
Tidak sedikit kita temui ungkapan bahwa dakwah dan politik adalah dua kubu yang berbeda dan tidak akan mungking bisa bertemu dalam satu kesatuaan guna mencipatkan kolaborasi yang baik. Anggapan di atas, sejujurnya berangkat dari bagaimana para politikus yang menyajikan prihal politik sebagai sesuatu yang kotor, dengan menghalalkan berbagai cara guna mewujdukan kepentingan semantara.
Sedangkan dakwah, oleh masyarakat dianggap sesuatu hal yang sakral sekaligus suci untuk bisa mensyiarkan pesan-pesan agamasehingga tidak diperkenankan dicapuri hal-hal yang berkaitan segala bentuk macam apapun, yang dapat menodai kesucian dakwah tersebut, yakni salah satunya adalah persoalan politik.

Padahal Dakwah dan politik merupakan bagian penting dalam memahami bagaimana agama dan pemerintahan saling berhubungan dalam membentuk tatanan sosial dan moral masyarakat. Dakwah, sebagai ajakan atau seruan kepada umat untuk mengikuti ajaran agama, sering kali tidak terlepas dari dimensi politik, terutama dalam konteks negara yang melibatkan agama sebagai salah satu elemen pembentukan kebijakan publik.
Baca Juga: Keistimewaan Garis Keturunan Kiai dalam Menunjang Popularitas Dakwah
Pembahasan tentang dakwah dan politik perlu dilakukan karena keduanya memiliki peran yang signifikan dalam mempengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam konteks sosial, politik dapat memfasilitasi atau menghambat dakwah, tergantung pada kebijakan pemerintah yang terkait dengan kebebasan beragama dan berpendapat. Sebaliknya, dakwah dapat menjadi instrumen penting dalam membentuk persepsi dan perilaku politik masyarakat. Oleh karena itu, memahami hubungan antara dakwah dan politik memberikan wawasan penting mengenai bagaimana ajaran agama dapat diintegrasikan dengan proses politik dalam rangka mencapai kesejahteraan masyarakat yang lebih luas.
Karena pada dasarnya dakwah adalah sebuah seruan mengajak kepada hal-hal kebaikan sebagaimana yang telah diterangkan dalam Al-Qur’an di surah Al-Imran ayat 104 yang berbunyi;
Contents
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya: “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
Di Indonesia sendiri, sebagai negara yang mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam, teryata para mubalighnya tidak banyak yang turun langsung dalam dunia percaturan perpolitikan guna syiar agama pada lini tersebut. Sekalipun ada hanyalah hitungan jari saja, dan salah satunya adalah sosok mubaligh dari Lombok yakni Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Majdi.
Profil Singkat Muhammad Zainul Majdi
Muhammad Zainul Majdi lahir dari keluarga tokoh Islam di Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi mencoba mengi- kuti jejak kakeknya sebagai tuan guru bukan hanya sedekar tuan guru saja. Dia menjadi Gubernur termuda di Indonesia dengan mencatat Museum Rekor Indonesia atau yang di singkat (MURI) yang telah memberi penghargaan Gubernur termuda kepada Muhammad Zainul Majdi, karena ketika dilantik sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 17 September tahun 2008, pada saat itu usianya baru menginjak 36 tahun tiga bulan 17 hari.
Baca Juga: Pendakwah Perempuan sebagai Pilar Perubahan Mengurai Ketidakadilan Gender
Muhammad Zainul Majdi atau yang mashur dipanggil Tuan Guru Bajang, lahir di Pancor, Selong, NTB 31 Mei 1972. Zainul Majdi merupakan putera ketiga dari pasangan HM Djalaluddin dan Rauhun Zainnuddin Abdul Majid. Ayahnya seorang pensiunan birokrat Pemda NTB. Sementara kakeknya adalah tokoh Islam dan pendiri ormas Nahdlatu Al-Wathan. Dalam perjalanan kariernya Zainul Majdi adalah seorang dai yang ia lakukan sejak tahun 1999. Zainul Majdi besar di lingkungan ormas Islam Nahdlatu Al-Wathan bahkan dia pernah menjadi Ketua Umum PB Nahdlatu Al-Wathan.
Perjalanan Dakwah Politik Muhammad Zainil Majdi
Perjalanan kariernya Zainul Majdi dia seorang da’i dan pengajar yang sejak tahun 1999. Dia sendiri seseorang santri yang tumbuh di lingkungan ormas Islam Nahdlatu Al-Wathan, yang bahkan dia menjadi Ketua Umum PB Nahdlatu Al-Wathan. Akan tetapi Zainul Majdi tidak hanya berhadapan dengan jamaah NW saja akan tetapi banyak jamaah lain yang berafiliasi ke NU dan Muhammadiyah. Selain berkecimpung di dunia dakwah dan pendidikan, ia terjun ke dunia politik bergabung dengan Partai Bulan Bintang (PBB) pada tahun 2004, dia menjadi anggota DPR periode 2004- 2009.
Tapi ia tidak menuntaskannya, karena pada tahun 2008 Zainul Majdi maju pada Pilgub NTB dengan restu dari dewan Syura PBB dengan dipasangkan dengan Badrul Munir seorang birokrat, yang mempunyai banyak pengalaman. Muhammad Zainul Majdi terpilih menjadi gubernur NTB periode 2008-2013. Ia menjadi gubernur pada usia 36 tahun. Dengan sebutan yang populer Tuan Guru Bajang karena di usianya yang masih muda dan di anggap sebagai pewaris karismatik kakeknya, TGKH. Zainuddin Abdul Madjid.
Pada Pilgub 2013 Zainul Majdi maju kembali dengan kendaraan politik bersama Partai Demokrat. Dia juga terpilih menjadi ketua Dewan Pengurus Dearah Partai Demokrat Provinsi NTB dan Zainul Majdi pun terpilih kembali untuk periode 2013-2018, men- jadi salah satu gubernur termuda Indonesia yang menjabat dua periode. Zainul Majdi walaupun tergolong muda akan tetapi sudah cukup mumpuni baik dalam organisasi, ataupun perpolitikan, terlihat pengalamannya di pentas perpolitikan cukup bagus, mulai dari menjadi bagian dari DPR RI Komisi X, dan menjadi Gubernur NTB dua periode berturut-turut.
Baca Juga: Gubernur NTB, TGH. M. Zainul Majdi Bersilaturahmi ke Pesantren Tebuireng
Faktor sosio-kultural yang membuat pengaruh tuan guru di NTB sangat kuat suaranya yang signifikan membuat TGB menang pada pemilihan Gubernur pada 2008 dan 2013 hingga saat ini. bahwa tuan guru memiliki pengaruh yang kuat di NTB hingga saat ini. Diantaranya dua faktor yang mempe- ngaruhi kesuksesannya berkaitan dengan faktor sosio-kultutal: me- ngakarnya Nadhlathul Wathan, pengaruh Tuan Guru Pancor sebagai ulama utama di NTB.
Pengalaman demi pengalaman juga dilaluinya, di dalam berorganisasi pernah menjabat Ro’is ‘Aam Dewan Tanfidziyah Pengurus Besar NW, tahun 1999. Ketua Yayasan Pendidikan Hamzanwadi Pondok Pesantren Darunahdlatain NW Pancor tahun 2000. Dan saat ini menjadi Rektor di Institut Agama Islam Hamzanwadi di Lom- bok Timur dan juga menjabat Ketua umum Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) 2018. Secara aklamasi menunjuk TGB untuk menerima amanah sebagai ketua OIAA Cabang Indo nesia didasarkan kapasitas, ketokohan, kharismatik dan prestasi. TGB Zainul Majdi dinilai mampu membawa perubahan dan kema- juan pembangunan di NTB. Bahkan, khususnya kehidupan toleran- si beragama yang sangat baik dan juga konsep pembangunan wisa- ta syariahnya mendapatkan apresiasi luas dari masyarakat dunia internasional.
Aktivitas dakwah menurut TGB Zainul Majdi adalah segala aspek yang ada keterkaitan antara proses dan pelaksa- naan dakwah dan sekaligus berkaitan tentang kelangsungan dakwah. Metode dakwah di artikan sebagai suatu jalan atau cara yang di lakukan untuk menunjang keberhasilan dakwah.
Baca Juga: Memahami Cara Dakwah yang Bijak
Penggunaan metode yang baik dan benar merupakan unsur yang paling penting dalam menunjang proses berhasilnya suatu kegiatan dakwah. Pesan dakwah yang baik jika tidak di dukung dengan metode yang benar tidak akan dapat sampai dan di terima dengan baik. Namun demikian secara esensial al-Quran telah mem- berikan landasan yang baku berkenaan dengan prinsip-prinsip yang harus dibangun dalam berbagai ragam metode dakwah. Prinsip ini diantaranya termuat dalam surat al-Nahl ayat 125 yaitu: hikmah, mauidzah hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan, kemudian teraktualkan dan diperkuat dengan prinsip-prinsip dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah.
Penulis: Dimas Setyawan Saputro
Editor: Rara Zarary
Wisata
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru

