
Tebuireng.online- Ahad, 17 Agustus 2025, Pesantren Sains Tebuireng menggelar upacara HUT ke-80 Republik Indonesia di lapangan SMA Trensains dengan dihadiri oleh Mudir Bid. Pengembangan Pondok Cabang KH. Agus Abdul Mughni, Kepala Pondok Pesantren Sains Tebuireng Ustadz H. Arif Khuzaini, Kepala Sekolah SMA Trensains Ustadz Umbaran, dan Kepala Sekolah SMP Sains Ustadz Anam, segenap guru sekolah dan pembina, serta seluruh santri Pesantren Sains Tebuireng..
KH. Abdul Mughni sebagai pebina upacara menyampaikan amanatnya, “Memasuki usia ke-80, Indonesia menghadapi beragam tantangan global, mulai dari revolusi industri 4.0, perubahan iklim, hingga dinamika geopolitik dunia. Namun, bangsa ini memiliki modal berharga berupa warisan spiritual dan intelektual para ulama serta tokoh pesantren, salah satunya Hadhratus Syeikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Nilai perjuangan, kebersamaan, dan kearifan lokal yang diwariskan beliau menjadi bekal penting dalam menghadapi masa depan,” ungkapnya dalam membuka amanat.
Ia melanjutkna, generasi muda dituntut menjadi ujung tombak perubahan dengan wawasan global yang tetap berakar pada budaya lokal. Konsep nasionalisme religius KH. Hasyim Asy’ari, yang dikenal dengan semboyan hubb al-wathan min al-iman (cinta tanah air bagian dari iman), masih relevan hingga kini. Semangat jihad melawan penjajahan yang beliau gaungkan perlu ditransformasikan menjadi jihad melawan kemiskinan, kebodohan, dan kemunduran bangsa.
Selain itu, ia juga mengatakan, peran pesantren khususnya Pesantren Tebuireng, juga tidak dapat dilupakan. Selain sebagai pusat pendidikan agama, pesantren ini menjadi benteng perlawanan terhadap penjajah. Fatwa “Resolusi Jihad” yang dikeluarkan KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 membangkitkan semangat perlawanan rakyat Surabaya dalam peristiwa 10 November. Pesantren pun terbukti berperan besar dalam membentuk karakter kebangsaan, keberanian, serta cinta tanah air para santri.
“Tema peringatan tahun ini, ‘Bersatu Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Indonesia Maju’, mengingatkan pada tiga pilar fundamental bangsa. Pertama, bersatu berdaulat, yang menekankan pentingnya persatuan sebagai kekuatan terbesar. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan inklusivitas dan nasionalisme, mendukung Pancasila, membangun dialog lintas agama, dan mempromosikan Islam moderat melalui Nahdlatul Ulama,” katanya.

Ia melanjutkan, kedua, rakyat sejahtera. Kemerdekaan hakiki tercapai ketika seluruh rakyat merasakan kesejahteraan yang merata. Pesantren telah memberi teladan dengan memberdayakan masyarakat melalui pendidikan, keterampilan, dan penguatan ekonomi. Pemerintah pun dituntut memastikan pembangunan menyentuh lapisan bawah agar manfaat kemerdekaan dirasakan semua kalangan. Ketiga, Indonesia maju. Kemajuan bangsa bukan hanya dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas SDM, penguasaan teknologi, dan kekuatan karakter. Pesantren Tebuireng menunjukkan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan. Indonesia yang maju adalah bangsa yang mampu bersaing di kancah global tanpa kehilangan jati dirinya.
Dengan semangat persatuan, kesejahteraan, dan kemajuan, peringatan HUT ke-80 ini menjadi momentum refleksi untuk memperkuat komitmen membangun Indonesia yang lebih baik. Semoga cita-cita para pendiri bangsa dapat terwujud, dan Allah SWT senantiasa melindungi serta memberkahi NKRI. “Dirgahayu Republik Indonesia ke-80! Merdeka!” serunya.
Pewarta: Aulia
Editor: Sutan
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

