Takdir yang Ditenun Doa | Tebuireng Online

Takdir yang Ditenun Doa | Tebuireng Online


Perempuan sedang berdoa (ilustrator: ai/ra)

Putri adalah manusia yang selalu percaya bahwa cinta itu sangat sakral dan suci. Sebab, rasa cinta dan kasih sayang merupakan anugerah terindah dari Sang Pencipta rasa itu sendiri. Karena itu, rasa tersebut harus dijaga dan didapatkan dengan cara yang baik.

Seperti saat ini, ia sedang jatuh cinta kepada Ahmad Musthofa Aziz, kakak tingkatnya di organisasi kampus, seseorang yang sangat sering memberi bantuan dalam keadaan apa pun. Setiap kali Putri kerepotan, Musthofa akan datang, meski mendadak. Ia selalu hadir dengan niat baik, membantu tanpa pamrih. Saat Putri sakit pun, Mas Mus, panggilan akrabnya, akan datang menjenguk sambil membawa berbagai makanan dan minuman taro kesukaan Putri. Dari perhatian kecil itulah, Putri jatuh suka. Rasa itu tumbuh tiba-tiba, tanpa diminta.

Dan Putri yakin, Musthofa pun menyimpan hal yang sama. Namun, manusia tetaplah manusia. Ternyata, ada hal yang tidak Putri ketahui. Di dunia ini, bukan hanya ada Musthofa, tetapi juga ada Wahyu, sosok laki-laki yang tenang, dingin di luar, namun penuh doa di dalam. Sejak awal, Wahyu menyukai Putri. Bukan karena iba, bukan karena kebetulan, melainkan cinta yang tulus ia titipkan kepada Sang Pemberi rasa, untuk ciptaan-Nya yang sempurna.

Wahyu pernah mendengar gurunya berkata, “jika engkau mencintai seseorang, jangan terburu-buru mengikatnya dengan lisan. Ikatlah dulu dengan doa, sebab doa lebih suci daripada janji manusia.”

Maka itulah yang ia lakukan, mencintai Putri dalam diam, lalu menyerahkan takdirnya kepada Allah.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Hari demi hari, Putri semakin yakin bahwa Musthofa pun menyukainya. Sebab, sikapnya begitu manis, tatapannya begitu hangat, seakan ada ruang tersendiri dalam lubuk hatinya. Putri pun menunggu, berharap banyak. Namun, kenyataan ternyata jauh berbeda dari apa yang ia pinta.

Saat itu, Musthofa justru mendekati sahabatnya. Putri terkejut, hatinya runtuh. Malam-malam ia habiskan dengan menangis sendirian, mempertanyakan hal yang menyakitkan,

“Ya Allah, apakah aku salah dalam membaca tanda?”

Di masa itulah, saat Putri sedang hancur dan terpuruk, sosok Wahyu datang. Bukan dengan rayuan, tapi dengan kalimat sederhana nan menenangkan,

“Sabar, ya, Pu. Apa yang bukan milikmu tak akan pernah menjadi milikmu, sekuat apa pun kamu mengejar dan meminta. Dan sebaliknya, apa yang Allah tulis dan takdirkan untukmu, tak akan pernah meleset sia-sia.”

Beberapa bulan berlalu. Meski Putri masih berharap dan menunggu sesuatu yang tak pasti itu, tiba-tiba keluarganya menyampaikan sebuah kabar, kabar tentang seseorang yang datang melamar Putri langsung kepada orang tuanya. Dan tersebutlah nama laki-laki itu: Wahyu Al Barra.

Seketika, Putri terdiam. Ia tak pernah menyangka, apalagi membayangkan, bahwa Mas Wahyu menyimpan niat sebesar itu. Namun karena restu orang tua begitu kuat, Putri pun manut dan menerima lamaran tersebut. Dalam hatinya, ia berdoa,

“Ya Allah, jika memang ini takdirnya, lapangkanlah hatiku. Jika ini baik untukku, berkahilah setiap langkah ini menuju panggung halal itu.”

Pernikahan pun digelar. Putri duduk di pelaminan, masih antara percaya dan tidak. Namun setelah akad, Wahyu menatapnya begitu dalam.

“Dek Putri,” ucapnya lirih.

“Jujur, aku mencintaimu sejak lama. Aku memang tidak pernah bicara dan memberi tahu karena aku tahu, hatimu kala itu bukan tertuju padaku. Aku hanya bisa memilih diam dan berdoa. Dan doa itulah yang akhirnya membawamu ke sini, kepada kita yang direstui-Nya. Sebab, bagaimanapun kamu meminta, kalau bukan milikmu, ia akan pergi meninggalkan. Seperti kalimat yang tertakar, tidak akan pernah tertukar.”

Putri terdiam. Air matanya jatuh. “Kenapa Mas nggak bicara dari dulu?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Aku takut, Dek. Takut rasaku menjadi beban bagi cerita kehidupanmu sebelum bersamaku. Lebih baik aku titipkan pada Sang Pemberi anugerah itu. Dan alhamdulillah, Allah menjawab dengan cara terbaik-Nya. Pintaku hanya satu: biar takdir yang mengatur temu, biar doa yang bekerja. Dan kita adalah hasil dari doa dan tangisku tiap malam, merayumu pada Tuhan,” jawab Wahyu lembut.

Kini keduanya menjalani bahtera kehidupan penuh suka dan cita. Kebahagiaan dan keceriaan terus terpancar dari mereka berdua. Dan baiknya Allah, memberikan mereka amanah begitu cepat, seorang keturunan yang menambah sempurna kebahagiaan itu.

Bahagia pun kian bertambah, meski awalnya begitu menyakitkan. Malam itu, Putri tersenyum dalam tangis. Ia sadar, cinta sejati bukan yang ia kejar dengan harapan kosong, melainkan yang Allah simpan rapat-rapat, lalu diberikan pada waktu terbaik. Karena ternyata, cinta terbesar bukan ketika hati saling berbalas, tapi ketika Allah sendiri yang merajutnya dalam ikatan halal.

Beberapa waktu kemudian, tanpa sengaja Putri mendengar percakapan Musthofa dengan temannya.

“Aku dulu deket sama Putri cuma kasihan, bro. Dia sering repot sendiri, jadi ya aku bantu. Aku nggak pernah mikir serius sama dia.”

Kata-kata itu menusuk, namun sekaligus membebaskan. Ternyata selama ini ia hampir saja jatuh pada cinta yang salah, cinta yang tumbuh dari rasa iba, bukan dari ketulusan.

Putri menatap Wahyu malam itu, suaminya yang sabar. Dalam hati ia berbisik,

“Alhamdulillah, Engkau selamatkan aku, Ya Allah. Ternyata Engkau paling tahu siapa yang benar-benar mencintaiku.”

Kini Putri pun benar-benar mengerti, “boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Dan ia pun belajar, “yang tampak peduli belum tentu mencintai, tapi yang diam bisa jadi menyimpan doa lebih banyak dari yang kita tahu.”

“Cinta sejati bukan yang lantang diucapkan, tapi yang ikhlas dititipkan pada Allah hingga Allah sendiri yang mempertemukan.”



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *