
Tebuireng.online— Mahasantri Ma’had Aly Tebuireng, Muhamad Damar Prayogi asal Pemalang, Jawa Tengah, berhasil meraih Juara 3 dalam ajang bergengsi Lomba Generasi Emas Baca Puisi 2025 tingkat nasional. Kompetisi ini digelar dalam dua tahap, yakni seleksi online pada 26 Juli hingga 24 Agustus 2025, dan babak Grand Final offline yang dilaksanakan pada 4 September 2025 di Ruang Rapat Dosen Gedung A, Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY) Jombang.
Dalam tahap seleksi online, mahasantri semester 3 ini memilih membawakan puisi berjudul “Mengenang Jasa Santri dan Kiai” karya Rara Zarary. Menurutnya, puisi itu sarat makna historis tentang perjuangan para santri dan kiai bagi bangsa. Dengan penekanan pada intonasi serta ekspresi, penampilannya berhasil memukau juri hingga menempatkannya di posisi lima besar nasional.
Baca Juga: Mahasantri Tebuireng Sabet 3 Juara Sekaligus di Lomba Nasional Anti Narkoba
“Alhamdulillah, dari penilaian juri saya berhasil masuk lima besar finalis jenjang mahasiswa tingkat nasional. Untuk final, saya diwajibkan menciptakan puisi baru bertema kebangsaan. Dalam empat hari, saya menulis puisi berjudul Suara dari Tanah Air yang kemudian saya bacakan di hadapan juri dan audiens,” jelas Damar.
Meski sempat merasa gugup, Damar berhasil mengubah ketegangan menjadi energi positif. Ia menampilkan pembacaan puisi dengan penuh penghayatan, memperhatikan intonasi, ekspresi, dan gestur tubuh. Hasilnya, ia berhasil menyabet Juara 3 tingkat nasional, sebuah pencapaian yang tak hanya menghadiahkan piala, sertifikat, totebag, dan notebook, tetapi juga pengalaman yang sangat berharga.

“Saya merasa sangat bersyukur dan bangga. Ini bukan hanya tentang piala, tapi juga tentang pengalaman bertemu orang-orang hebat di dunia sastra, dan keyakinan bahwa usaha keras tidak pernah mengkhianati hasil,” ungkapnya penuh syukur.
Damar mengaku bahwa tantangan terbesar selama mengikuti lomba adalah membagi waktu antara latihan dengan jadwal kuliah yang padat. Selain itu, melihat kemampuan finalis lain yang luar biasa sempat membuatnya semakin gugup. Namun semangatnya tak luntur. Ia terus berlatih dengan sungguh-sungguh hingga akhirnya membuahkan hasil manis di babak final.
Baca Juga: Khataman Kitab Bidayatul Mujtahid, Simak Pesan Penting untuk Mahasantri
Menariknya, Damar awalnya bukanlah penggemar baca puisi. Sejak SMP hingga Aliyah, ia lebih sering mengikuti lomba khitobah dan pidato, namun jarang mendapatkan hasil. Perubahan besar terjadi ketika Kepala Sekolah MA Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Bapak Budi Santoso, S.Pd., memperkenalkan dan membimbingnya dalam seni membaca puisi. Dari situlah Damar mulai menekuni dunia sastra dan menemukan passion baru.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa menekuni puisi. Tapi setelah dibimbing, saya merasa menemukan dunia baru yang sesuai dengan jiwa saya,” ujarnya.
Peserta Lomba Generasi Emas Baca Puisi 2025 sendiri datang dari berbagai sekolah dan universitas di seluruh Indonesia. Beberapa di antaranya adalah Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Negeri Jember, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, UIN Malang, hingga perwakilan dari Jawa Barat. Persaingan ketat ini justru semakin menambah nilai prestasi Damar di kancah nasional.
Baca Juga: Lulusan Mahad Aly, Generasi yang Bertafaqquh fi Diin
Ke depan, Damar berharap dapat terus mengembangkan bakatnya di bidang seni dan sastra, sembari tetap mendalami ilmu agama di Ma’had Aly. “Saya ingin tetap konsisten mengikuti berbagai event perlombaan, khususnya dalam cipta dan baca puisi,” pungkasnya.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

