
Kaidah fiqhiyyah yang berbunyi: ” ما كان أكثر فعلاً كان أكثر فضلاً” mengandung prinsip yang sangat dalam, yang bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam agama, pekerjaan, dan pengembangan diri. Kaidah ini mengajarkan kita bahwa semakin banyak pekerjaan yang kita lakukan, semakin besar pula keutamaan atau pahala yang akan kita dapatkan. Intinya, kaidah ini mendorong kita untuk tidak mudah menyerah dan terus berusaha lebih, karena dengan begitu kita akan meraih manfaat yang jauh lebih besar.
Dasar dari kaidah ini ialah sabda Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah RA:
اجرك على قدر نصبك (رواه مسلم)
Artinya: “Pahalamu adalah Berdasarkan kadar usahamu”.
Sesuai dengan hadits yang menjadi dasar kaidah, maka dengan sendirinya yang dimaksud oleh kaidah ialah perbuatan kebaikan, sehingga makin banyak dipebuat, makin tambah keutamaannya. Beberapa contoh dari penerapan kaidah ini, sebagai berikut:

- Melakuakan shalat witir dengan cara diputus lebih utama daripada melakukanya dengan secara disambung, sebab dengan diputus akan lebih benyak melakukan niat, takbir dan salam. Ketika seseorang melaksanakan witir dengan cara diputus, ia melakukan lebih banyak gerakan dalam shalat tersebut, seperti niat, takbir, dan salam setelah setiap rakaat. Dengan melakukan lebih banyak gerakan ibadah (seperti niat, takbiratul ihram, dan salam), maka menurut kaidah di atas, ini menunjukkan bahwa ia mendapatkan lebih banyak keutamaan karena memperbanyak rukun ibadahnya. Sebagaimana ibarat di bawah ini:
حاشيتا قليوبي وعميرة (1/ 243):(وَلِمَنْ زَادَ عَلَى رَكْعَةٍ الْفَصْلُ) بَيْنَ الرَّكَعَاتِ بِالسَّلَامِ فَيَنْوِي رَكْعَتَيْنِ مَثَلًا مِنْ الْوَتْرِ كَمَا قَالَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ. (وَهُوَ أَفْضَلُ) مِنْ الْوَصْلِ الْآتِي لِزِيَادَتِهِ عَلَيْهِ بِالسَّلَامِ وَغَيْرِهِ
- Melakukan shalat sunnah dengan duduk itu pahalanya setengah dari melakukannya dengan berdiri, begitu juga melakukan shalat sunnah dengan tidur miring maka pahalanya setengah dengan orang yang shalat dengan duduk. Jadi jika seseorang melakukan shalat sunnah dengan berdiri maka orang tersebut akan lebih banyak melakukan rukun secara sempurna yang melibatkan banyak pergerakan demikian tidak dapat dilakukan oleh orang yang shalat sunnah dengan duduk, begitu pula yang terjadi kepada orang yang shalat sunnah tidur miring jika dibandingkan dengan orang yang duduk. maka menurut kaidah ini seseorang akan mendapatkan lebih banyak keutamaan karena mengeluarkan tenaga dan gerakan yang lebih dalam ibadahnya. Sebagaimana ibarat di bawah ini:
نهاية الزين (ص59):)كمتنفل) فَلهُ صَلَاة النَّفْل قَاعِدا وَلَو مَعَ الْقُدْرَة على الْقيام كَمَا تقدم وَهَذَا عَام فِي جَمِيع النَّوَافِل حَتَّى النَّفْل الَّذِي تسن فِيهِ الْجَمَاعَة كَصَلَاة الْعِيدَيْنِ وَحَتَّى رواتب الْفَرَائِض وَكَذَا لَهُ صَلَاة النَّفْل مُضْطَجعا وَلَو مَعَ الْقُدْرَة على الْقعُود وَيجب عَلَيْهِ الْجُلُوس للرُّكُوع وَالسُّجُود بَين السَّجْدَتَيْنِ . نعم مصلى النَّفْل قَاعِدا لَهُ نصف أجر الْقَائِم ومصليه مُضْطَجعا لَهُ نصف أجر الْقَاعِد إِذا كَانَ مَعَ الْقُدْرَة أما مَعَ الْعَجز فَلَا ينقص أجره وَلَا يجوز الاستلقاء إِلَّا إِذا عجز عَن جَمِيع مَا تقدم فَإِن اسْتلْقى مَعَ إِمْكَان الْقيام أَو الْقعُود أَو الِاضْطِجَاع فَلَا تصح صلَاته
- Melaksanakan haji dan umrah secara bersamaan (Haji Tamatu’) keutamanya setengah dari melakukan haji dan umrah secara terpisah (Haji Ifrad). Jika seseorang melakukan haji dan umrah secara terpisah itu lebih lebih utama daripada melakukan haji dan umrah secara bersamaan, dikarenakan memisah antara haji dan umrah seseorang akan lebih banyak mengeluarkan waktu dan tenaga serta melakukan lebih banyak pekerjaan dibanding dengan menggabungkan keduanya. Maka, hal ini sejalan dengan kaidah di atas. Sebagaimana ibarat di bawah ini:
كفاية الأخيار في حل غاية الاختصار (ص213): (إِنَّمَا الْأَعْمَال بِالنِّيَّاتِ) وَهُوَ مبدأ الدُّخُول فِي النّسك والنسك الْعِبَادَة وكل عبَادَة لَهَا إِحْرَام وتحلل فالإحرام ركن فِيهَا كَالصَّلَاةِ وَهُوَ مجمع عَلَيْهِ. وَاعْلَم أَن الْإِحْرَام لَهُ ثَلَاثَة وُجُوه الْإِفْرَاد والتمتع وَالْقرَان وَلَا خلاف فِي جَوَاز كل وَاحِد مِنْهُمَا لَكِن مَا الْأَفْضَل فِيهِ خلاف الْمَذْهَب الَّذِي نَص عَلَيْهِ الشَّافِعِي فِي عَامَّة كتبه أَن الْإِفْرَاد أفضل ويليه التَّمَتُّع ثمَّ الْقرَان
Pengecualian Kaidah
Pengecualian dari kaidah ini adalah segala seauatu yang memliki dalil tetntang keutamaan hal yang sedikit daripada hal yang banyak, seperti :
- Melakukan shalat qhasar lebih utama dari pada melakukan shalat secara sempurna ketika dalam perjalanan yang lebih dari 3 marhalah. Dalam masalah ini terdapat dalil yang menujukkan bahwa menQoshor Shalat itu lebih utama daripada menyempurnakanya, jika perjalanya melebihi 3 marhalah, hal ini lebih utama dikarenakan keluar dari perbedaan pendapat dengan yang mengatakan wajib yaitu Abu Hanifah. Maka hal ini bertentangan dengan qaidah di atas.
الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع (1/ 174):تَنْبِيه الصَّوْم لمسافر سفر قصر أفضل من الْفطر إِن لم يضرّهُ لما فِيهِ من بَرَاءَة الذِّمَّة وَالْقصر لَهُ أفضل من الْإِتْمَام إِن بلغ سَفَره ثَلَاث مراحل وَلم يخْتَلف فِي جَوَاز قصره فَإِن لم يبلغهَا فالإتمام أفضل خُرُوجًا من خلاف أبي حنيفَة. أما لَو اخْتلف فِيهِ كملاح يُسَافر فِي الْبَحْر وَمَعَهُ عِيَاله فِي سفينته وَمن يديم السّفر مُطلقًا فالإتمام لَهُ أفضل لِلْخُرُوجِ من خلاف من أوجبه كَالْإِمَامِ أَحْمد
- Shalat shubuh lebih utama dari semua shalat fardhu selain shalat ashar. Padahal shalat subuh memiliki rakaat yang lebih sedikit daripada selainnya. Shalat shubuh yang hanya 2 raakat memiliki keutamaan yang lebih daripada shalat fardhu selain ashar (dhuhur, magrib, dan isya), yang mana rakaatnya lebih banyak dari shalat shubuh sendiri, hal ini berdasarkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa shalat-shalat tersebut, meskipun berbeda dalam jumlah rakaatnya, memiliki keutamaan yang berbeda pula berdasarkan waktunya, kesulitan, dan tantangan yang dihadapi jamaah.Tentunya ini sangat bertentangan dengan kaidah di atas.
نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (2/ 141): (قَوْلُهُ: ثُمَّ الْعَصْرُ) زَادَ سم عَلَى مَنْهَجٍ: ثُمَّ الظُّهْرُ ثُمَّ الْمَغْرِبُ، وَلَا يَبْعُدُ أَنَّ كُلًّا مِنْ عِشَاءِ الْجُمُعَةِ وَمَغْرِبِهَا وَعَصْرِهَا آكَدُ مِنْ عِشَاءِ وَمَغْرِبِ وَعَصْرِ غَيْرِهَا عَلَى قِيَاسِ مَا قِيلَ فِي صُبْحِهَا مَعَ صُبْحِ غَيْرِهَا. انْتَهَى. وَأَمَّا أَفْضَلُ الصَّلَوَاتِ فَقَدْ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ فِي أَوَّلِ كِتَابِ الصَّلَاةِ فِي وَقْتِ الْعَصْرِ مَا نَصُّهُ: أَفْضَلُهَا الْعَصْرُ وَيَلِيهَا الصُّبْحُ ثُمَّ الْعِشَاءُ ثُمَّ الظُّهْرُ ثُمَّ الْمَغْرِبُ فِيمَا يَظْهَرُ مِنْ الْأَدِلَّةِ،
Sebagai penutup, kaidah “ما كان أكثر فعلاً كان أكثر فضلاً” mengajarkan kita bahwa semakin banyak usaha dan amal yang kita lakukan, semakin besar pula keutamaan yang kita raih. Namun, dalam beberapa kasus, ada pengecualian yang menegaskan bahwa kualitas dan waktu juga memegang peranan penting dalam memperoleh pahala. Semoga kita selalu termotivasi untuk terus berusaha lebih dalam setiap amal perbuatan kita, dengan ikhlas dan penuh kesungguhan, demi meraih keutamaan yang lebih besar di sisi Allah SWT.
Baca Juga: Ibadah Lebih Banyak Lebih Baik?
Penulis: Achmad Ubayu Anandyoga
Editor: Muh. Sutan
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

