
Hari Jumat yang ditunggu akhirnya tiba. Selepas salat Jumat, suasana pondok mendadak terasa lebih formal. Tikar digelar rapi. Poster tulisan tangan ditempel di papan pengumuman: “Diskusi Santri – Tambang dan Masa Depan Desa.” Simpel, seadanya, tapi cukup bikin pengurus pondok garuk-garuk kepala.
Pak Lurah datang dengan batik cokelat, ditemani dua orang berbadan tegap yang entah siapa. Senyum beliau ramah, tapi pandangan matanya waspada. Di belakang, beberapa warga desa ikut datang. Ada yang penasaran, ada yang sekadar ikut karena dengar kabar.
Diskusi dimulai. Rijal yang bicara pertama. Pelan, jelas, pakai bahasa yang mudah.
Baca Juga: Kamar Nomor 13
“Kami santri cuma mau belajar. Kalau belajar fikih, ya belajar juga soal hidup. Kalau belajar soal tayamum, ya harus belajar juga soal air. Kalau air hilang karena tambang, apa kami ganti tayamum pakai debu tambang, Pak.”

Beberapa santri nyengir. Pak Lurah menahan senyum, mungkin bingung mau marah atau mau tepuk tangan.
Syahdan menyambung. “Kami bukan ahli politik. Kami cuma ngerti, kalau sesuatu bikin mudharat lebih besar, itu nggak boleh dalam agama.”
Salah satu warga nyeletuk, “Tapi kalau tambang bikin jalan dibenerin, bikin pasar rame, itu gimana?”
Fathan yang menjawab, “Boleh, asal nggak nyusahin yang lain. Ibarat makan sambel, boleh pedes, tapi jangan sampai bikin temen makan ikut sakit perut.”
Tiba-tiba Pak Lurah bersuara, kali ini lebih tajam. “Santri itu harus moderat. Jangan kayak yang saya baca-baca, ada istilah baru: ‘wahabi lingkungan’. Menolak semua tambang, semua pembangunan, semua yang bau industri. Apa itu nggak terlalu ekstrim?”
Rijal menjawab pelan, “Tapi Pak, ini soal lingkungan, kita nggak bisa kompromi kalau air mati dan tanah rusak. Kita bukan anti pembangunan, tapi ini demi kehidupan.”
Syahdan menimpali, “Menurut teori fungsionalisme, Pak, kalau sistem sosial rusak karena eksploitasi lingkungan, selain merusak lingkungan, stabilitas sosial jangka panjang pun runtuh.”
Pak Lurah terdiam sebentar. Lalu mengangguk. “Saya paham keresahannya. Tapi saya juga harus jaga keseimbangan. Ada kepentingan daerah, ada investor, ada politik anggaran.”
Diskusi berakhir tanpa keputusan jelas. Tapi ada satu hal yang berubah: malam itu, seluruh kamar pondok mendadak ramai bicara soal lingkungan. Bahkan ada yang mulai nyoba bikin komposter dari bekas ember cat.
Dan kamar 13 tetap jadi pusatnya. Bukan pusat ilmu yang paling rapi, tapi pusat keributan yang penuh ide.
Di pojok kamar, Naim angkat gelas kopi sachet. “Revolusi boleh kecil, tapi kopi harus tetap manis.”
Dan malam itu, ngaji ekologi diteruskan dengan cireng gosong, obrolan ngawur, dan mimpi tentang masa depan desa yang nggak cuma penuh lubang tambang.
***
Paska diskusi Jumatan, kamar 13 kembali jadi ruang diskusi. Bukan soal tambang, tapi soal berita terbaru: seorang pejabat tinggi daerah datang ke kantor pondok diam-diam. Kata Seno, si tukang sebar kabar, “Ada yang bilang beliau itu sepupu direksi perusahaan tambang.”
Fathan duduk gelisah. “Jadi ini bukan cuma soal air. Ini soal jaringan politik.”
Baca Juga: Ngaji Ekologi di Kamar Nomor 13
Rijal menjawab pelan, “Makanya dalam fikih siyasah, kepemimpinan itu amanah. Tapi kalau jadi alat dagang, ya runtuh barokahnya.”
Syahdan buka catatannya. “Dalam teori konflik Marx, kekuasaan itu cenderung mempertahankan status quo demi kelas yang dominan. Dalam konteks kita: tambang bukan sekadar proyek ekonomi, tapi alat reproduksi kuasa.”
Naim garuk-garuk kepala. “Reproduksi itu maksudnya…?”
“Tenang, bukan reproduksi yang kamu kira,” jawab Rijal. “Maksudnya, kuasa yang diwariskan.”
***
Keesokan paginya, suasana pondok tegang. Pak Ustaz Taufiq memanggil Rijal dan Syahdan ke kantor.
“Kalian boleh cerdas. Tapi jangan bikin pondok ini jadi bahan omongan. Kita ini pesantren, bukan forum aktivis.”
Rijal menunduk. “Kami paham, Ustaz. Tapi kami juga santri. Dan santri nggak hanya punya hak ngaji, tapi juga punya hati kalau air sumur makin keruh.”
Pak Taufiq menghela napas. “Saya dulu juga idealis. Tapi dunia ini keras. Kadang kita harus kompromi.”
Mereka pulang ke kamar dengan wajah berat. Tapi malam itu, mereka tak diam.
Syahdan ambil kertas besar. Di atasnya ia tulis: “Kalau tak mampu menghentikan tambang, setidaknya jangan menambang diam.”
Mereka fotokopi tulisan itu, lalu malam-malam diselipkan ke rak mushaf, ke saku celana yang di jemur, bahkan ke kardus mie instan di dapur pondok. Besoknya, pondok gaduh.
“Siapa yang nulis ini?”
Tapi tak ada yang tahu. Kecuali kamar nomor 13. Dan mereka tahu, revolusi itu tak selalu perlu teriak.
Bersambung….
Penulis: Sya’ban Fadol. H
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

