Pesantren Sains Tebuireng Gelar Maulid Nabi, Santri Diingatkan Pentingnya Hal Ini

Pesantren Sains Tebuireng Gelar Maulid Nabi, Santri Diingatkan Pentingnya Hal Ini


KH. Ghozi Rofiudin saat menyampaikan maui’dhoh hasanah di acara peringatan maulid nabi yang diadakan oleh Pesantren Sains Tebuireng, Selasa, (9/9/2025). Foto: Pewarta

Tebuireng.online- Pesantren Sains Tebuireng menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw 1447 H pada Selasa, (9/9/2025). Acara berlangsung meriah sekaligus khidmat di Masjid Shalahuddin Al-Ayyubi, dengan dihadiri Kepala Pondok Ustadz Arif Khuzaini, Gus Abdul Mughni, para pembina, dan seluruh santri SMP Sains Tebuireng.

Kegiatan dimulai dengan penampilan santri SMP berupa pembacaan puisi dan lantunan Al-Banjari Putri yang penuh semangat. Setelah itu, jamaah bersama-sama melantunkan zikir istighatsah yang dipimpin langsung oleh Ustadz Arif Khuzaini. Suasana semakin syahdu saat penampilan Al-Banjari Putra dilanjutkan pembacaan Maulid Diba’, yang di dalamnya terdapat sesi mahalul qiyam. Kehadiran para pembina dan keluarga besar pesantren menjadikan momentum ini kian bermakna.

Puncak acara diisi dengan maui’dhoh hasanah oleh KH. Ghozi Rofiudin. Dalam nasihatnya, beliau mengingatkan pentingnya kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw serta kewajiban menjaga adab terhadap orang tua dan guru. KH. Ghozi menegaskan bahwa ada tiga golongan yang tidak akan dapat melihat Rasulullah Saw kelak di akhirat. Pertama, anak yang durhaka kepada orang tua. Menurutnya, orang tua dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam: yaitu orang tua biologis, orang tua yang menikahkan kita (mertua), dan orang tua di sekolah atau pesantren yang mengajarkan ilmu.

Beliau mengutip firman Allah dalam Surat Al-Isra’ ayat 23:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Majalah TebuirengIklan Tebuireng Online

Artinya: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”

Kedua, orang yang meninggalkan sunnah Nabi Saw. Ketiga, mereka yang tidak bershalawat ketika nama Rasulullah disebut. Kiai Ghozi juga menekankan bahwa shalawat bukan sekadar bacaan, melainkan bentuk cinta dan ikatan ruhani kepada Nabi Muhammad Saw.

Ceramah beliau semakin menarik ketika diselingi dengan tantangan berhadiah bagi para santri. Peserta yang mampu me-review materi ceramah atau melanjutkan ayat Al-Qur’an secara hafalan diberi apresiasi khusus. Hal ini membuat suasana pengajian terasa interaktif sekaligus memotivasi santri untuk lebih berani dan percaya diri.

Perayaan Maulid Nabi di Pesantren Sains Tebuireng tidak hanya menjadi ajang memperingati kelahiran Rasulullah, tetapi juga sarana pembinaan akhlak dan spiritualitas santri. Melalui tausiyah KH. Ghozi Rofiudin, para santri diingatkan tentang pentingnya birrul walidain, istiqamah menjalankan sunnah Nabi, serta memperbanyak shalawat. Momentum ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta yang lebih mendalam kepada Rasulullah Saw sekaligus memperkuat ikatan santri dengan nilai-nilai keislaman yang diajarkan di pesantren.

Pewarta: Alfiya Hanafiyah

Editor: Sutan



Wisata

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *