
Tebuireng.online– Ribuan santri Pondok Pesantren Tebuireng memadati Masjid Pesantren Tebuireng Pusat pada Sabtu (13/9/2025) untuk mengikuti pengajian umum dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Santri hadir dengan berpakaian seragam rapi, berbaju putih, bersarung, dan bersongkok. Selain santri pondok pusat, acara juga diikuti oleh santri Muallimin dan santri SMK Khoiriyah Tebuireng.
Pengajian tersebut dihadiri oleh jajaran pengasuh dan dewan ustadz, di antaranya Pengasuh Pesantren Tebuireng KH. Abdul Hakim Machfudz, Ir. Abdul Ghofar, Gus Riza Yusuf, KH. Musta’in Syafi’i, KH. Kamuli Khudhori, Kepala Pondok Putra Ust. Slamet Habib, serta para ustadz Pesantren Tebuireng.
Baca Juga: Telaah Pemikiran KH. Hasyim Asy‘ari tentang Maulid Nabi
Acara diawali dengan qiro’ah Al-Qur’an oleh Fahri Hafidz dan Rifa Mujtabah, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne Tebuireng.


Dalam sambutannya, Kepala Pondok Putra Ust. Slamet Habib mengingatkan santri agar menyimak ceramah dengan sungguh-sungguh.
“Didengarkan nanti pas ceramah biar berkah. Kalau ada barokah itu dapat berkah. Apa saja berkah yakni Berilmu, Etika, Religius, Kreatif, Amal Sholeh, Hikmat, diamalkan ya nanti,” pesannya.
Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Machfudz, atau Gus Kikin, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berkumpul dalam peringatan Maulid Nabi.
“Hari ini kita memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad. Beliau setiap hari Senin berpuasa untuk memperingati hari lahirnya, kita memperingati setiap tahun. Kita mengingat dan semoga itu bisa menjadikan teladan apa yang ditinggalkan untuk umatnya. Jadi kita harus bergembira, karena kelahiran beliau sudah ditunggu seluruh dunia,” ungkapnya.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mahalul qiyam sebagai ungkapan cinta kepada Rasulullah SAW.
Puncak peringatan diisi dengan ceramah Ustadz Ahmad Ubaydi Hasbillah yang mengulas karya Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari tentang kecintaan ulama salaf terhadap Rasulullah.
Baca Juga: Meneladani Akhlak Rasulullah Melalui Maulid
“Maulid Nabi ini adalah momen penting untuk memperbarui bahasa anak-anak sekarang, meng-upgrade dan meng-update kecintaan kita kepada Baginda Rasul serta kerinduan kita. Sholawat yang kita baca boleh jadi baru secara lisan, itu sudah baik. Tetapi sholawat juga perlu dilakukan bukan hanya secara lisan, tapi juga secara hati dan pikiran,” jelasnya.
Acara ditutup dengan doa yang dipimpin KH. Kamuli Khudhori. Sebelum memimpin doa, beliau berpesan, “Setelah mengikuti sampai akhir ceramah, semoga yang belum kita lakukan bisa kita lakukan, dan yang sudah dilakukan mari kita tingkatkan lagi. Mudah-mudahan kita bisa melakukannya.” Doa dipanjatkan dengan penuh khidmat, mengakhiri rangkaian peringatan Maulid Nabi di Tebuireng dengan suasana khusyuk.
Pewarta: Albii
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

