
Kepada yang Pulang
Malam kesendirian.
Di bawah atap, aku menulis karangan
tentang segala hal yang kurasakan.
Bak penulis andal,
aku merangkai kata sebanyak-banyaknya
di bawah langit malam,
bertemankan bintang yang tak seberapa.
Malam kesendirian
adalah malam kesedihan.
Teringat rumah,
mata sembap seharian.
Demi sebuah perjuangan,
aku rela menanggung
rindu yang tak terobati,
semakin lama, semakin dalam.
Saksi Gadis Belia
di depan kamar.
Aku terduduk, termenung, kebingungan—
seperti kehilangan arah,
meski sedang berada di rumah.
Di malam yang sepi,
bertemankan sunyi,
aku mulai merakit puisi—
mengeluhkan isi hati,
dengan pemandangan tak biasa:
corong pabrik gula dan asapnya,
gadis yang pening oleh pikirannya,
memilih antara impian
atau ridha orang tua.
Pojok Tikungan
di sanalah kisahku bermula.
Tentang yang tak pulang,
namun tetap tinggal di sini,
menjaga yang tercinta.
Bukan karena tak rindu,
tapi mengaji lebih menarikku
untuk menunda temu.

Sebab dengan doa,
rindu yang tak bersua
tetap bisa sampai pada tujuannya.
Di kesunyian malam,
aku termangu,
menatap kamar yang tak berpenghuni.
Sepi, sunyi, sedikit ngeri—
tapi tak mengapa.
Hidup memang berdampingan
antara manusia
dan makhluk tak kasat mata.
Semoga Tuhan, Sang Pencipta,
selalu melindungi siapa pun
yang berdoa dan berserah diri pada-Nya.
Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
