Bukan Tepak Pensil Biasa | Tebuireng Online

Bukan Tepak Pensil Biasa | Tebuireng Online


Sebuah ilustrasi kerajinan tangan dari stik ice cream (sumber: youtube)

Aku masih ingat hari itu, pagi yang cerah di awal bulan Juli. Faza, anakku yang baru naik kelas 1 SD, duduk di pinggir ranjang dengan wajah murung. Usianya baru enam tahun, namun sorot matanya tampak jauh lebih tua, seolah menyimpan beban yang tidak bisa diucapkan.

Sejak kami pindah mengikuti pekerjaan ayahnya ke luar pulau, Faza kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam dunianya, teman-teman kecilnya.

“Bu,” katanya lirih, “aku kangen Fardan sama Lusi.”

Aku hanya bisa tersenyum getir. Fardan dan Lusi adalah dua sahabatnya sejak TK. Hampir setiap hari Faza bercerita tentang mereka, tanpa aku minta. Ia mengulang kisah yang sama, tentang saat mereka bermain petak umpet di halaman sekolah, tentang ketika Lusi menangis karena kehilangan penghapus, dan Fardan yang diam-diam menyelipkan permen di tas Faza agar ia berhenti merajuk.

Kini cerita-cerita itu hanya tinggal kenangan.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebagai seorang ibu, hatiku terasa teriris. Aku tahu, anakku tengah berjuang dengan rasa kehilangan yang belum tentu bisa dimengerti orang dewasa sekalipun. Di sini, di sekolah barunya, Faza belum punya teman dekat. Anak-anak di kelasnya sibuk dengan lingkaran pertemanan yang sudah terjalin sejak lama. Faza berusaha masuk, tapi selalu kembali pulang dengan wajah muram.

“Faza nggak apa-apa, Bu. Tapi Faza ingat terus Fardan sama Lusi,” katanya suatu sore.

Aku menahan napas. Ada getar dalam suaranya, getir namun penuh kerinduan.

Malam itu, setelah menemaninya belajar, aku melihat Faza mengumpulkan stik es krim bekas yang ia kumpulkan beberapa hari terakhir. Ia duduk serius di meja kecilnya, menempelkan stik satu per satu dengan lem kertas. Tangannya belepotan, tapi ia tetap tekun.

“Apa yang kamu buat, Nak?” tanyaku pelan.

“Tepak pensil, Bu,” jawabnya mantap, “buat hadiah Fardan sama Lusi.”

Aku terdiam. Seketika dadaku sesak. Bagaimana aku harus menjelaskan pada anak sekecil itu bahwa jarak ribuan kilometer memisahkan ia dan teman-temannya? Bahwa mungkin hadiah itu takkan pernah sampai?

Namun aku memilih diam, lalu duduk di sampingnya. Aku temani ia menyusun stik es krim, menahan lem agar tidak berantakan. Sesekali ia berhenti, menggambar bintang kecil di atas stik dengan spidol warna-warni.

“Kalau Fardan dapat yang ini, dia pasti senang, Bu. Soalnya dia suka warna biru.”

Aku mengangguk sambil menahan air mata.

“Kalau Lusi suka bunga, Bu. Jadi aku gambar bunga di sini. Bagus, kan?”

“Bagus sekali, Nak,” suaraku parau.

Aku sadar, hadiah sederhana itu bukan sekadar kerajinan tangan anak-anak. Itu adalah wujud cinta yang tak terucap, kerinduan yang ia simpan sejak hari pertama meninggalkan sekolah lamanya.

****

Hari-hari berikutnya, Faza semakin sering bercerita tentang rencana memberi hadiah itu. Ia bertanya padaku, “Bu, nanti kalau kita pulang kampung, aku bisa kasih ini ke Fardan sama Lusi, ya?”

Aku hanya bisa mengangguk. Meski entah kapan kami bisa pulang.

Sebagai orang tua, aku tahu keputusan merantau adalah dilema. Demi mencari nafkah, demi masa depan anak juga, kami harus meninggalkan tanah kelahiran. Namun siapa sangka, di balik itu semua, ada dunia kecil yang ikut terkoyak, dunia milik seorang anak bernama Faza yang kehilangan dua sahabat terbaiknya.

Suatu sore, saat aku menjemputnya di sekolah baru, Faza menggenggam erat tepak pensil itu di tangannya. Ia menunjukkannya pada seorang teman sekelas yang baru dikenalnya.

“Ini aku buat sendiri, nanti kalau udah jadi bagus aku bikin lagi buat kamu,” katanya polos.

Aku terhenyak. Rupanya, dalam kesedihan sekalipun, Faza masih punya keberanian untuk berbagi. Ia belajar melepaskan dengan cara yang sederhana: memberi.

Malam harinya, ia kembali bercerita. “Bu, aku masih kangen sama mereka. Tapi nggak apa-apa, ya? Aku bisa bikin hadiah buat teman baru juga. Nanti kalau ketemu Fardan dan Lusi lagi, aku kasih hadiah yang lebih bagus.”

Aku menatap wajah mungilnya, matanya berbinar meski ada sisa kerinduan di sana. Aku mengelus rambutnya pelan.

“Tidak apa-apa, Nak. Rindu itu tandanya hati kamu masih penuh kasih. Teman lama tetap di hati, dan teman baru bisa kamu temui di mana saja.”

Faza tersenyum, meski bibirnya sedikit bergetar.

Aku tahu, sebagai seorang ibu, aku tidak bisa menghapus kerinduannya begitu saja. Tapi aku bisa mendampingi, menjadi telinga yang mendengar setiap kisahnya, menjadi saksi atas perjuangan kecilnya menata hati di tengah perubahan besar.

Dan di situlah aku belajar sesuatu, bahwa merantau bukan hanya soal meninggalkan rumah, tapi juga tentang keberanian seorang anak kecil menghadapi kehilangan. Bahwa cinta seorang anak terhadap sahabatnya bisa diwujudkan lewat hal-hal sederhana, seperti tepak pensil dari stik es krim yang dibuat dengan sepenuh hati.

Tepak pensil itu masih ada sampai sekarang, tersimpan rapi di meja belajar Faza. Bukan hanya sebagai benda, tapi sebagai simbol perjuangan, kerelaan, kerinduan, dan cinta yang tak terputus oleh jarak.

Aku yakin, suatu hari nanti, entah kapan, Faza akan kembali bertemu Fardan dan Lusi. Dan saat itu tiba, aku tahu ia akan dengan bangga menyerahkan hadiah buatannya, bukan sekadar tepak pensil, tapi sepotong hati kecil yang setia menunggu.



Penulis: Ummu Masrurah
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *