
Pernah nggak sih kamu pergi ke suatu tempat tanpa melihat Google Maps atau nanya arah? Rasanya pasti bingung, terasa muter-muter aja, buang bensin, bahkan kadang terasa capek duluan sebelum sampai tujuan. Nah, dakwah pun juga sama, maksudnya yaitu dakwah yang tanpa adanya perencanaan itu seperti jalan jauh tanpa adanya peta. Semangatnya diawal mungkin besar karena excited, namun karena arahnya yang nggak jelas ya akhirnya nyasar atau malah berhenti di tengah jalan.
Di zaman sekarang ini, tantangan dakwah makin rumit. Informasi berseliweran dari segala arah, generasi muda lebih akrab sama TikTok daripada pengajian di musholla atau majelisan, dan orang lebih mudah terpengaruh oleh konten-konten singkat yang memiliki visual ketimbang ceramah panjang lebar. Andaikan kalau nggak punya peta jalan yang jelas, maka dakwah bisa kalah saing sama konten atau tren-tren hiburan yang kadang malah nggak ada edukasinya.
Baca Juga: Dakwah yang Menyenangkan
Makanya dengan menyusun peta jalan dakwah itu sangat penting. Biar kita tahu mau ke mana, lewat jalur yang mana, pakai kendaraan apa, dan kapan harus berhenti buat evaluasi.
Contents
Kenapa Perlu Peta Jalan?
Bayangin aja kamu lagi liburan ke luar negara. Kalau kamu nggak pakai peta atau menyewa guide tour padahal kamu belum pernah kesana, maka bisa-bisa waktumu habis di jalan, entah itu salah arah, atau malah nggak bakal sampai ke tujuan yang diinginkan. Dakwah juga begitu, tanpa adanya peta jalan yang rapi maka program kita bisa jadi tumpang tindih, nggak tepat sasaran, bahkan bisa mubazir. Beberapa kondisi yang menunjukkan kalau dakwah sekarang memang membutuhkan perencanaan:

- Media sosial penting, namun belum maksimal
Dalam berita PT Internet dan Media Sosial sebagai Sarana Efektif dalam Berdakwah, Muhammad Azis dalam kajian jelang buka puasa ramadhan 2025 di kampus Universitas Ahmad Dahlan pernah mengatakan bahwa media sosial dan internet memiliki potensi besar untuk dakwah, sayangnya data menunjukkan bahwa di Indonesia penggunaan internet untuk dakwah agama masih berada di urutan ketujuh. Itu berarti Indonesia sudah hampir berhasil berdakwah dengan cara memanfaatkan medsos, namun masih belum sempurna sepenuhnya karena banyak pendakwah yang belum beradaptasi dengan tren sekarang.
- Konten menarik, belum tentu bermanfaat
Dalam artikel RRI Bahaya Media Sosial yang Menciptakan Tren Tidak Bermanfaat, Elvi Sarinah di acara Santai Siang Pro 2 RRI Sibolga pernah mengatakan bahwa tren-tren aneh dan tidak sopan kadang dianggap lucu atau keren oleh sebagian pengguna, sehingga mereka tanpa sadar turut merusak tata krama dan nilai sosial yang ada. Yang artinya banyak pengguna yang mengikuti tren-tren tanpa adanya perencanaan seperti pertimbangan dampak baik buruknya kedepan.
Baca Juga: Keistimewaan Garis Keturunan Kiai dalam Menunjang Popularitas Dakwah
Dari data itu bisa terlihat dengan jelas kalau dakwah memang membutuhkan peta jalan. Tanpa peta, dakwah bisa jalan tapi arahnya ngawur atau tidak terarah.
Apa Itu Peta Jalan Dakwah?
Kalau kita bayangin dakwah sebagai sebuah perjalanan, maka peta jalan dakwah itu semacam Google Maps-nya untuk bahasa simpel nya. Di situ ada tujuan, jalur, rencana perjalanan, bahkan catatan kapan harus istirahat atau bahkan berhenti.
- Visi & Misi = Tujuan Akhir
Misalnya kita mau ke Bali maka jelas tujuan kita yaitu pantai, bukan gunung. Dalam dakwah, visi bisa seperti sebuah tujuan kita, sedangkan misi bisa seperti langkah-langkah strategis kita menuju ke tujuan tersebut.
- Analisis Situasi = Cek Kondisi Jalan
Sebelum berangkat ke Bali maka kita diharuskan untuk cek cuaca, kondisi lalu lintas, bensin cukup apa nggak. Kalau dalam dakwah juga kita harus mencari tahu siapa audiensnya, apa masalah atau fenomena disana, medianya apa yang cocok seperti jika anak muda mungkin butuh gaya visual? Jikalau ibu-ibu mungkin lebih cocok pengajian rutin.
- Strategi & Program = Pilih Kendaraan
Mau naik mobil, motor, atau pesawat? Kalau dalam dakwah kita harus memilih medianya setelah mengetahui target audiensnya. Apakah menggunakan ceramah, podcast, konten, atau tatap muka? Sesuai kebutuhan target audiens kita, jangan dipukul sama rata semua.
- Penjadwalan = Peta Perjalanan
Mau ke pantai dulu atau ke museum dulu? Dalam dakwah juga diperlukan sebuah jadwal yang sistematis, supaya bisa konsisten dan tidak terjadi kejadian bentrok.
- Evaluasi = Lihat GPS lagi
Kadang kalau kita salah belok, pada Google Maps ada fitur “reroute”. Dalam dakwah pun juga begitu, jikalau kita merasa cara dakwah ini kurang efektif, maka jangan gengsi untuuk putar balik atau cari jalur baru.
Baca Juga: Bukan Sekadar Pandai Bicara, Pahami Urgensi Public Speaking dalam Berdakwah
Dalam artikel Himayah Foundation dengan judul Pentingnya Rencana Dalam Dakwah, Ustadz Burhan Shodiq mengatakan bahwa rencana dalam dakwah itu ada tiga tahap, yaitu jangka pendek yang biasanya perlu menyiapkan dakwah selama setahun, kemudian ada jangka menengah yang setidaknya menyiapkan dakwah dari 1 hingga 5 tahun ke depan, dan jangka panjang yang bisa berlanjut lebih dari 5 tahun ke depan. Yang artinya sebelum berdakwah itu memerlukan rencana yang matang untuk mendapatkan hasil dakwah yang baik dari para audiens. Seperti halnya ketika kita mau liburan panjang, kita nggak mungkin cuma asal jalan. Pasti ada persiapan, list tempat, bahkan bisa kalau bisa ada plan B untuk antisipasi ada kendala seperti perubahan cuaca atau dll.
Keuntungan & Tantangan Peta Jalan Dakwah
Dengan adanya peta jalan dakwah maka dakwah jadi bisa lebih terarah, bisa terukur hasilnya, nggak gampang kalah sama tren-tren hiburan, dan hemat dalam segala hal baik itu tenaga, dana, dan waktu. Dimana ada plus maka juga ada minus, layaknya keuntungan ini, maka pasti ada tantangannya juga yaitu terkadang ada yang tidak mau berubah karena masih nyaman dengan cara dakwah yang lama dan situasi sosial bisa cepat sekali berubah.
Baca Juga: Dakwah Digital, Seni Mendekatkan Diri pada Tuhan atau Sekadar Tren?
Menyusun peta jalan dakwah bukanlah cuma soal manajemen saja, tapi juga soal tanggung jawab didalamnya. Dakwah itu diperlukan perencanaan yang rapi, matang, berdampak, membawa umat sampai ke tujuan atau kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT. Dan bisa disebut dakwah yang bagus atau pesan dakwahnya nggak cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri, tapi bisa masuk ke hati serta diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Muayyinatul Millatil Haq, Mahasiswi Prodi KPI Unhasy Tebuireng.
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

