
Arham tumbuh di keluarga yang cukup agamis. Sejak kecil, nilai-nilai agama telah tertanam kuat dalam hidupnya. Namun, ketika menginjak usia 12 tahun, awal masa SMP, orang tuanya meminta Arham untuk melanjutkan pendidikan di pesantren. Awalnya, Arham tidak begitu berminat. Namun, ia selalu meyakini bahwa rida Tuhan ada pada ridho orang tua, maka ia pun mengikuti keinginan mereka dengan tekad dalam hatinya: “Apapun perintah orang tua, selama itu baik dan benar, pasti akan kuturuti walaupun berat.”
Hari pertama di pesantren terasa sangat berat baginya. Aturan yang ketat, makanan seadanya, dan suasana yang sangat berbeda dari kehidupannya sebelumnya, membuatnya sering mengeluh di setiap panggilan telepon ke ibunya. Namun, dengan suara lembut penuh kasih, ibunya selalu berkata, “Sabar ya, Nak. Biarkan pahit dulu, nanti manisnya akan terasa.”
“Insya Allah, Mah. Aku sabar,” jawab Arham lirih.
Waktu berjalan. Arham menjalani hari-harinya dengan berat hati, tapi tetap teguh. Ia aktif di berbagai ekstrakurikuler, terutama futsal dan public speaking. Namun, entah mengapa, kesenangan yang ia rasakan jauh berbeda dengan saat di luar pesantren. Dalam hatinya berbisik, “Mungkin bukan kegiatannya yang salah, tapi hati yang belum cocok dengan kehidupan pesantren ini.”
Meski ia taat aturan, rajin ibadah, dan aktif belajar, hatinya masih terasa kosong. Suatu hari saat menelpon ibunya, ia mengungkapkan kegundahannya, “Mah, aku aktif, rajin, aku bukan pelanggar, tapi kenapa hati ini masih belum menemukan — kenikmatan hidup pesantren. Sepertinya aku memang tidak cocok di sini. Aku ingin sekolah biasa seperti teman-temanku di luar.”

Ibu dengan sabar menjawab, “Sabar, Nak. Mamah yakin jalanmu di pesantren adalah jalan yang tepat.”
Namun Arham tetap bersikeras, “Aku lebih cocok dididik mamah. Aku ingin berkembang di luar.” Nada suaranya sedikit meninggi.
Sang ibu tak marah. Ia justru mengeluarkan jurus mautnya dengan kasih sayang, “Baiklah Nak, kalau memang itu kemauanmu, ibu akan turuti. Tapi bertahanlah dulu selama 4 bulan. Kalau masih tidak betah, kamu boleh pindah.”
Arham terkejut dan bangga. “Oke, Mah. Aku akan bertahan 4 bulan saja.” Ia menganggap 4 bulan itu bukan waktu yang lama. Ia sudah membayangkan keseruan di luar pesantren, makanan enak, dan kehidupan bebas diluar. Ia tak sama sekali berfikir atau menanyakan kenapa harus 4 bulan, bukankah bisa lebih cepat atau lebih lama.
Bulan pertama berlalu tanpa perubahan berarti. Arham menjalani rutinitas seperti biasa, aktif di ekstrakurikuler dan rajin beribadah. Hatinya tetap belum luluh.
Memasuki bulan kedua, Arham tetap menjalani hari-harinya seperti biasa—dengan keaktifan dan kegigihan yang ia miliki. Berkat modal tersebut, ia terpilih menjadi salah satu delegasi lomba orasi keagamaan yang akan mewakili pesantrennya. Mendengar kabar itu, ia merasakan kebanggaan dan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan selama berada di pesantren.
Tanpa banyak menunda, ia pun giat berlatih demi menjadi kontestan terbaik di perlombaan orasi tersebut. Pikirannya mulai bercabang—yang tadinya hanya dipenuhi rencana-rencana tentang apa yang akan ia lakukan setelah keluar dari pesantren, kini mulai dipenuhi dengan tanggung jawab atas amanah yang telah diberikan pesantren kepadanya.
“Aku harus menang,” begitu yang selalu ia katakan setiap kali latihan.
Hari perlombaan pun tiba. Dengan jas hitam yang rapi dan songkok hitam lokal, Arham tampak gagah dan percaya diri. Saat namanya dipanggil, ia berdiri dengan tegap. Tidak tampak sedikit pun kegugupan di wajahnya. Dengan suara yang lantang dan mantap, ia membuka orasinya:
“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh….”
Muqaddimah ia sampaikan dengan tegas. Dalam orasinya, ia menyelipkan pesan penting tentang keridhaan Tuhan yang terletak pada keridhaan orang tua. Kata demi kata mengalir lancar hingga ia menutupnya dengan salam hangat:
“Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…”
Belum sempat ia turun dari podium, tepuk tangan riuh menggema di seluruh ruangan. Ada yang berteriak tak jelas, ada pula yang menyerukan takbir, “Allahuakbar!”
Arham pun turun dari panggung kehormatan dengan perasaan penuh harapan.
Tibalah saatnya pengumuman pemenang. Dalam hati, Arham merasa optimis bahwa dirinya akan masuk tiga besar—entah sebagai juara pertama, kedua, atau ketiga. Optimismenya begitu tinggi hingga menutupi rasa cemas yang biasa muncul.
Pengumuman dimulai dari juara tiga.
“Juara tiga diraih oleh Ananda Rizki Aditya.”
Tepuk tangan menggema.
“Juara dua diraih oleh Ananda Agung Rahmat.”
Kembali audiens bertepuk tangan.
Pengumuman juara pertama disampaikan dengan nada yang lebih meriah:
“Juara satu diraih oleh Ananda Abdul Aaaaa…zisss!”
Arham terkejut. “Hah?!” pikirnya. Ia mengira nama yang disebut adalah Abdul Arham—namanya sendiri. Namun ternyata bukan. Hatinya mulai bergetar. Ada rasa kecewa yang mengendap. Optimismenya tak berbuah manis. Ia merasa malu—latihan kerasnya seakan tak cukup untuk menjawab amanah yang telah diberikan.
Hampir saja ia menyerah.
Namun tiba-tiba, panitia mengumumkan sesuatu yang tak terduga:
“Peserta Favorit pada perlombaan ini diberikan kepada Ananda Abdul Aaaaarhammmm…”
Jantungnya yang sempat bergetar kecewa kini berdetak lebih kencang karena tak percaya. Ia hampir menyerah karena merasa gagal memenuhi tanggung jawab, namun kini sorakan audiens dan pendukungnya menyambut langkah kakinya ke atas panggung kehormatan. Ia tersenyum gagah sambil memegang penghargaan yang tak pernah ia duga.
“Hari ini cukup berwarna,” pikirnya. “Hatiku optimis namun arogan. Aku terlalu gigih, namun terlalu gengsi untuk mengabarkan ini kepada orang tuaku.”
Ya, hingga saat itu ia belum memberi tahu siapa pun di rumah bahwa ia mengikuti perlombaan. Ia khawatir ibunya akan berubah pikiran soal tantangan yang dulu ibunya berikan jika ia sampai menceritakan hal ini.
Bulan kedua di pesantren ia jalani dengan perasaan yang masih sama seperti sebelumnya—namun kini dihiasi kebanggaan dan kebahagiaan yang sulit ia lukiskan.
Bulan ketiga dimulai, dan perubahan mulai dirasakan Arham. Karena ia menjadi peserta favorit pada perlombaan sebelumnya, ia pun cukup dikenal di lingkungan pesantren. Banyak teman angkatannya, bahkan yang berada di bawah atau di atasnya, mendekati dirinya. Arham tidak menolak sebuah pertemanan, juga tidak memilih-milih teman. Baginya, pertemanan adalah rezeki dari Tuhan.
Ia sering diajak teman-temannya saat dimudif (dijenguk) oleh orang tua masing-masing. Ia pun bisa merasakan berbagai macam masakan secara gratis dari berbagai daerah. Temannya yang berasal dari Padang dibawakan sate Padang dan rendang oleh orang tuanya, teman yang dari Jogja dibawakan gudeg, yang saat itu menjadi pengalaman pertama kali bagi Arham mencicipinya. Masih banyak makanan lainnya dari berbagai daerah.
Mereka makan bersama dengan tawa riang dan gembira, membangun pendekatan emosional yang sedikit demi sedikit mulai mengubah pikiran Arham.
“Mungkin kalau gak mondok, gue harus ke Padang atau ke Jogja dulu nih…. buat nyobain makanan ini,” kata temannya sambil tertawa.
“Haha, nggak harus kali… tinggal ke Pasar Bogor aja lu bisa dapetin semua ini, jangan berlebihan, Ham,” balas temannya yang lain.
Arham pun tertawa sambil menyenggol temannya, “Iya sih, tapi kalau nggak di sini gue nggak kenal kalian yaaa akhi….”
Selepas makan, mereka kembali ke asramanya. Saat itu, pikiran Arham tentang perjanjian dengan orang tuanya sedikit terkikis. Ia mulai berpikir bahwa ternyata pesantren bukan hanya soal belajar dan ibadah saja, melainkan banyak pelajaran berharga yang bisa dirasakan, terutama tentang kebersamaan.
Walaupun begitu, perasaan tentang perjanjian dengan ibunya belum sepenuhnya hilang.
Di tengah perasaan yang masih belum stabil, Arham mengalami sesuatu yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Karena aktivitasnya yang sangat padat di pesantren, ia pun kelelahan dan akhirnya jatuh sakit.
Tubuhnya panas, kepalanya pusing, perutnya sakit seperti terlilit. Ini adalah sakit pertama yang ia rasakan selama di pesantren, tanpa kehadiran ayah dan ibunya. Biasanya, jika di rumah, ayah dan ibulah yang mengurusnya dengan penuh kasih sampai ia sembuh.
Meski merasakan sakit, teman-teman asramanya tidak membiarkan ia sendirian. Seorang teman dekat dari Padang dengan sigap memberi tugas kepada teman-teman lain untuk merawat Arham. Karena memang Arham adalah sosok santri yang rajin, baik, dan tidak neko-neko—hanya saja, karena usianya yang masih muda, terkadang ia suka labil.
Namun itu bukan masalah bagi teman-temannya. Mereka dengan setia membawakan makan, minum, dan mengantar Arham ke klinik pesantren yang tidak jauh dari asramanya.
Arham sakit selama empat hari, dan selama itu teman-temannya tanpa bosan merawatnya dengan penuh perhatian.
Selama sakit, Arham tidak merasa down atau ingin pulang ke rumah. Ia pun tidak mengabari orang tuanya karena takut membuat mereka khawatir dengan keadaannya.
Ketika akhirnya sembuh, Arham sangat terharu. Ternyata, pertemanan dan kebersamaan itu bukan sekadar tukar makanan, melainkan sebuah ikatan nyata yang ia rasakan ketika teman-temannya merawatnya penuh perhatian saat sakit.
Perasaan Arham pun mulai berubah secara signifikan. Perjanjian dengan ibunya sedikit demi sedikit mulai tergeser oleh pelajaran yang ia dapatkan. Ia mulai mencintai kehidupannya di pesantren, tempat yang awalnya ia kira sangat berbeda dengan karakternya, namun ternyata menyimpan segudang pelajaran tulus.
Di bulan ketiga ini, banyak pelajaran yang membuatnya tersadar. Ia berpikir bahwa keberadaannya, meski sedang sakit sekalipun, malah menambah rasa cintanya pada pesantren. Padahal di awal masa hidupnya di pesantren, saat dirinya adem ayem tanpa sakit, pikiran dan hatinya justru selalu tertuju ke dunia luar.
Sedangkan ketika sakit, justru rasa cintanya kepada pesantren semakin tumbuh—sungguh keajaiban yang tak pernah ia bayangkan sedikitpun.
Arham pun tidak mengerti bagaimana semua ini bisa terjadi. Di saat waktu tinggal satu bulan lagi, ia begitu merasakan cinta yang mendalam kepada pesantrennya.
Hal itu membangkitkan intuisi dalam dirinya, dan ia mulai bertanya pada diri sendiri,
“Ada apa dengan aku? Bukankah tiga bulan lalu aku sangat menginginkan hidup di dunia luar? Mengapa rasanya seperti terkikis begitu saja?”
Intuisi itu mengarah pada ibunya tercinta. Ia mulai berprasangka,
“Apakah semua ini karena ibu? Apakah ibu menghubungi pihak pesantren dan teman-temanku agar aku betah kembali?”
Pikiran Arham dipenuhi pertanyaan, “apakah? mengapa? kenapa?”
Hingga akhirnya ia menghubungi ibunya melalui wartel pesantren.
Telepon tersambung, dan ia mengucapkan,
“Halo Mah, Assalamualaikum. Apa kabar? Mamah sehat kan?” dengan nada yang jauh berubah—lebih lembut dan merdu.
Ibunya menjawab,
“Waalaikumsalam, Alhamdulillah Nak Mamah sehat. Kamu bagaimana?” ujar ibunya dengan nada penuh husnudzon, tidak pernah berprasangka buruk pada anaknya—entah anaknya betah atau ingin segera pindah karena sudah memasuki bulan ketiga.
Setelah menanyakan kabar Arham, ia pun meminta ibunya datang di hari Minggu pekan depan.
“Alhamdulillah aku sehat, Mah. Kalau pekan depan mamah tidak sibuk, aku mau mamah datang ya ke pesantren untuk menjenguk.”
Tanpa basa-basi, ibunya pun menyanggupi.
“Syukurlah, sehat selalu ya Nak. Baik, pekan depan mamah ke pesantren.”
Telepon pun ditutup tanpa membahas soal perjanjian yang lalu.
Hari berganti hari, perasaan cinta Arham semakin mendalam, hingga tiba hari Minggu yang sangat ia tunggu. Pekan ini adalah pekan pertama di bulan keempat dari sebuah perjanjian yang mereka buat. Ibu dan ayahnya datang ke pesantren untuk menemui anak tercinta. Sekali lagi, sang ibu dan ayah tak pernah merasa takut ditagih janjinya, karena mereka selalu percaya atas kuasa Tuhan Yang Maha Bijaksana.
Pertemuan diawali dengan sebuah senyum manis. Tanpa berlama-lama, Arham menghampiri ibu dan ayahnya lalu memeluk mereka.
“Ayah, Mamah, aku rindu. Tak terasa waktu ini begitu cepat berlalu. Aku mau bercerita tentang apa yang sudah kurasakan selama 3-4 bulan ini di pesantren.”
Dengan senyuman indah, ayah dan ibu mempersilakan Arham untuk bercerita, sambil bertanya, “Ada apa, Nak?”
Arham menjawab, “Banyak hal yang aku lalui dan aku dapatkan selama kurang lebih empat bulan ini. Aku masih ingat betul, Mah, dengan perjanjian kita empat bulan lalu. Saat itu, dengan nada yang kurang sopan, aku meminta dirimu menuruti kemauanku. Dan dengan bijak dan lemah lembut, dirimu menuruti kemauanku dengan syarat bertahan selama empat bulan.
Sekarang aku bukan ingin menagih janji itu, namun aku ingin menceritakan bahwa sejak perjanjian itu banyak hal yang berubah pada diriku. Di bulan pertama, aku tidak melakukan hal lebih, aku hanya menjalani rutinitasku seperti biasa. Namun, tak kusangka pada bulan kedua aku terpilih menjadi delegasi pada perlombaan orasi keagamaan antar pesantren. Maaf aku tidak bilang pada kalian, karena saat itu aku gengsi, Mah. Aku khawatir jika kamu tahu aku mengikuti lomba, kamu akan berubah pikiran tentang perjanjian kita. Maaf ya, Mah, aku sempat bersangka buruk padamu.
Mungkin karena aku tidak izin padamu, aku tidak mendapatkan juara 3, 2, atau 1. Namun syukur aku mendapat penghargaan peserta favorit. Saat itu aku yakin penghargaan itu diberikan atas ridho-Mu yang tak pernah putus, meski aku tidak mengabari kamu tentang hal ini, kamu pasti mendoakanku.
Setelah perlombaan selesai, pada bulan ketiga aku mulai memiliki teman-teman yang tulus. Kebersamaan sangat aku rasakan, dimulai ketika aku mencicipi nikmatnya makanan dari berbagai daerah.
Kebersamaan itu tidak berhenti sampai di situ. Saat itu aku terbaring sakit, Mah. Badanku demam, kepalaku seperti melayang, perutku sakit seperti dililit. Mungkin saat itu aku kelelahan karena terlalu aktif menekuni bidang yang aku sukai.
Peristiwa sakit itu bukan malah membuatku kembali ingat janji kita, melainkan aku melihat cinta yang amat nyata dari sebuah kebersamaan yang teman-temanku bangun untukku. Mereka dengan sigap dan kompak melayaniku, mengurusku hingga aku sembuh.
Dan saat itu pula janji yang aku nanti sedikit demi sedikit terkikis habis oleh pelajaran-pelajaran yang aku dapatkan. Aku tidak paham keajaiban apa yang telah terjadi. Begitu cepat dan mudah Tuhan membolak-balikkan hatiku. Banyak pertanyaan apakah? mengapa? kenapa? yang lirih bergema di kepalaku.
Dan maaf sekali, Mamah, bahkan saat itu pula intuisi-ku memanggilmu. Aku sempat berprasangka buruk bahwa semua ini atas dasar dirimu. Aku beranggapan bahwa dirimu menghubungi pihak pesantren atau teman-temanku agar aku bisa betah kembali di pesantren.
Maaf, Mah, atas buruk sangka yang aku pikirkan. Namun hari ini aku ingin bertanya, apa yang Mamah lakukan selama ini? Hingga begitu cepat keajaiban itu datang?”
Sambil tersenyum manis, sang ibu mengawali jawaban, “Alhamdulillah atas setiap hal yang terjadi, Nak. Mamah tidak sama sekali menghubungi pihak pesantren atau teman-temanmu, karena hidupmu di pesantren sudah mamah percayakan sepenuhnya kepada pihak pesantren.
Namun perlu kamu tahu, bahwa mamah hanya mencoba menghubungkan diri dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta dengan meningkatkan rutinitas yang biasa mamah lakukan, yaitu puasa Daud dan bersedekah di waktu subuh.
Orang-orang mungkin menganggap ini hanyalah ibadah, namun bagi mamah, puasa Daud dan sedekah subuh adalah hobi yang Tuhan berikan pada mamah. Selama empat bulan ini mamah meningkatkan rutinitas tersebut, Nak.”
Arham sontak terkejut mendengarnya. Dengan mata berkaca-kaca, ia memeluk erat mamahnya dan berkata,
“Terima kasih, Mah. Hari ini aku ubah perjanjian itu. Aku berjanji akan menyelesaikan pendidikanku di pesantren hingga tuntas. Berikan keridhoanmu selalu, Mah.”
Di dalam pelukan sang Arham, sang ibu berkata, “Maha kuasa Allah atas segala ciptaan-Nya.
Bogor, 12 September 2020
Penulis: Muhammad Caesar Rifyal Sidqi, Mahasiswa Fdk Uin Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

