
Kita sering dengar ungkapan: “Laki-laki menang milih, perempuan menang nolak.” Tapi mari kita pikirkan lebih dalam benarkah perempuan benar-benar menang dalam urusan menolak? Jika tidak ada yang memilih, apa yang bisa ditolak? Kalimat ini seolah ingin terdengar adil, padahal menyimpan bias patriarki yang begitu nyata dan menyakitkan: bahwa perempuan hanya berperan sebagai objek, bukan subjek. Bahwa laki-laki yang berhak memilih, dan perempuan hanya bisa menunggu.
Bayangkan hidup menjadi perempuan dalam dunia seperti itu dunia yang hanya memberi ruang kepada mereka yang berwajah elok, berbadan ideal, berpenampilan terawat dari ujung kepala hingga kaki. Dunia yang begitu keras kepada mereka yang tak memenuhi standar kecantikan yang ditentukan media, iklan, dan algoritma sosial.
Pernah ada seorang tokoh agama berkata, “Milih istri itu dilihat cantiknya dulu. Hidup nikah Cuma sekali. Kalau sudah cantik, akhlaknya bisa diperbaiki nanti.” Kalimat ini sering dikutip, dibenarkan, dan dijadikan pembenar atas preferensi laki-laki dalam memilih pasangan. Tapi pertanyaannya: bagaimana dengan perempuan yang tidak cantik secara visual? Adakah ruang bagi mereka dalam kehidupan ini, selain sebagai penonton dari kisah cinta orang lain?
Baca Juga: Paradoks Surga dan Keadilan yang Terlupakan
Apa kabar dengan perempuan yang tidak punya cukup uang untuk ke klinik kecantikan, untuk membeli skincare mahal, atau memutihkan kulitnya demi dinilai “layak dipertimbangkan”? Apa kabar dengan mereka yang tumbuh dalam keluarga biasa, dengan prioritas hidup yang jauh dari perawatan diri, dan hanya mampu menjadi versi terbaik dari dirinya tanpa polesan? Apakah mereka tidak pantas dipilih? Tidak pantas dicintai?

Ironisnya, banyak sekali kita temui laki-laki dengan wajah pas-pasan, bahkan jauh dari standar tampan, bisa mendapatkan perempuan yang cantiknya luar biasa. Kenapa? Karena mereka punya kuasa memilih. Karena dalam struktur sosial yang masih patriarkal, laki-laki tetap berada di posisi pengambil keputusan. Dan selama mereka punya uang, status, atau keberanian, tak masalah jika wajahnya tak masuk kategori memikat. Karena seperti kata banyak orang: “Yang penting mapan, tampang bisa nomor dua.”
Tapi coba balik ke posisi perempuan. Saat wajahnya tidak elok, tubuhnya tidak semampai, kulitnya tidak putih, dan dompetnya tidak tebal apa yang terjadi? Ia harus menghadapi komentar pedas, tatapan merendahkan, dan kemungkinan untuk tidak dilirik sama sekali. Seringkali, ia bahkan harus siap menerima siapapun yang datang, meski tidak sesuai harapan. Karena perempuan tidak diberi ruang seluas itu untuk memilih. Ia akan dianggap terlalu pilih-pilih, terlalu sombong, atau terlalu menuntut jika ia mengatakan “tidak” lebih dari sekali.
Dan yang lebih menyedihkan, sekarang zaman serba instan. Krim pemutih abal-abal banyak dijual murah. Suntik putih ada di mana-mana. Operasi plastik pun makin terjangkau. Dunia menawarkan solusi cepat bagi perempuan agar bisa “masuk radar pilihan laki-laki”. Tapi pernahkah kita memikirkan perempuan yang tidak punya akses ke semua itu? Yang tidak bisa mengikuti tuntutan “jadi cantik dulu, baru dapat jodoh”? Apa kabar mereka? Apakah hidup mereka tak akan lengkap karena tak mampu jadi “cantik duluan”?
Kita hidup dalam zaman yang katanya modern, tapi standar berpikir sebagian orang masih mundur berabad-abad. Masih percaya bahwa perempuan yang cantik, meski bodoh, tetap lebih berharga daripada perempuan pintar tapi biasa saja parasnya. Selama cantik, semua bisa dimaklumi. Kurang sopan? Ah, dimaafkan. Nggak bisa masak? Bisa belajar nanti. Nggak nyambung kalau diajak ngobrol? Nggak apa-apa, yang penting enak dilihat.
Baca Juga: Meluruskan Stereotip Miring tentang Santri
Standar yang dibuat untuk perempuan sungguh tidak adil. Harus cantik, harus menarik, harus pintar, harus santun, harus pandai bergaul, harus bisa memasak, harus lembut, harus kuat tapi jangan terlalu galak, harus sukses tapi jangan melebihi suami. Terlalu banyak harus yang dibebankan pada perempuan, sementara laki-laki bisa hanya bermodalkan satu atau dua nilai lalu dengan mudah memilih siapa yang mereka inginkan.
Pertanyaannya sekarang, sampai kapan perempuan harus diam? Sampai kapan kita percaya bahwa untuk dicintai, perempuan harus “cantik dulu”, baru dianggap pantas dipilih? Sudah saatnya membuka mata: cinta bukan kompetisi kecantikan. Cinta yang sejati tidak hanya memilih dari tampilan luar, tapi dari hati dan cara pandangnya pada hidup.
Perempuan harus mulai percaya bahwa dirinya berharga bahkan sebelum ada yang memilih. Bahwa dirinya pantas dicintai bukan karena memenuhi standar orang lain, tapi karena ia adalah manusia utuh, dengan jiwa, akal, dan perasaan yang layak dihargai. Jangan jadikan paras sebagai syarat utama untuk merasa cukup. Jangan jadikan validasi laki-laki sebagai satu-satunya tujuan dalam hidup.
Laki-laki boleh memilih. Tapi perempuan juga punya hak untuk tidak menunggu. Untuk memilih siapa yang layak masuk dalam hidupnya, bukan hanya siapa yang kebetulan datang. Dunia ini harus belajar bahwa cinta bukan soal menang-menangan, tapi soal dua orang yang saling memandang setara, apa pun rupa mereka.
Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

