Cinta yang Sia-Sia | Tebuireng Online

Cinta yang Sia-Sia | Tebuireng Online


Sebuah ilustrasi lelaki patah hati (sumber: cssmora)

Di sebuah pondok pesantren yang jauh dari kota, yang letaknya mewah—mepet sawah—tinggallah seorang santri putra bernama Akbar Fikri Haikal. Ia memiliki wajah tampan, gaya bicara puitis dan manis. Tak heran, ia pandai memikat hati lawan jenis.

Hampir setiap waktu istirahat, ia terlihat duduk di sudut halaman, sibuk dengan ponsel yang disembunyikan di balik sarungnya. Bukan untuk mengaji kitab digital, melainkan untuk mengirim pesan kepada pacarnya yang mondok di kota.

Pelajaran kitab? Ia sering bolos. Ngaji malam? Lebih sering tidur dengan dalih, “kepala pusing.”
Shalat berjamaah? Kadang ia ikuti, tapi hatinya melayang pada notifikasi pesan di handphone-nya.

Banyak teman sudah menasihatinya, tapi ia hanya tertawa. Seperti itulah orang yang sedang kasmaran, sulit menerima nasihat baik.

“Ah, cinta itu semangat hidupku. Tanpa dia, aku malas ngapa-ngapain. Kayak nggak punya gairah menjalani kehidupan,” katanya enteng.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hari-hari Fikri di pondok lebih banyak habis untuk memikirkan pacarnya. Ia sering menulis surat cinta panjang, bahkan kadang mencuri waktu keluar sekadar menitipkan hadiah kecil. Semua itu membuatnya lupa tujuan utama mondok: mencari ilmu, bukan mencari pacar.

*****

Suatu malam yang sunyi, ketika semua santri serius mengaji dan mendengarkan kiai, Fikri memilih berdiam diri di kamar. Ponselnya bergetar berkali-kali. Ia membuka pesan, dan jantungnya berdegup kencang.

“Kita putus aja, Mas. Maaf, aku capek. Aku sudah dekat dengan yang lain, yang lebih dari kamu.”

Dunia Fikri runtuh. Tangannya gemetar, matanya panas, dadanya sesak. Malam itu ia menangis diam-diam, tak ada yang tahu. Ia yang biasanya tersenyum, kini muram. Ia yang biasanya penuh percaya diri, kini lunglai seakan kehilangan jati diri.

Hari-hari setelah itu, Fikri tak lagi bersemangat. Ia jarang makan, tak bergurau dengan teman. Ia sering menutup pintu kamar, meringkuk di kasur, menatap kosong ke langit-langit kamar yang mulai dipenuhi sawang laba-laba.

Teman-temannya hanya bisa menggeleng.

“Dulu sudah diingatkan, tapi nggak mau dengar sih…”

Suatu sore, ketika Fikri berjalan lesu di halaman, langkahnya terhenti oleh suara lembut tapi tegas dari serambi ndalem. Bu Nyai rupanya memperhatikan perubahan itu.

“Nak Fikri, kemari sebentar.”

Dengan kepala tertunduk, ia mendekat. Bu Nyai menatapnya penuh kasih sayang.

“Kamu kelihatan murung sekali. Ada apa? Sudah habis tah masa jatuh cintanya? Ingat, Le… yang kamu cari di pondok itu apa? Ilmu, atau cinta seorang santri wati?”

Fikri tak bisa menjawab. Tenggorokannya kering, matanya basah.

Bu Nyai melanjutkan,

“Nggak usah pacaran, Le. Sia-sia saja memikirkan anak orang kalau ternyata bukan jodohmu. Ingat, kalau memang jodoh, Allah sendiri yang akan mendekatkan di waktu yang tepat, meskipun kalian berjauhan dan tak saling kenal. Tapi kalau bukan, meski kamu sudah berkorban banyak hal, tetap saja dilepas. Jangan habiskan waktumu untuk sesuatu yang tak pasti. Hidup ini terlalu berharga untuk dihambur-hamburkan hanya demi rasa fana tanpa restu dari Sang Pencipta.”

Kalimat itu sukses menampar hati Fikri. Air matanya jatuh deras. Ia sadar, cintanya hanyalah bayangan. Ia rela mengorbankan ilmu, waktu, bahkan ibadah, untuk sesuatu yang akhirnya hilang begitu saja.

*****

Malam itu, Fikri duduk di shaf paling belakang musholla. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kembali membuka mushaf Al-Qur’an. Suaranya serak, terbata-bata, tapi ada ketenangan yang perlahan menyelinap ke dadanya tanpa pamit.

“Ya Allah, ampuni aku. Aku sia-siakan waktuku. Aku sengaja menjauh hanya untuk mengejar sesuatu yang ternyata bukan milikku.”

Sejak saat itu, Fikri mulai berubah. Ia memaksa diri ikut ngaji meski hatinya masih sakit. Ia menuliskan catatan kecil:

“Cinta sejati bukan pada anak orang, tapi pada ilmu dan Allah yang memberi jalan kemudahan.”

Teman-temannya terkejut melihat perubahan itu. Fikri yang dulu malas, kini rajin datang ke pengajian. Ia yang dulu sibuk dengan ponsel, kini sibuk dengan kitab. Meski luka hatinya belum sembuh, ia mencoba berdamai dengan kenyataan.

Kini Fikri tahu, cinta manusia memang memabukkan: membuat lupa arah dan sering meninggalkan luka. Ia merasakannya sendiri—betapa sia-sianya mengorbankan ilmu dan waktu hanya demi seseorang yang pada akhirnya bukan jodohnya.

Dari dawuh Bu Nyai, ia belajar bahwa jodoh itu urusan Allah. Kita tidak bisa memaksa, tidak bisa merayu dengan doa setengah hati. Yang bisa dilakukan hanyalah memperbaiki diri, menuntut ilmu, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Pada akhirnya, cinta yang paling setia hanyalah cinta kepada Allah. Dan ketika kita meletakkan cinta itu di tempat yang benar, barulah hidup terasa tenang dan damai.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *