
Di era digital yang serba cepat ini, hampir setiap peristiwa bisa berubah menjadi viral hanya dalam hitungan detik. Dari video lucu, potongan ceramah, aksi sosial, hingga konflik kecil di dunia nyata, semua bisa menjadi bahan konsumsi publik yang luas. Namun, di balik derasnya arus informasi itu, kita tengah menghadapi fenomena sosial yang lebih dalam, budaya viral yang kehilangan nalar.
Masyarakat kini hidup dalam pusaran trending topic dan for your page. Ukuran kebenaran sering kali digantikan oleh popularitas. Siapa yang paling sering muncul di layar ponsel, dialah yang dianggap benar, keren, atau layak diteladani. Padahal, tidak sedikit dari yang viral itu justru berisi hal-hal yang dangkal, bahkan menyesatkan.
Baca Juga: Bahaya FYP dan Algoritma: Bagaimana Media Sosial Menggerus Kebebasan Berpikir
Fenomena ini melahirkan budaya baru, budaya pamer dan penghakiman cepat. Di satu sisi, orang berlomba tampil “sempurna” di media sosial entah lewat pencapaian, gaya hidup, atau bahkan kesalehan digital. Di sisi lain, masyarakat begitu mudah menghakimi, mencaci, dan menjatuhkan seseorang hanya dari satu potongan video atau narasi yang belum tentu benar.
Inilah wajah baru masyarakat digital, cepat berkomentar, tapi lambat berpikir. Dampaknya sangat luas. Bukan hanya pada citra seseorang, tapi juga pada moral publik. Anak muda belajar mencari perhatian, bukan pencapaian. Mereka berlomba menjadi terkenal, bukan bermanfaat. Banyak pula yang kehilangan arah, mengukur nilai diri dari jumlah likes dan followers, bukan dari kontribusi nyata.

Dalam pandangan Islam, kondisi ini sejatinya mencerminkan penyakit hati bernama riya’ yaitu keinginan untuk dilihat dan dipuji orang lain. Rasulullah mengingatkan bahwa amal yang dilakukan karena ingin dipuji tidak akan bernilai di sisi Allah. Begitu pula dengan sikap suka mencela tanpa tabayyun (klarifikasi), yang justru membuka pintu fitnah dan kebencian.
Baca Juga: Krisis Literasi Indonesia: Ancaman Nyata bagi Generasi Muda?
Budaya viral seharusnya menjadi peluang untuk menyebarkan kebaikan, bukan ajang pamer dan penghakiman. Bayangkan jika setiap orang menggunakan jempolnya bukan untuk mencaci, tapi untuk menebar doa dan inspirasi, dunia maya akan menjadi ruang yang menyejukkan, bukan arena saling menjatuhkan.
Kita perlu menumbuhkan budaya literasi digital yang beretika, berpikir sebelum berbagi, tabayyun sebelum berkomentar, dan berhenti sejenak sebelum menekan tombol “post”. Sebab di era ini, satu kata di dunia maya bisa jadi pahala, tapi bisa juga menjadi dosa yang terus mengalir.
Di tengah masyarakat yang semakin bising oleh suara-suara viral, semoga kita tidak kehilangan kejernihan hati. Karena yang paling bernilai bukanlah siapa yang paling sering dilihat, tapi siapa yang tetap berbuat baik, meski tidak pernah terlihat.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

