banggakan hari ini, bisa hilang esok. Rumah megah bisa roboh, harta bisa lenyap, tubuh yang sehat bisa sakit, dan umur pun akan habis pada waktunya. Tapi ilmu yang kamu cari, doa yang kamu panjatkan, dan amal saleh yang kamu kerjakan — itulah bekal yang kekal.”

Beliau berhenti sejenak, suaranya mulai bergetar. “Nak, orang tuamu banting tulang bukan supaya kalian pandai mengejar dunia. Mereka ingin kalian jadi anak saleh yang selalu mendoakan mereka. Kalau kalian sibuk mengejar dunia, siapa yang akan menolong mereka di alam kubur nanti?”

Kata-kata itu menembus hati Hilman. Ia tak mampu menahan tangis. Wajah ayahnya terbayang jelas — tubuh kurus, tangan kasar, dan senyum lelah yang tetap hangat.

Malam itu, usai pengajian, Hilman kembali ke kamarnya. Ia bersujud lama dalam salat tahajud, menangis tanpa henti.

“Ya Allah, aku sungguh lalai. Ampuni aku, ya Rabb. Aku terlalu cinta dunia, sampai lupa pada-Mu. Ajari aku mencintai-Mu lebih dari apa pun.”

Sejak malam itu, Hilman berubah. Ia lebih rajin mengaji, lebih khusyuk dalam salat, dan lebih ringan hatinya. Ia sadar, hidup bukan untuk mengejar dunia, melainkan untuk mencari ridha Allah dan kebahagiaan yang abadi.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *