Sajak-sajak Kepulangan | Tebuireng Online

Sajak-sajak Kepulangan | Tebuireng Online


Ilustrasi perjalanan (sumber: Ist)

Kepada yang Pulang

Malam kesendirian.
Di bawah atap, aku menulis karangan
tentang segala hal yang kurasakan.
Bak penulis andal,
aku merangkai kata sebanyak-banyaknya
di bawah langit malam,
bertemankan bintang yang tak seberapa.

Malam kesendirian
adalah malam kesedihan.
Teringat rumah,
mata sembap seharian.
Demi sebuah perjuangan,
aku rela menanggung
rindu yang tak terobati,
semakin lama, semakin dalam.



Saksi Gadis Belia
di depan kamar.
Aku terduduk, termenung, kebingungan—
seperti kehilangan arah,
meski sedang berada di rumah.

Di malam yang sepi,
bertemankan sunyi,
aku mulai merakit puisi—
mengeluhkan isi hati,
dengan pemandangan tak biasa:
corong pabrik gula dan asapnya,
gadis yang pening oleh pikirannya,
memilih antara impian
atau ridha orang tua.



Pojok Tikungan
di sanalah kisahku bermula.
Tentang yang tak pulang,
namun tetap tinggal di sini,
menjaga yang tercinta.
Bukan karena tak rindu,
tapi mengaji lebih menarikku
untuk menunda temu.

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Sebab dengan doa,
rindu yang tak bersua
tetap bisa sampai pada tujuannya.

Di kesunyian malam,
aku termangu,
menatap kamar yang tak berpenghuni.
Sepi, sunyi, sedikit ngeri—
tapi tak mengapa.
Hidup memang berdampingan
antara manusia
dan makhluk tak kasat mata.

Semoga Tuhan, Sang Pencipta,
selalu melindungi siapa pun
yang berdoa dan berserah diri pada-Nya.



Penulis: Wan Nurlaila Putri
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *