Pesantrenku Bisa Bicara | Tebuireng Online

Pesantrenku Bisa Bicara | Tebuireng Online


Ilustrasi pesantren (sumber: ist)

Diagnosa
Kemarin dunia masih baik-baik saja
Kurasa tak ada janggal yang mengeja
Berjuang tenang untuk mengaji
Sekarang, di mana-mana seakan hanya menyulam puji

Jika dibantah, agama yang  dibawa
Lihainya bicara yang bertepuk dada
Tapi tak pernah sedikit pun bertanya
Sedikit pembuktian ditutup sandera!

“Kami titip anak di pesantren ini diiringi sebuah kepercayaan yang kuat, merelakan di jauh sana agar tak jadi anak kualat, pulang dengan senyum lebar dan keberuntungan yang pekat. Tapi mengapa kau kembalikan dalam keadaan tersayat? Jika anak kami nakal dan kau tak sanggup, mengapa tidak dikembalikan sebelum semuanya menjadi gugup?  Jika  melihat anak kami menjadi korban, mengapa kau tidak  gerak pada keadilan? Kami hanya menitip, bukan memaksa.”

Kita tidak sedang bicara tentang jasad kematian
Tapi sebuah label yang meracuni kehidupan
Ketika raga seseorang dibunuh hingga telanjangnya pakaian
Tuntutan keadilan tentu  berjalan

Tapi, ketika anak itu mati dari peran
Anak itu mati dari merekahnya kesehatan
Pernahkah ini dijadikan bahan pertimbangan?
Sudah berapa kali mengecek bullying meremas korban?

Kami sempat bingung
Jika kesan pesantren membuat cemas menggunung
Lantas di mana lagi  mempersiapkan generasi yang mampu menafsirkan sopan?
Jangan salahkan, cukup pahami  … itu suara-suara yang bertabrakan antara kesadaran pentingnya mendalami ilmu agama dengan ricuhnya keadaan

Sejatinya, pesantren tidak pernah mengajar hal yang merusak moral
Seluruh kericuhan bersumber dari tokoh yang kurang ajar
Pada akhirnya, kami tahu satu hal yang menjadi puncak permasalahan
Stadion kerja yang disuntik keserakahan


Prosa
Tuan, berpisah tanpa sebuah kesalahan itu lebih sakit ya
Aku menulis huruf di buku pertama karena sedang jatuh cinta
Tapi sayang, harus kuakhiri huruf terakhir karena prioritas yang berbeda
Aku tetap cinta walau kita tak lagi bersapa

Sesuatu yang sengaja diakhiri tidak pernah benar-benar berakhir
Sesuatu yang sengaja dilupakan tidak pernah benar-benar terlupakan
Aku mencintaimu tanpa dilantik pesona
Kau istimewa tanpa hiasan apa-apa

Orang-orang bilang kita seperti induk burung yang keluar masuk sangkar membawa makanan
Mau keluar sejauh alur dunia
Kamu dan aku tetap kembali pada rumahnya
Mungkin suatu saat rumah itu akan sama

Aku tidak akan pernah memaksa diriku untuk melepaskan atau pura-pura rela
Ketika Tuhan masih menaruh rasa ini untukmu, aku berjanji untuk tetap merawat, memberi makan, mengajaknya bercanda, mungkin juga berdansa
Dalam sujud kumandikan ruang rindu yang menjadi persinggahan utama
Belajarlah yang tenang di sana dan aku pastikan perawatan ini memberikan laba


Perasa
Untuk semua perempuan yang digulung rasa
Perempuan memang perasa
Jangan lantang-lantang mengakui dusta
Biarkan tulang rusuk jujur berkata

Jika kamu biarkan dia retak
Bagaimana bayimu bisa tenang dalam berdetak
Di perut, di punggung, semuanya adalah lintasan
Jaga baik-baik, Puan!

Bayi itu belum datang sekarang
Tapi siapa yang tidak terbayang
Dari lahir, tulang rusukmu sudah dipesan
Jangan khianati perjanjian yang telah menjadi kesepakatan!

Apakah hanya renta yang selalu menjadi bukti peristirahatan?
Jika iya, kamu sudah masuk perangkap pembodohan
Keluarkan mantra manis itu
Pelan-pelan, tapi selalu


Daksa
Pesantrenku itu bisa bicara
Pesantrenku itu bisa membaca
Pesantrenku itu bisa membela
Pesantrenku itu bisa menghancurkan siksa

Dia bukan sekedar bengunan, tapi tubuh
Menggiling kelopak dendam sampai meluruh
Mengemban sebuah jalan hingga menyapu kawasan keruh
Melayani dengan bijak tanpa perbudakan buruh

Kadang, dia memang sakit
Lalu pada saat itu, ia sedikit lemah dalam merakit
Sayang sekali, mencari dokternya tak semudah itu
Imbasnya menjadi  tercemar di seluruh penjuru, padahal sedang sakit, bukan membelenggu

Sedih pastinya
Sakit pastinya
Barangkali kamu tahu dokternya
Tolong, bawa dia untuk pesantren tercinta

Biar sembuh dan kembali cetar membahana
Biar di pelosok akan kudatangi tempatnya
Biar kecil akan kutimang-timang anaknya
Biar jahat akan kujahit senyapan aibnya

Aku… memberi ruang orang-orang jahat untuk pulih!
Aku… memberi ruang orang-orang tertindas untuk bangkit!
Sebuah pengakuan, bukan penghakiman
Sebuah rangkulan, bukan tekanan



Penulis: Azizah Bounty
Editor: Rara Zarary

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *