Telaah Pemikiran KH. Hasyim Asy‘ari tentang Maulid Nabi

Telaah Pemikiran KH. Hasyim Asy‘ari tentang Maulid Nabi


Ilustrasi: arinaID

Perayaan Maulid Nabi Muhammad telah menjadi tradisi umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Meskipun begitu, terdapat perbedaan pandangan di kalangan ulama mengenai hukum dan bentuk peringatan Maulid. KH. Hasyim Asy‘ari, salah satu ulama terkemuka Nusantara dan pendiri Nahdlatul Ulama, memberikan pandangan yang jelas dan terukur dalam risalahnya at-Tanbihāt al-Wājibāt liman Yaṣna‘u al-Maulid bi al-Munkarāt. Pemikirannya menekankan keseimbangan antara ekspresi cinta kepada Nabi Muhammad SAW., dan kepatuhan terhadap syariat Islam.

Baca Juga: Perayaan Maulid Bukan Pasar Malam

Maulid Nabi sebagai Bid‘ah Hasanah:

Contents

نص كلام الحضر الشیخ هاشم أشعري عن حكم المولد

 فإنه مما تقرر عند العلماء المحققين أنّ عمل المولد الشريف الذي هو اجتماع الناس وقراءة ما تيسر من القرآن، ورواية الأخبار الواردة في مبدأ أمر النبي ﷺ وما وقع في مولده من الآيات، ثم يُمد لهم سماط يأكلونه وينصرفون من غير زيادة على ذلك، هو من البدع الحسنة التي يُثاب فاعلها، لما فيها من تعظيم قدر النبي ﷺ وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف ﷺ

Artinya:

“Sesungguhnya telah tetap menurut para ulama yang muhaqqiq, bahwa amalan Maulid Nabi yang berupa berkumpulnya manusia, membaca ayat-ayat Al-Qur’an, meriwayatkan kisah (sirah) tentang permulaan urusan Nabi dan peristiwa yang terjadi pada waktu kelahiran beliau, lalu disediakan makanan yang mereka makan kemudian bubar tanpa menambah sesuatu yang lain, maka hal itu termasuk bid‘ah hasanah. Pelakunya mendapat pahala, karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi serta menampakkan rasa gembira dan suka cita dengan kelahiran beliau.”

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online
  1. Hasyim Asy‘ari menegaskan bahwa peringatan Maulid Nabi boleh dan bahkan dianjurkan selama dilakukan dengan cara yang benar. Beliau menjelaskan bahwa amalan Maulid yang meliputi:
  2. Berkumpulnya umat untuk membaca Al-Qur’an
  3. Membaca kisah hidup Nabi Muhammad (sirah)
  4. Mengisi acara dengan dzikir dan shalawat, serta
  5. Memberikan sedekah makanan yang dibagikan kepada peserta merupakan bid‘ah hasanah. Artinya, meskipun Maulid tidak dilakukan pada masa Nabi , ia tetap bernilai ibadah karena menumbuhkan cinta dan penghormatan kepada Rasulullah, Dalam teks Arabnya, beliau menegaskan:

 “…هو من البدع الحسنة التي يُثاب فاعلها، لما فيها من تعظيم قدر النبي ﷺ وإظهار الفرح والاستبشار بمولده الشريف”

Terjemahnya: “…ia termasuk bid‘ah hasanah yang pelakunya mendapat pahala karena mengagungkan kedudukan Nabi ﷺ dan menampakkan rasa gembira dengan kelahiran beliau.”

Baca Juga: Meneladani Akhlak Rasulullah Melalui Maulid

Taujihad Kh. Hasyim Asy‘ari dalam risalah  التنبيهات الواجبة لمن يصنع المولد بالمنكرات tentang larangan mencampur Maulid dengan hal-hal yang haram:

نص كلام الحضر الشيخ هاشم أشعري في النهي عن المنكرات في المولد

 وأما ما يفعله بعض الناس من المنكرات في المولد الشريف من اختلاط الرجال بالنساء الأجانب، واستعمال الملاهي والمعازف، والرقص والتمثيل بما لا يليق بمقام النبي ﷺ، وشرب المسكرات وما أشبه ذلك، فكل ذلك حرام بلا خلاف بين المسلمين، ومن زعم أنّ ذلك من محبة النبي ﷺ فقد كذب وافترى، لأنّ المحبة الصادقة إنما تكون باتباع سنته والمحافظة على شريعته وتعظيم حرماته.

“Adapun apa yang dilakukan sebagian orang pada acara Maulid Nabi berupa kemungkaran, seperti bercampur-baurnya laki-laki dan perempuan ajnabi, menggunakan alat musik dan hiburan, menari-nari dan pertunjukan yang tidak layak dengan kedudukan Nabi ﷺ, meminum minuman memabukkan, dan semisalnya, maka semua itu haram tanpa ada khilaf di antara kaum muslimin. Barangsiapa mengira bahwa hal-hal tersebut termasuk bagian dari cinta kepada Nabi ﷺ, maka sungguh ia telah dusta dan membuat kebohongan. Karena sesungguhnya cinta yang benar hanyalah dengan mengikuti sunnah beliau, menjaga syariatnya, serta mengagungkan larangan-larangannya.”

Baca Juga: Tradisi Perayaan Maulid Nabi, Lora Ismail: Tradisi Didasari Cinta Pahalanya Luar Biasa

Beliau menekankan:

 “…كل ذلك حرام بلا خلاف بين المسلمين، ومن زعم أنّ ذلك من محبة النبي ﷺ فقد كذب وافترى…”

Artinya: “…semua itu haram tanpa khilaf di kalangan umat Islam. Barangsiapa mengira itu termasuk bagian dari cinta kepada Nabi Muhammad maka ia berdusta.” Dengan kata lain, cinta yang benar kepada Nabi hanya terbukti melalui ketaatan kepada sunnah dan menjaga syariat, bukan sekadar perayaan formal atau hiburan semata.

Pandangan KH. Hasyim Asy‘ari menggabungkan dua prinsip utama:

Baca Juga: Mengenal Tradisi Baayun Maulid Masyarakat Banjar

  1. Ekspresi Syukur (Mahabbah): Peringatan Maulid menjadi sarana meningkatkan kecintaan terhadap Nabi Muhammad, meneladani akhlak dan sunnahnya, serta memperkuat ukhuwah antar umat.
  2. Batasan Syariat (Nahi ‘Anil Munkar): Tradisi tidak boleh mencampuri kemaksiatan; semua bentuk hiburan dan praktik yang bertentangan syariat harus ditinggalkan.

Pendekatan ini menunjukkan keseimbangan antara tradisi dan hukum Islam, sehingga Maulid Nabi bukan hanya ritual seremonial, tetapi juga sarana mendidik umat agar mencintai Nabi dengan cara yang sahih.

  1. Hasyim Asy‘ari memberikan pandangan yang jelas dan proporsional tentang peringatan Maulid Nabi:

Bid‘ah Hasanah bahkan sunnah bila diisi dengan dzikir, Qur’an, sirah Nabi, dan sedekah.

“فَإِنَّ كُلَّ مَنْ أَحْيَا مَوْلِدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا لَا يَحْتَوِي عَلَى مَعْصِيَةٍ فَهُوَ حَسَنٌ وَمُسْتَحَبٌّ”

“Sesungguhnya setiap orang yang menghidupkan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara yang tidak mengandung kemaksiatan adalah baik dan disunnahkan. Haram bila dicampur dengan maksiat, hiburan melalaikan, atau praktik yang bertentangan syariat.

 فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ إِذَا أَدَّى إِلَى مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلَ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَرْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ

Artinya: “Ketahuilah! Sungguh setiap perayaan Maulid jika menjadi penyebab terjadinya kemaksiatan yang nyata, seperti kemungkaran, maka wajib ditinggalkannya dan haram untuk dilaksanakan.”

Baca Juga: Mengenal 5 Tradisi Maulid di Berbagai Negara

Cinta Nabi sejati terbukti melalui mengikuti sunnah, menjaga syariat, dan menjauhi kemungkaran. Dengan pemahaman ini, peringatan Maulid Nabi dapat dijalankan secara ilmiah dan spiritual, selaras dengan nilai-nilai Islam dan tradisi Nusantara yang menjaga keseimbangan antara cinta kepada Rasulullah dan ketaatan kepada Allah.



Penulis: Muhammad Fatih
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *