Puisi Musim Hujan | Tebuireng Online

Puisi Musim Hujan | Tebuireng Online


Ilustrasi musim hujan (sumber: iStock)

Sudut Ruangan
Hanyut dalam sunyi
Memandangi daun daun yang berdzikir
Cahaya bulan yang menambah aksen sendu
Bintang malam ini malu untuk hadir

Rintik gerimis masih meninggalkan genangan
Foto yang berada di sudut ruangan
Hanya meninggalkan lara
Terungkap dalam pilu asmara

Butuh Sandaran
Detik pun terasa berhenti
Detak jantung tak beraturan
Kau bersanding denganku
Bersama merajut mimpi

Tautan cerita yang selalu kudengarkan darimu
Menjadi racikan rindu
Mata itu selalu kutatap
Sendu dan redup

Mengisyaratkan bahwa kau butuh sandaran


Merdu Rintik Gerimis
Di balik jendela kayu
Kau mengelus rambut kilauku
‘nak, kala dewasa nanti moga kau selalu dikuatkan dan dimudahkan’
Katamu, yang saat ini tertulis abadi dalam ingatan

Ternyata banyak kenyatan pahit yang kutelan, bu
Rintik gerimis dulu resmi bersaksi
Bahwa kini dewasa setidakmenyenangkan itu
Bu, aku harap engaku terus merapal doa-doa indah itu
Untukku.


Racikan Embun
Kadang ingin sekali mengucapkan sayang
Tapi gengsi yang menyelimuti
Kadang ingin sekali mengucapkan cinta
Namun lidah kelu dan kaku teracuni oleh malu dan gengsi

Aku memilih racikan embun
Yang setiap tetesnya menyejukkan udara
Aku memilih puisi
Yang setiap baitnya tersirat akan makna



Penulis: Nabila Rahayu
Editor: Rara Zarary

 

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *