Bersamanya dalam Mimpi | Tebuireng Online

Bersamanya dalam Mimpi | Tebuireng Online


Ilustrasi sebuah mimpi (sumber: lingkaranID)

Kala itu  aku sedang  mengukir goresan  bersama dengan tinta lengkap dengan lembar putih bersih. Menuliskan setia asa dan rasa yang siapapun bisa menjdi objek. Kicauan merdu burung dan hembusan mesra dari angin yang membuat segarnya udara siang ini. Matahari masih malu untuk menampakkan sinar cahayanya.

Aku beranjak mengayun manja bersama  bantal dan gulingku. Dinginnya cuaca membuat aku menghentikan kegiatanku. Lelap dan lelah  aku tertidur. Semula gelap dan hitam tanpa bayangan.  Namun, layar mimpi itu diputar.

Saat itu di lobi hotel yang megah, aku melihatmu dari kejauhan.  Aku tak berharap lebih untuk disapa olehmu, hanya saja aku mnegrti bahwa itu adalah dirimu.  Dan ternyata memang benar.

Sembari membaca buku, sudut mataku selalu saja menangkap gerakmu. Langkahmu sepertinya menuju ke arahku. 

“hai, aku disini.  Maaf mengganggu nanti aku akan ada urusan. Tapi sebelum itu aku ingin mengajak  kamu ke  suatu tempat.  Bolehkah?” manis sekali katamu saat itu. tanpa pikir panjang, aku langsung mengiyakan ajakannya. Mesra ia merangkul, menggenggam erat tanganku,  seperti tidak ingin jauh. Senyumannnya yang candu, tatapannyaa yang meneduhkan hati.  Perjalanan panjang itu terasa singkat.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Susah untuk dipercaya bahwa seketika itu juga aku telah sampai ke temapt yang ia maksudkan. 

Hamparan sawah  juga pegunungan nan asri.  Sepertinya ini di pedesaan daerah  rumahnya batinku.  Aku dan dia duduk di  gazebo tengah sawah, sambil memandang indah pegunungan yang menjulang tinggi. Tapi aku heran,  ada dua orang temanku yang aku tidak mengetahuinya.

Dia berdiri sambil merentangkan tangannya, sedangkan aku menatapnya sambil tersenyum.

“kalau aku tidak bersamamu, maka aku tidak akan pernah tau tempat ini,  kayla. Entah mengapa  akhir-akhir ini aku merindukanmu” ucapnya yang hingga saat ini teringat jelas.

Aku hanya tersenyum diam. Dan aku masih duduk bersama  kedua temanku itu. Dan dia masih diposisi berdiri. Tatapannya seperti memberi harapan, namun masih ragu dan bimbang.  Karena dia merasa tidak pantas untuk dimiliki olehku. Ada rasa insecure dalam dirinya saat bersandingaan dengan aku. Aku tidak mengetahui faktanya, namun aku sedikit mengerti datanya bahwa ada banyak perempuan pilihannya, mungkin juga ada banyak perempuan disandingnya, tapi masih samar dan entah mengapa aku yang menjadi dominan dalam pilihannya.

“aku pamit yah,  ada urusan sebentar. Kamu disini baik-baik yah” tanpa lambaian tangan dia pergi, hilang ditelan bayang. 

Seketika aku terbangun dan terlonjak kaget dengan deru  nafas yang sedikit tersengal. Dan juga dengan jantung yang berdegup.  Peluh keringat basahi sekujur tubuh. Dan tidak bisa menafikkan bahwa aku juga sangat merindukannnya.

Saat ini pun aku masih mencari arti dari mimpi itu. menjadi pertanyaan besar. Apakah dia benar ciptakan rasa rindu itu? Atau mimpi itu hanya bunga tidur saja?

Memang sebenarnya aku sudah lama tidak menghubungi, atau hanya untuk bertanya kabar. Karena aku sedikit mengerti tentang kesibukanmu. Aku tidak ingin menjadi pengganggu.

Semenjak pernah bersamanya, sedikit banyak yang aku mengerti. Dirinya pernah ajarkan aku untuk mengolah ego dan emosi, sedikit  membuat aku berhasil untuk tumbuh dewasa dengan keadaan sekitar.  Pun  sikap dinginnya yang membuat logikaku berfungsi saat berhadapan dengan perasaan.

Aku tidak ingin berusaha sekeras dulu,  ada banyak impian dan masa depan yang harus aku raih. Ada banyak beban dipundakku yang belum terselesaikan. Dan aku tidak ingin menganggap  dirinya sebagai  beban. 

Jarak ini sengaja aku ciptakan, agar aku senantiasa bisa hidup tanpa angannya. Juga ketika nanti aku melihat dirinya bersanding dengan pilihan akhir, aku sudah mengukir senyum keikhlasan bukan air mata kesedihan.

Dengan adanya jarak ini, rasanya aku bisa bernafas lega. Meski sekarang aku hanya bisa merasakan rindu bersamanya dalam mimpi. Itu  sudah lebih  dari  cukup. Meski pilihan akhirnya mungkin bukan aku. Meski kata bersama mungkin  tidak pernah berpihak.

Terima kasih karena hadirnya telah banyak mengajarkan kehidupan dan cinta. Bahwa tak semua kemauan harus dituruti. Bahwa tak semua omongan orang harus didengarkan. Bahwa tak semua cinta itu harus  dimiliki.



Penulis: Nabila Rahayu

Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *