Rumah di Dalam Diri | Tebuireng Online

Rumah di Dalam Diri | Tebuireng Online


ilustrasi diri dan kehidupan (sumber: identitasunhas)

Rumah di Dalam Diri

Pernah aku berlari jauh, mencari kebahagiaan di tempat yang asing. Menelusuri keramaian, berharap menemukan senyum yang mampu mengisi ruang kosong di hati. Namun setiap kali aku pulang, yang kutemukan hanyalah sepi yang menunggu di depan pintu.

Suatu hari, aku memutuskan duduk diam. Mendengar napasku sendiri, merasakan detak jantung yang jarang kuperhatikan. Perlahan aku sadar, kebahagiaan itu tak pernah pergi—ia hanya bersembunyi di sudut hatiku, menunggu aku mengetuk pintunya.

Kini, aku menjaga rumah di dalam diriku. Mengisinya dengan sabar, menghiasnya dengan syukur. Aku tak lagi mencarinya di luar, karena aku sudah memiliki segalanya di dalam.


Cermin yang Ramah

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Dulu, cermin adalah musuhku. Ia memantulkan segala yang kuanggap kekurangan; pipi yang membulat, mata yang sayu, kulit yang tak seputih bayangan iklan. Aku belajar membenci diriku lewat pantulan itu.

Namun perlahan aku mengubah cara pandang. Aku mulai menatap cermin dengan mata yang lebih lembut. Setiap garis, setiap lekuk, adalah peta perjalanan hidup yang kulalui. Tak ada yang salah dengan wajah ini—ia telah bertahan melewati badai yang orang lain tak tahu.

Sekarang, cermin itu terasa ramah. Ia memantulkan aku yang lebih tulus, bukan sempurna. Aku tersenyum dan berbisik pada pantulan itu, “Terima kasih, sudah bertahan sejauh ini.”


Langkah Pelan yang Tenang

Aku pernah berpikir bahagia hanya milik mereka yang berlari cepat dan mencapai puncak lebih dulu. Aku mengejar mimpi tanpa berhenti, meski napas nyaris habis. Namun di tengah kelelahan itu, aku sadar: aku tak tahu untuk siapa aku berlari.

Kini aku memilih langkah yang lebih pelan. Menikmati aroma pagi, suara burung, dan kopi hangat yang menenangkan. Aku tak lagi membandingkan perjalananku dengan orang lain, karena kebahagiaan bukanlah lomba.

Bahagia ternyata sederhana: berdamai dengan langkah sendiri. Dan hari ini, aku melangkah bukan untuk sampai lebih dulu, tapi untuk sampai dengan hati yang utuh.



Penulis: Albii
Editor: Rara Zarary



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *