
Pada Jumat malam (1/8), suasana di Yayasan Ar-Rahman Dr. Soetomo Jombang terasa sakral namun hangat dan akrab. Saya datang dengan semangat untuk mengikuti acara “Ngaji Bareng Gus Irfan Afifi” yang saya kira terbuka untuk umum. Tanpa saya sadari, acara tersebut ternyata bersifat privat, dihadiri sekitar lima belas orang yang seluruhnya merupakan tamu undangan khusus dari Drs. H. Suroto, MM., selaku Ketua Yayasan. Dengan rasa sungkan, saya memberanikan diri bertanya kepada seseorang yang berdiri di depan pintu masuk, yang ternyata adalah beliau sendiri. Alhamdulillah, meskipun saya bukan undangan resmi, beliau tetap mempersilakan saya masuk dan mengikuti forum tersebut. Bagi saya, ini menjadi momen istimewa, mengaji filsafat Jawa langsung bersama Gus Irfan Afifi, sosok yang dikenal luas karena kedalaman spiritualitas dan pemikirannya tentang Islam Nusantara.
Gus Irfan Afifi adalah budayawan, akademisi filsafat, sekaligus penulis buku-buku penting seperti “Saya, Jawa, dan Islam”. Ia juga merupakan pendiri langgar.co, sebuah platform pemikiran Islam progresif yang berakar pada tradisi lokal. Dalam forum malam itu, beliau hadir bukan sekadar sebagai narasumber, melainkan sebagai “penyaksi zaman”, seseorang yang menjalani suluknya dengan kesadaran penuh, lalu membagikan buah perjalanannya kepada para pencari makna di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Paparannya tidak hanya membuka wawasan tentang spiritualitas Jawa, tetapi juga menggugah kesadaran batin akan pentingnya kembali ke laku rasa dan penghayatan jiwa di tengah derasnya arus informasi.
Dengan rendah hati, Gus Irfan Afifi mengaku merasa kewanen, merasa tak layak karena kerap diminta menjelaskan ihwal ilmu kasepuhan, padahal hakikat ilmu tersebut sangatlah dalam dan sakral. Ia mencontohkan “Wirid Hidayat Jati” karya Ranggawarsita sebagai teks spiritual yang dahulu diposisikan sebagai bacaan wingit, angker, dan keramat. Kini, kitab-kitab semacam itu justru dijual bebas di marketplace dan bahkan disajikan secara sembrono di berbagai platform digital.
“Kalau hanya pengetahuan, tinggal klik. Semua mazhab bisa keluar lewat AI,” ujar beliau.
Namun, di tengah limpahan informasi ini, yang justru paling terabaikan adalah ahwal ruhani, kondisi batiniah yang hanya bisa diperoleh lewat suluk atau perjalanan spiritual yang dijalani dengan kesungguhan. Menurutnya, ilmu tidak cukup hanya diketahui, ia harus dihayati dalam lelaku dan dijalani sebagai lelakon.

“Daripada ruang digital diisi konten awur-awuran, lebih baik kita arahkan pemahamannya,” tambah Gus Irfan, mengajak untuk tidak hanya menggugurkan rasa ingin tahu, tetapi juga membangun kesadaran ruhani yang lebih dalam.
Suluk, dalam khazanah Islam Jawa, bukanlah sekadar praktik spiritual yang elitis. Ia adalah peta perjalanan batin, seperti tergambarkan dalam “Suluk Linglung” karya Sunan Kalijaga atau pengembaraan tokoh Amongraga dalam “Serat Centhini” yang menjelajah pesantren, pertapaan, hingga padepokan. Dalam bahasa Gus Irfan, suluk bukan hanya soal pengetahuan tentang Tuhan, tetapi tentang pengalaman langsung atas keberadaan (ma’rifat). Ini adalah pengembaraan yang tidak keluar, melainkan masuk jagad waliyo (mungkin semakna dengan “baliyo” yang berarti “pulang”), pengelanaan yang berbalik arah menuju diri.
Dalam Islam, petuah man ‘arofa nafsahu fa qod ‘arafa robbahu menjadi fondasi dari pencarian ini. Mengenal Tuhan berawal dari pengenalan akan diri sendiri. Tapi seperti diingatkan Gus Irfan, suluk itu bukan jalan besar seperti syariat. Ia adalah jalan sempit, setapak, yang harus dilalui sendiri-sendiri untuk menuju jalan yang lebih besar. “Imam Junaid mengatakan, sebanyak manusia, sebanyak itu pula suluknya”, terangnya.
Spirit pengembaraan ini sejatinya masih hidup dalam praktik pesantren, seperti tradisi santri “lelono”, berkelana ke berbagai tempat bukan hanya secara fisik, tapi juga batin. Ini bukan pelarian, tapi latihan otonomi spiritual. Dalam tradisi kejawen yang dibawa oleh para wali, kehidupan manusia digambarkan melalui tembang macapat, dari maskumambang (dalam kandungan) hingga pucung (kembali ke tanah). Tahapan itu adalah metafora dari kesadaran eksistensial yang harus ditempuh oleh manusia agar bisa kembali ke Tuhan dalam keadaan sadar.
Namun, di era digital yang penuh disrupsi, jalur-jalur suluk itu makin kabur. Dunia maya yang riuh dan penuh stimulasi adalah “sampah visual” yang menyibukkan pancaindra namun mengaburkan rasa. Dalam pengamatan Gus Irfan, banyak yang sibuk mengejar pengetahuan, namun melupakan pangrasa, melatih akal tapi lupa mengasah rasa. Padahal, rasa adalah basis dari pangupo jiwo, cara hidup orang Jawa yang bekerja bukan sekadar untuk perut, tapi untuk jiwa.
Pangupo jiwo, menurut Gus Irfan, adalah paradigma kerja yang tidak berorientasi pada hasil material semata. Orang Jawa dahulu tidak hanya menyebut profesi mereka sebagai pekerjaan, tetapi sebagai panguripan, yakni cara menghidupi jiwa dan raga. Dalam penghayatan seperti ini, kerja adalah persembahan, bukan sekadar upaya bertahan hidup. Kerja yang digarap dengan sepenuh jiwa akan menjadi ibadah, bukan hanya aktivitas ekonomi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan gempuran konten serampangan, ajakan untuk kembali ke suluk dan pangupo jiwo menjadi semakin relevan. Bukan untuk mundur dari kemajuan, tapi agar kita tetap berpijak pada inti diri. Gus Irfan mengingatkan, “Banyak orang mencari api sambil membawa obor.” Mereka berkeliling mencari cahaya, padahal sumber cahaya itu telah dimilikinya. Sayangnya, keramaian dunia digital membuat banyak orang kehilangan fokus, kehilangan rasa, dan lupa tujuan hidup.
Spiritualitas Islam Jawa, seperti yang dibawa para wali, menekankan bahwa takwa bukan sekadar kepatuhan formal. Buya Hamka mendefinisikan takwa dari sisi jiwa, bukan fisik, fikih, atau syari’at. Beliau menyebut takwa sebagai kesadaran jiwa yang hadir seperti bakti anak pada orang tua. Belum tentu patuh seratus persen, tetapi di sanalah terjadi pembelajaran tentang otonomi dirinya, walaupun sangat mungkin terjadi “kenakalan” dalam prosesnya. Takwa adalah rasa. Dan dalam rasa itulah, makna suluk dan pangupo jiwo bertemu. Jalan menuju Tuhan, ditempuh dengan kerja yang dilandasi cinta, bukan semata instruksi orang tua atau lingkungan di luar dirinya.
Sebagai penutup, Gus Irfan menyampaikan bahwa semua ajaran kejawen pada dasarnya adalah tafsir atas warisan para wali. Bahwa tafsir ini telah dibumbui teosofi modern memang tidak bisa dihindari, tetapi akarnya tetap berasal dari Islam yang telah dihayati dalam kosmologi rasa. Maka ketika kita berbicara tentang suluk dan pangupo jiwo di era digital, yang kita cari bukanlah romantisme masa lalu, melainkan keberanian untuk tetap eling lan waspodo, ingat dan sadar di tengah keramaian dunia yang memekakkan telinga.
Inilah tugas spiritual kita hari ini, menghidupkan jiwa di tengah algoritma. Bekerja tidak hanya untuk makan, tapi untuk bertemu Tuhan. Sebab sebagaimana dikatakan Gus Irfan, “Bekerja itu untuk raga. Tapi berkarya, itu untuk jiwa.”
Baca Juga: Narima Ing Pandum, Jangan Berlebihan dalam 3 Hal
Penulis: Hari Prasetia (Alumni S2 UNHASY Tebuireng)
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

