
Tebuireng.online- Tiga mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Ma’sum Ahlul Choir, Moh Wildan Husin, dan M. Rasyid Irfan, sukses meraih juara ketiga dalam ajang Musabaqoh Qiro’atil Kutub Nasional (MQKN) 2025 di cabang lomba Debat Qanun. Capaian ini menjadi kebanggaan setelah ketiganya berhasil lolos dari babak penyisihan CBT (Computer Based Test) yang diikuti oleh 50 Ma’had Aly se-Nusantara. Perlombaan Debat Qanun ini merupakan bagian dari MQKN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) RI dan puncaknya berlangsung pada 1–7 Oktober 2025 di Ma’had Aly As’adiyah Sengkang, Sulawesi Selatan.
Ma’sum Ahlul Choir, yang merupakan salah satu delegasi, mengungkapkan perjuangan timnya. Ia sempat gagal berangkat pada lomba debat tematik sebelumnya karena mengalami cedera kaki. “Saya pribadi adalah utusan yang tertunda,” jelas Ma’sum, yang kini berhasil tampil bersama rekan-rekannya di babak semifinal hingga meraih juara.
Keberhasilan ini dicapai meski tim sempat diliputi kekhawatiran karena baru pertama kali mengikuti lomba debat yang berorientasi pada undang-undang dan syariat. Menurut Moh Wildan Husin, tantangan terbesar adalah sinkronisasi antara turats (kitab kuning) dengan konstitusi kenegaraan.
“Kesulitannya dalam elaborasi konstitusi pada hukum-hukum Islam, serta mempertahankan argumen di tema yang lebih menguntungkan pihak lawan,” kata Wildan.
Senada dengan itu, M. Rasyid Irfan menambahkan bahwa memadukan dasar konstitusi dan hukum syariat merupakan tantangan tersendiri bagi mereka yang terbiasa bergelut dengan kitab kuning.

“Kami harus belajar mulai dari hierarki perundang-undangan hingga menyiapkan argumentasi yang berlandaskan syariat, mulai dari ushul fiqh, kemudian dari fiqh praktisnya,” jelas Irfan.
Para mahasantri ini melakukan persiapan secara intensif selama kurang lebih tujuh minggu dengan latihan rutin. Persiapan dilakukan secara otodidak, meskipun sesekali didampingi oleh Ustadz Washil dari Idariyin.
Meskipun waktu latihan relatif singkat, ketiganya bersyukur atas hasil yang diraih. Selain mendapatkan penghargaan berupa uang pembinaan, piala, piagam, dan merchandise, mereka mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru. “Tentunya yang paling berharga adalah ilmu yang manfaat, pengalaman yang tidak bisa dibeli dengan uang, terus juga yang paling manfaat lagi adalah ilmu baru,” ungkap Ma’sum.
Dukungan penuh dari pimpinan Ma’had Aly, termasuk Mudir, Wakil Mudir, dan Ketua Marhalah Tsaniyah, menjadi penyemangat utama. Irfan mengaku bangga karena pimpinan Ma’had Aly menyempatkan diri menyaksikan langsung penampilan tim debat, meskipun beliau juga bertugas sebagai pembina lomba MQKN cabang internasional.
Baca Juga: Mewakili Indonesia, Mahasantri Tebuireng Habib Yusra Sabet Juara 1 MQK Internasional
Pewarta: Zulfa
Editor: Sutan
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

